Sabtu, 04 Agustus 2018

Secarik Kilas Balik Eps. 2

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Takdir adalah hal yang tidak tetap, dimana pun dan kapan pun takdir selalu mampu memihak siapa pun. Dengan kata lain, takdir selalu memiliki dua sisi. Begitu pula dengan apa yang terjadi di dalam hidupku, selalu ada cerita sepi dibalik harunya keramaian yang selalu aku lalui. Namun rupanya akan ku akhirkan ungkapan sepi itu, biar semua jelas apa adanya.  Sekarang akan ku ceritakan satu-satunya masa indah yang telah ku lewati dan ku harap di depan sana masih ada masa-masa indah yang menungguku. 

Waktu itu bulan Ramadhan pertama aku sekolah di Smunbay. Kegiatanku berjalan normal-normal saja, aku membantu kawan-kawanku di Rohis untuk menyukseskan acara buka bersama alumni disana. Sekaligus mempersiapkan diri untuk menjadi tutor MPLS angkatan '15. Singkat cerita, MPLS pun dimulai, banyak sekali siswa-siswi baru dengan berbagai perangai. Seperti biasa, aku menyiapkan mereka di lapangan. Merapikan barisannya agar serapi barisan itik, dan tak jarang memarahi mereka (bukan benci lho ya). Kali ini aku bertugas sebagai seksi peralatan-tiap kegiatan selalu kerja di bagian ini-merangkap tutor gugus lima. Disana aku bekerja sama dengan si mungil Teteh Shofa, Kang Fauji Ridwan dan Teh Risna SM (sebelum masehi :D) membantu "anak-anak kami" beradaptasi dan mengenali lingkungan sekolahnya. Momen-momen di akhir masa bhakti inilah hubungan dua angkatan kami (13&14) semakin membaik. Aku juga sangat bersahabat dengan duet Risna Ayu + Teh Lisda, tentunya karena kekonsistenanku sebagai ahli bergurau dalam segala kondisi. Hingga maklum saja membuat banyak kakak kelas menjauhiku karena jengkel mungkin, tapi tiga orang ini bertipe sama denganku. Bahkan saat sidang pun, aku divonis sebagai seorang yang tak bisa serius dalam kumpulan. Aku bilang saja kalau wajahku tak bisa serius walau dalam mode superius dan kondisi supergawat sekalipun, selalu ada candaan/humor garing yang terselip lewat lisanku. Aku bilang this is me, i am sorry i can't make everyone happy with my stupid act. Pada akhir jabatan seniorku itu, aku terpilih sebagai wakil bendahara umum, menjadi partner Kang Wiki. 

Setelah seminggu dispensasi, kami semua dan kamu kembali pada kegiatan BM di kelas. Aku bahagia saja, aku ditempatkan di kelas XI IPA 6 bersama 5 rekan kerjaku di OSIS. Dengan cepat para coker (cowo keren) di kelasku mendominasi setiap momen belajar dan mampu membuat para guru berkata: Impressive!!
Bahkan alm. Pak Rohadi sempat bilang, kelas anda lebih baik dari kelas XII hari ini!. Proposal perusahaan kami mendapat poin A+ dan tak jarang kami mendapat poin di atas 100, diatas batas maksimal! Atmosfer kelas ini jenuh sekali oleh gas-gas persaingan. Untuk selamat dari perang otak ini hanya ada dua pilihan ketika dua kondisi terjadi. Pertama, jika kami bertemu dalam satu kelompok maka dengan segala kematangan + improvisasi kami mencoba memberikan pemaparan dan penjelasan terbaik. Tak jarang memprediksi pertanyaan-pertanyaan sulit yang akan muncul dari mulut-mulut yang lihai bertutur. Sejauh ini kami cukup berhasil menguasai keadaan dan membuat guru puas dengan jawaban kami, walau tak jarang beberapa jawaban kami mampu menyetuh hati para penanya dan membuat mereka menjadi kikuk + gendok. Kejam sekali tentunya, hingga mampu membuat teman kami enggan bertegur sama waktu itu. Syukurlah hari ini kami semua para personil Garuda (gabungan barudak Pak Hendra) masih bersahabat dengan baik. Keajaiban ini terjadi berkali-kali, bahkan ketika kami lupa mempersiapkan diri untuk presentasi dan tampil secara mendadak pun berhasil membuat seisi kelas terkesan. Intinya adalah sungguh beruntung bekerjasama dengan orang-orang professional seperti mereka. Saking dekat dan kompaknya kami di Osis ataupun di kelas, ternyata kami berhasil menjadi sesuatu yang berpengaruh pada banyak kebijakan diantara para siswa hingga para guru sekalipun. Daya ini disebut dengan kharismatik. Bu Elis pun pernah berkata, "Penosis tahun ini memmiliki susunan yang bagus, seharusnya tiap tahun seperti ini." Pak Daryono malah mencanangkan program perekrutan Penosis hanya untuk siswa yang masuk rank 10 besar saja,"Jadinya kan seperti ini!" ujar beliau setelah merasa cukup puas dengan pencapaian kami selama masa jabatan. Kami hanya mampu memandang dan tersenyum satu sama lain, toh ini semua berkat bimbingan para guru dan kepercayaan para siswa. Kami hanya mengeksekusi saja. Tak ketinggalan pula bahwa ini hanyalah sepercik efek kekuatan berjama'ah. Indah betul perintah Rasulullah agar orang islam sentiasa berjama'ah dalam menyelesaikan masalah, sedikit banyak mampu memudahkan keadaan dan membuat banyak pihak merasa lega. Walaupun mustahil membuat semua orang merasa senang. Padahal Tuhan tahu kami tidak sebaik itu, malahan kami memiliki masing-masing aib dan kekhilafan. Ampuni kami Tuhan, jadikan kami lebih baik dari apa yang orang lain ketahui dan dari apa yang kami sadari. 
Oh ya tak lupa aku sampaikan lagi sesuatu pada kalian, "Terimakasihku padamu, PenOSIS!! c u again in Jannatulfirdaus Insyaa Allah!"

Selama itu pula kami diberi mandat untuk merekrut, membimbing dan membentuk karakter adik kami untuk menjadi sebaik-baik pemimpin. Namun aku rasa kami cukup gagal dalam hal ini, karena pertentangan politik internal di dalam jiwa kami sendiri. Adik-adik kami khususnya angkatan '15 pasti menyadari bahwa banyak sekali petuah-petuah kami yang bertentangan satu sama lain, sebenarnya itu bukan masalah besar. Hanya saja awal dari perpecahan adalah karena tujuan dan kepekaan yang berbeda. Konkretnya, aku dan 25 temanku memiliki solusi masing-masing untuk tiap 1 masalah yang kami hadapi. Bayangkan saja, jika kita memiliki 1 masalah dan 26 solusi, dan ada 26 kepala berbeda disana. Maka kapan kami mampu mencapai kata sepakat? Betapa hebatnya konflik ideologi saat itu, membuat banyak orang ingin keluar dan memang sebelumnya banyak yang mengundurkan diri dari kepengurusan. Aku sendiri memilih bertahan karena aku punya misi rahasia di OSIS dan aku terlanjur menyayangi mereka semua (penosis angkatan 14&15) sebagai satu keluarga utuh, bukan hanya sebatas teman. Dan semua orang juga tahu di akhir jabatan kami, meski berakhir damai namun banyak luka yang tak sempat disembuhkan dan meninggalkan jejak untuk adik-adik kami. Akibatnya, banyak dari teman-temanku bahkan diriku takut untuk kembali berorganisasi lagi hari ini.

Back to the topic, pada masa perekrutan itu hal unik pun terjadi. Seperti biasa di Osis itu aku selalu menjadi "panembleuhan" atau orang yang kena batunya. Waktu itu aku dan Teh Fitri Lutfiani dipaksa untuk menyampaikan materi tentang Osis kepada adik-adik kami, padahal sebelumnya tidak ada pemberitahuan sama sekali. Akhirnya kami pun menyampaikan semuanya apa adanya seingat kami, berupaya untuk tidak membuat senior kami kecewa. Keinginan kami waktu itu adalah menerima semua calon penosis 15, tapi apalah daya kelas XII-lah yang memutuskan. Hingga akhirnya tiap tahun selalu ada orang yang dianggap tidak layak sebagai Penosis. Padahal menurut kacamataku, Osis adalah tempat bagi semua orang dengan latar belakang beragam. Tempat untuk berhijrah dan bertransformasi. Bukan tempat untuk menghakimi seseorang, biarlah nanti semesta akan menyeleksi kami secara alami. Terbukti dengan adanya satu dua penosis yang DO ataupun mengundurkan diri di tengah jalan, intinya karena mereka merasa tidak sesuai dengan lingkungan Penosis. Ah, ngelantur. Satu hal lagi yang tak akan ku lupakan, seperti kebanyakan orang di Indonesia setelah berkumpul pada suatu acara mereka akan bermushafahah. Sebenarnya sih mushafahah itu sangat dianjurkan di kalangan akademisi karena banyak keutamaan dan pahalanya, namun malah banyak penyimpangan yang terjadi disana. Salah satunya bersalaman dengan seseorang yang bukan mahram, aku mau saja untuk mengikuti aturan itu tapi aku takut dimarahi mereka yang mungkin akan merasa tersinggung jika aku tidak mau "menyentuh tangan" mereka. Jadilah aku urungkan niatku itu. Hingga pada suatu ketika, dengan salam khas Penosis aku bersemangat menyalami adik-adikku itu. Namun ada satu orang yang dengan 'kurang ajar'nya tidak mau menyalami tanganku, malah menundukkan wajahnya dan hanya melihat jas istimewaku. Kok gendok banget sih! Aihh aku dibuat "mati kutu" sekaligus menyadari bahwa inilah tamparan Tuhan untukku. Kenapa harus lewat adik kelas, pikirku? Sejak saat itulah aku tidak pernah melepaskan namanya dari otakku. And she is Vanesha Agnestika Taufiq (baca: neng geulis panutan akang), tapi seringnya dipanggil Anesh, bacanya gak pake tasydid. Baru aku tahu banyak dari mereka (adik-adikku) yang dengan tegas mencoba menaati sunnah Rasulnya tanpa kecuali. Aku tentu saja langsung setuju, seringkali aku tidak bisa berkompromi lagi jika sudah berkaitan dengan aturan Tuhan. Jadilah seketika aku tidak mau menyentuh kulit ataupun tangan wanita yang bukan mahram walau dalam banyak kesempatan aku sangat terpaksa melakukan itu. Sebenarnya, saat proses perekrutan itu ada wajah-wajah yang sudah ku kenali seperti Ramdan, Rifqi dan Alya. Karena mereka adalah juniorku dulu di gugus lima, yang lain? I don't know and i don't care! Meski pada akhirnya merekalah adik yang paling aku cintai.
 Hmm, jika berbicara tentang kondisi kedua di kelasku maka rasanya aku malas membahas ini. Betapa tidak? Ketika semua Penosis tidak sekelompok maka di saat presentasi ataupun pemaparan tugas yang mereka selesaikan akan ada debat kusir yang berkepanjangan. Seakan-akan dunia hanya milik kami yang tak tahan untuk berbicara. Suasana pun menjadi agak canggung dan tak enak dirasakan. Beruntung kami memiliki slogan ampuh untuk mengatasi ketengangan seperti itu. Apalagi kalau bukan: Cinta! Saat konflik emakin tak terhindarkan maka salah satu dari kami akan menyelipkan kata cinta pada tiap argumentasinya. Mungkin hal ini membingungkan dan tak terbayangkan. Tapi percayalah, semua kembali menjadi indah..

Oh ya satu lagi, like i said kalau di masa SMA para siswa seringkali mulai merasakan ketertarikan kepada lawan jenis. Ada yang mengekspresikannya dengan berpacaran. Ada yang menjadi josh atau jofisa. Ada pula yang malah menghiraukan semua perbuatan si hormon itu. Dan banyak lagi yang jika aku bahas akan menghabiskan tintaku. Aku hanya ingin terus terang atas sesuatu yang kau tanyakan, tentang bunga melati yang pernah tumbuh di hatiku. Yaa, just like each others. Aku pernah menyukai beberapa wanita tapi disukai banyak wanita. wkwk pengennya. You know 'kan Butet? ya, ketua sekbid 4 waktu itu. Dia pernah tertarik padaku. Dan secara tak sopan aku kurang menghargai perasaannya karena aku masih menyukai kakak kelasku. Bukan cinta, hanya suka. hehee.. Teman-teman yang lain juga pernah menyimpan ketertarikan padaku. Tapi ya semua aman-aman saja karena ketika aku menyadari perasaan mereka langsung saja aku klarifikasi karena tak ingin membuat mereka terlalu kecewa. Dan satu lagi hal unik, seperetinya terlalu banyak kata unik yang aku tulis disini. gak apa-apa lha ya kehabisan kata-kata sih.. yaitu tentang kamu. Ya, sohib-sohibku sudah memprediksi bahwa aku dan kamu bla..bla..blaa suatu hari nanti. Saat istirahat di koridor kelas, dan kami mendapati kamu sedang berjalan di bawah sana. Maka automatically bahasan langsung tertuju padaku dan padamu. Padahal aku belum tahu siapa kamu, tapi gaya tarikmu begitu kuat. Dan rupanya comblangan dan candaan mereka membawa kita pada kisah ini di hari ini. Sungguh takdir yang indah dari Tuhan yang Maha Indah.

To be continued..

Label: ,

6 Komentar:

Pada 7 Agustus 2018 pukul 16.56 , Blogger Unknown mengatakan...

Happy is simple, when u were gendok it was happy for me wkwkwk

 
Pada 8 Agustus 2018 pukul 10.10 , Blogger Dawud Ismail mengatakan...

ehh tidinya teh akang jadi punya misi jahat lho, wakakak

 
Pada 8 Agustus 2018 pukul 18.04 , Blogger Unknown mengatakan...

Nah gak boleh.. Mhehe

 
Pada 12 Agustus 2018 pukul 10.49 , Blogger Dawud Ismail mengatakan...

walaah sekali jalan misinya gak bisa dibatalin nih..
kenapa bilang "gak boleh" nya baru sekarang?

 
Pada 12 Agustus 2018 pukul 14.45 , Blogger Unknown mengatakan...

Kela misi jahat kmh ieu th???

 
Pada 13 Agustus 2018 pukul 10.08 , Blogger Dawud Ismail mengatakan...

nggak, ada deh.. huhuu

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda