Senin, 23 Juli 2018

Secarik Kilas Balik Eps. 1

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Err.. hai kamu, eh.. hai semua.. sorry pisan baru bisa bercakap sekarang sebab seperti biasa you know lha ya traveller mah pulang pergi bae, mencari ridha Illahi Insyaa Allah. Nah now i will tell you about several things. Hal-hal yang mungkin ridiculous dan membosankan bagi orang lain, but this is very important for me. Tapi udah bisa ditebak lha ya tulisan dan penuturanku selalu hiperbola dan kadang sedikit mellow, because i think that life is just about a second chance, and this all is not only about me. Intinya sih, aku suka bercerita, wkwk..

Empat belas tahun sudah genap perjuanganku di bangku akademik, dan hari ini-dalam suasana mode sepi-aku menatap langit yang jauh membentang dengan serumpun titik redup cahaya mentari di salah satu sudut barat. Udara tak deras mengalir, sepoi-sepoi saja kurasa sudah cukup untuk membuat daun-daun riuh di pohon dan kicau suara hewan terbawa ke telingaku. Dengan seksama ku amati elemen-elemen kehidupan, mataku menembus bumi, pikiranku mencapai mendungnya awan, hatiku bergemuruh bersama angin, terbang di atas sawah yang luas dan berjalan di atas air yang tenang bergelombang. Bersandarlah aku di beranda teduh suatu rumah, dengan memejamkan mata dan menghembuskan helaan nafas yang berat aku mulai menerobos dimensi ruang dan waktu. Menyusuri kembali tapak dan jejak perjalanan hidupku selama tujuh belas tahun terlahir. Sedikit sulit untuk aku susun keping-keping memori masa lalu, ku coba menghitung urut lagi puing-puing mimpi yang telah lama hancur dan bangkit silih berganti. Kepalaku terasa sakit mengingat ini, mungkin karena aku tidak terbiasa menyingkap tabir masa lalu. Tak apa, semua ingatan ini akan ku kubur lagi jika sudah aku tumpahkan pada carik-carik kertas usang. Berharap segala kenangan masa kelam dan indah itu ikut berpindah bersama huruf-huruf yang terpahat. Hufft, wahai jiwa, lepaskanlah..

Desir waktu berhenti di empat tahun silam, saat aku mulai sekolah di SMA N 19 Garut (baca: Smunbay). Sebenarnya tak ada niatan untuk meneruskan sekolah, tak ada tanggapan keluarga bahkan NEM pun terbilang kecil--NEM SMA malah lebih kecil--sehingga makin memantapkan hati untuk berhenti sekolah sampai jenjang SMP. Lantas kemudian? Entahlah, kumaha engke pikirku pendek. Ringkasnya, aku pun mulai belajar sebagai siswa menengah umum di sana. Pulang pergi jaki (jalan kaki) sudah biasa aku lakoni sejak TK dulu, dipotong masa SMP yang tiap harinya harus naik angped saking jauhnya. Maklumlah anak daerah perbatasan. Why i tell this? Karena-suatu hari di masa depan-inilah salah satu hal yang mengantarku pada peristiwa-peristiwa besar dalam hidupku. X-MIA-6, itulah kelas pertamaku. Ada yang salah kurasa karena sejak awal aku memilih untuk masuk di kelas sosial malahan mah kepingin kelas bahasa, jadilah pelajaran pertama yang aku temui adalah matematika. Sekitar 4-8 jam pertemuan perminggu, aku benci yang satu ini sejak dulu, "Arrgh kenapa harus matematika..bla..bla..bla..", gerutu batinku. Untuk mengalihkan perhatian, aku coba mengikuti perekrutan PenOSIS. Daftar mendadak, itu pun karena diajak teman dan pada akhirnya temanku itu malah menghilang di agenda-agenda berikutnya. Like each others, siapa yang tidak takut suasana kelas yang tegang dan penuh dengan kritikan kakak kelas? Aku tak peduli, i just have to be myself. Jadilah nantinya aku seorang troublemaker di sana. Setahun penuh cukup untuk membuatku jadi sosok yang terbuka, memiliki banyak sahabat dan (mau tidak mau) terkenal sebagai bagian dari tim elit PenOSIS '14 yang cukup banyak menarik perhatian warga sekolah. Selain karena proses perekrutan kami yang bisa dibilang cukup 'sadis' juga mungkin banyak diantara kami yang memiliki bakat-bakat nyentrik dan langka-bukan aku tentunya-sehingga nantinya angkatan kami memiliki posisi tersendiri di hati para guru (uluuh sombongnya). Banyak sekali  teman dekat yang aku dapatkan, khususnya di OSIS, teman yang paling klop itu tentulah para cowoknya. Ada Farhan yang sering ngajak pulang bareng, Fajar yang sering bikin coretan bareng, Miftah + Irvan yang selalu jaim, Agung, Yunus, Weni yang narsis banget! Agis yang suka menyendiri, Usep si riweuh, Irpan yang humoris, Wiki yang selalu ontime alias telat, dan tentunya Fauzi yang suka caper tapi selalu ketinggalan. And the thirteenth, aku yang belum mengenali diriku. Selalunya, aku hanya ingin berinteraksi dengan setiap orang yang aku temui. Tak peduli buruk baiknya penilaian mereka tentangku, aku harus hadir dalam hati mereka sebagai orang yang dicintai atau orang yang dibenci. Lewat mereka khususnya PenOSIS, aku jadi cinta matematika. Juga menyukai setiap pelajaran yang diberikan, PenOSIS dalam arti negatif ataupun positif selalu memberi ide-ide dan semangat yang cemerlang untukku. Baru kali ini aku merasakan indahnya persahabatan. Terbukti di kelas X indeks prestasiku (pencapaian akademik) naik, tidak seperti waktu dulu yang bahkan ada nilai 30 di rapor. Nasib baiknya, tak ada yang peduli dengan apa yang aku lakukan. Satu hal yang tak banyak diketahui orang, aku mendapat peringkat 2 di 2 semester karena hasil mencontek. Dari ulangan sampai UKK, tak luput dari contekan. Jadi tak perlu heran kenapa aku tak merasa bangga atas banyak hal yang kucapai. Terbayangkah seberapa jahat dan nakalnya aku waktu itu? Bu Essy dan Bu Ike pun kewalahan menghadapiku, Pak Ridwan apalagi. Aku tak berhenti berulah karena guru BK pun masih baik padaku, aku artikan itu sebagai tanda bahwa aku masih normal-normal saja. Ampuni aku Ya Tuhan..

Tidak hanya terhadap daya intelektualku, pengaruh PenOSIS juga menginfeksi ruang spiritualku. Aku mulai menjalankan ibadah shalat! Walau hanya shalat zhuhur saja karena Ashar sudah waktunya siswa untuk pulang, kecuali jika ada kumpulan tentunya. Awalnya mungkin karena aku malu, tak mampu seperti orang lain yang terbiasa shalat lima waktu dan sekian banyak faktor lainnya. Tapi sejalan waktu beriring aku mulai menikmati proses hijrahku-meski akhir ini ku sadari hijrahku adalah semu-dan senantiasa berhamasah bersama orang-orang pilihan Tuhan, yang sialnya terpilih untuk bersahabat denganku. Banyak sekali keajaiban yang terjadi di masa itu, salah satunya di saat aku terpilih (tanpa seleksi) untuk mengikuti olimpiade sains nasional bidang kimia. Aku tak mau, aku ingin menekuni bidang matematika. Aihh masih nawar lagi.
"Di sini yang ranking 1 sama ranking 2 nya siapa?", guru berkacamata itu bertanya. Aku dan Mira (baca: neneng) pun keluar kelas. Oalah, Bu Elis rupanya.
"Mira ikutan olimpiade fisika ya, rekomendasi Bu Evi sama Pak Iman. Nah Dais maunya apa?"
"Matematika, Bu", dengan ragu aku jawab karena tak menyangka akan mendapatkan penawaran seperti ini. Aku kan bodoh, gumamku. Kalau neneng sudah pasti lha mengambil fisika, karena dia itu one of a genius kind people.
"Kalau Bu Rina nyaranin Farhan dan Bu Sri milihnya Faradilla. Dais kimia aja ya! Pak Yanto bilang Dais bagus kimianya.", rayu Bu Elis.
"Err.. iya deh Bu. Muhun.", Ya Tuhan! Dengan terpaksa aku mengiyakan. Satu hal yang ku ketahui dengan pasti tentang kimia yaitu papan tulis yang selalu penuh dengan simbol-simbol mengerikan disertai penjelasan tanpa jeda. Dan Pak Yanto selalu mengakhirinya dengan pertanyaan, "Jelas? Jelas sekaaliii!"

Suasana perpustakan agak sepi, dan ini untuk kesekian kalinya aku dispen, di sisiku ada Kang Arif Abdul Malik sebagai partner olimpiade kali ini dan di depan kami, tentunya sudah ada Pak Munandar yang berjuluk "Dosen Smunbay". Brr.. seram sejuk rasanya mencoba memahami pemaparan Pak Mun tentang hidrokarbon. Penjelasan yang sangat rinci dan mendalam, padahal aku baru kenal kimia kemarin sore. Apa yang bisa aku pahami, sementara materi kelas X pun masih tentang Kimia Dasar. Tolong aku Tuhan, jerit batinku. Tentang olimpiade dan segala rantingnya, akan ku bahas lain waktu.

Secara garis besar, kelas X adalah masa dimana aku mulai memunguti sepotong demi sepotong siapa dan apa jati diriku sebenarnya. Ada kalimat yang mampu mengubah kepribadianku hingga saat ini, Pak Ridwan si ganteng kalem gede huap berkata, "Karena kadang, Kesulitan membuat seseorang menjadi lebih kuat!". Gayanya yang khas ketika berbicara, tangan bersedekap dan tak jarang berkecak pinggang ditambah pandangan tajam menembus langit kembali meluahkan energi kharismatik kepada orang-orang disekitarnya.

to be continued.

Label: ,

6 Komentar:

Pada 25 Juli 2018 pukul 08.19 , Blogger Unknown mengatakan...

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

 
Pada 25 Juli 2018 pukul 08.21 , Blogger Unknown mengatakan...

Avatar:v
Ngakak yg pas bagian pak ridwan, gede huap wkwk
Teh Ai Teti ya butet th?
Ditunggu kelanjutannya

 
Pada 31 Juli 2018 pukul 10.09 , Blogger Dawud Ismail mengatakan...

apaan ini main hapus komentar uh..

 
Pada 31 Juli 2018 pukul 10.12 , Blogger Dawud Ismail mengatakan...

xixixi avatar teh kan usum keneh dulu mah..
lha kan bapak ngakunya gede huap, ya udah seadanya, wkwk

butet itu Ibu Teti lho bukan Jeremy Tetti, huhuhuu..

 
Pada 2 Agustus 2018 pukul 11.17 , Blogger Unknown mengatakan...

Sok wh geura lanjut, pengen bacaa :D

 
Pada 4 Agustus 2018 pukul 11.18 , Blogger Dawud Ismail mengatakan...

ehh, udah gak nahan ya?
doain wh sing lancar nulis ceritanya ini, huhuu

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda