Minggu, 12 Agustus 2018

Secarik Kilas Balik Eps. 3

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Suasana Ruang Osis sedikit riuh, usai agenda perekrutan Penosis baru kami para pengurus lama (baca:senior) pun akan segera membubarkan diri setelah evaluasi dan mufakat. Seperti biasa di momen-momen seperti ini aku berbincang-bincang dengan Teh Lisda ataupun dengan Penosis lain, sekedar menanyakan kabar dan suasana di hari-hari lalu itu. "Gimana perkembangannya?", tanya Teh Lis padaku. "Ya.. Alhamdulillah sih adik-adikku di X-5 cukup layak menjadi Penosis. Gimana dengan X-6?", tanyaku balik. "Hmm.. ya ada Vanesha sih, cuma dia satu orang yang daftarnya juga", tambahnya. Oalah rupanya ekspektasiku untuk menambah jumlah pengurus dari X-6 harus stop sampai disini, gumamku. Siapa Vanesha? aku tak tahu! Gadis lugu berkacamata itu,, kesan awal yang takkan ku lupakan,, yang jelas, dialah satu-satunya.. Dan kurasa itu istimewa.

***

Beberapa waktu berlalu, tak kurasa hari-hari telah ku lalui di kelas XI ini. Saat guru absen, atau saat istirahat aku dan beberapa sahabatku seringkali menatap langit di teras kelas. Kebetulan kelasku ada di tingkat dua, jadi siswa di kelas kami beruntung mampu memandang lebih dekat pada agungnya gunung dan langit. Selain Irvan dan Miftah ada juga "para wanita" yang menemani kami merenung disana. Mereka sahabat kami, keluarga malah. Usi dan Sri ataupun Ega dan Lusi, senang sekali "bermeditasi" bersama kami. Ditambah obrolan ringan dan hangat, serta sebotol susu Indomilk di tangan. Saat-saat yang sungguh indah dinikmati saat pagi menjelang siang begini. Apalagi kebiasaan kami yang jarang melepaskan jas Osis saat sekolah, panas dan gerah pun hilang sudah. Di antara banyaknya obrolan asyik kami ada satu hal konyol yang aku ingat, ketika itu kami sedang bersama Usi. Sambil iseng mengamati dan mengomentari orang-orang dibawah, Usi bertanya padaku.
"Dais, sebenarnya kamu teh pengen istri siga saha?"
"Bu Elis lha, jhahaa...", aku berkilah dalam candaku.
"Dingin dan cuek tapi bikin sejuk di hati", batinku.
Mif dan Irvan pun ikut tertawa, apalagi Usi. Dia selalu tertawa ketika berbicara, hyperaktif punya rupa. Bukan tanpa alasan Usi bertanya seperti itu, ia heran saja mungkin. Selama 10 tahun satu kelas tak pernah sekali pun aku mendekati wanita alias modus, atau sekedar mengungkapkan rasa sukaku. Sementara Mif dan Irvan sudah sangat rutin di gosipkan telah menemukan cinta sejati mereka. Usep dan Wiki, mereka malah yang terdepan dalam hal "ngabaperan" istri. Kami, tim inti alayers banyak belajar dari dua pelopor agen cinta itu, anggota 4 dan 5 alayers kami. Bukannya aku tak tertarik, tapi ya memang aku termasuk tipe orang yang "amat susah jatuh cinta" atau bahkan belum sampai usiaku-sekitar 15 atau 16 tahun-untuk merasakan hal-hal demikian. Tapi untuk menutupi hal itu, berjuta kali aku mengatakan kepada orang-orang kalau banyak wanita yang aku suka. Nyatanya, nihil sih. Sebenarnya selama itu tak ada sekuntum bunga pun yang mampu membuatku menghinggapinya. Meski tak ku sangkal banyak sosok rupawan yang pernah menyatakan ketertarikannya padaku. Dan itu terjadi dari dulu. Hingga Usi pun kembali bertanya dalam candanya,
"Ohh siga Bu Elis, Vanesha nya? Tuh mirip Bu Elis! Hwakakak..", tunjuknya pada Neng yang sedang berjalan di sekitar lapangan. Agak jauh dari kami, suasana pun ricuh seketika. Tak ku sangka wajahku memanas, tidak terima aku dituduh seperti itu, ada rasa malu di hati.
"Siaduh Vanesha, wawuh ge henteu, nya lempeng deui eta mah.." sangkalku dengan logat khas alayers mencoba menyingkirkan semua perasaan aneh di hati. Namun Usi mampu saja membuatku gendok setengah mati, hingga aku hanya bisa tersenyum simpul, ya mungkin saja pikirku. "Seperti dia"-lah kira-kira, aku tak menampik. Usi tak berhenti sampai disana, sambil cungar cengir dia berusaha membunuhku,
"Ahh ngaku weh lha! Dais resepnya? Bae ih da resepeun korea Vanesha mah.", terangnya tanpa ku pinta. Lha mana nyambung tho? aku menyukai India dan dia? err.. dengar Usi dan Tilvi cs. berbahasa Koer pun membuatku mengernyitkan dahi ala ummi, ora reti aku. Apalah Usi ini, seenaknya saja menghakimi keangkuhan hatiku, menegaskan fatwa bahwa aku mencintainya dengan mutlak! Oh Tuhan, ampuni aku. Satu hal yang membuatku tak habis pikir hingga sekarang adalah bagaimana bisa dengan sekali tebak sekali ucap dia mampu mengurai seuntai nama di kepalaku menjadi alunan lisan yang menggetarkan jiwaku? Lagipula aku tak pernah menulis Diary seperti Kang Wiki ataupun Surat Cinta seperti Kang Usep, intinya karena hatiku selalu angkuh dan tak pernah percaya diri untuk urusan seperti ini. Dan waktu itu aku belum mengenal Neng, hanya tahu dia Penosis, kelas X-6, berkacamata dan pendiam. Tak lebih, lalu bagaimana bisa aku tak berdaya untuk menolak fakta itu? Bagaimana bisa aku "mencintai"-nya bahkan sebelum aku mengenalnya? Dan otakku, mengapa engkau terus memikirkannya, hah? Pentingkah ia untuk kau pikirkan?!. Ya, lewat sedikit peristiwa-peristiwa kecil itulah bunga mawar mulai tumbuh di hatiku.

***

Hidup itu seperti cawan. Jika tak terisi oleh air ataupun dibiarkan kosong maka pastilah ia akan di isi oleh udara. Jika hidup tak dipenuhi dengan kegiatan produktif, niscaya dipenuhi oleh kegiatan yang negatif. Itulah pandangan guruku, seseorang di negeri jiran. Bagi beliau untuk menyalurkan perasaan-perasaan yang mulai tumbuh di hati, para remaja haruslah mampu mengalihkan perhatian otak mereka untuk melakukan kesibukan-kesibukan yang positif. Sehingga untuk sementara atau bahkan untuk jangka waktu yang lama hal itu akan meredam dahsyatnya aliran hormon-hormon pubertas, meski seringkali tak mampu menghapus kecenderungan di hati. Ustaz Adi Hidayat pun pernah bilang jika beliau menikahi seseorang yang beliau sukai sejak 7 tahun yang lalu. Hal ini menunjukan indirect proof bahwa ada beberapa kecenderungan hati yang mampu bertahan lama, tak hilang meski dipisah waktu dan benua. Some people called that as "Chemistry". Bukan dalam artian Kimia, tapi dalam arti suatu kecenderungan di hati. Kecenderungan dalam satu fase, satu gelombang, beresonansi dan berinterferensi secara maksimum. Seseorang tinggal memilih untuk meyakini atau mengingkari keyakinan itu, dan mengelola perasaannya dengan baik dan "nyeni". Selanjutnya, biar Tuhan yang putuskan. Aku sendiri memilih untuk tidak memedulikan hal itu, lebih baik aku memantaskan diri dan totalitas dalam belajar. Hasilnya, aku menduduki ranking 2 di sekolahku. Ku akui fokusku cenderung ke arah akademik, sehingga memang benar perhatianku sedikit banyak teralihkan. Dengan menjadi direktur sekaligus CEO untuk tugas-tugas kelompokku, mengikuti olimpiade Matematika, English, Kimia dan sebagainya ternyata mampu membuatku lupa dunia dan hanya memikirkan ilmu-ilmu eksakta serta kemajuan organisasi. Suasana di kelas yang dinamis dan eratnya ikatan keluarga di kelasku juga ikut menggeser kecenderungan itu. Dengan banyaknya kejadian unik, baper, menyedihkan dan mengesankan tentulah memengaruhi hatiku untuk sesaat beristirahat dari menumbuhkan harap dan imannya akan "cinta". Sinergi yang terbentuk saat memresentasikan diskusi kelompok, atau bahkan saling berargumen ketika tidak satu kelompok bersama rekan-rekan Penosisku pun tak mau kalah menghiasi ruang-ruang di hatiku. Suasana beruntung dan suasana tak mendukung banyak sekali hadir silih berganti kala itu, benar-benar salah satu masa krusial dalam hidupku. Jejak-jejak perjuangan nampak jelas di sana, bersamaan dengan terbentuknya ikatan keluarga baru lalu mungkin diiringi dengan cinta pada akhirnya.

***

Akhir tahun ajaran pun tiba, biasanya di saat seperti ini kami Pengurus Osis sering mengadakan acara Porak atau Porseni. Berhubung kali ini waktunya bertepatan dengan bulan Ramadhan. Maka dengan banyak inovasi dan pertimbangan kami mengadakan kerjasama dengan Rohis untuk melaksanakan Program Instagram. Dengan Kang Jun Mul sebagai ketua pelaksana, dan teman-temannya sebagai panitia pelaksana. Aku? tentulah dengan beberapa sahabatku menjadi penasehat seperti tradisi kakak angkatan kami dulu, juga menjadi Master of Ceremony pada salah satu kegiatan Instagram. Bersama Kang Irvan Fatuloh dengan sebutan McCouple/MCouple/DuoAceng. Ciri khas kami? Apalagi jika bukan berkata puitis dan bersikap romantis? Buktinya? We have a lot of fans hingga sekarang, duhh GR-nyaaa. Aku juga dipercaya sebagai pengukur arah kiblat di lapangan untuk pelaksanaan Dhuha Akbar, walau aku takut sekali perhitunganku itu keliru. Tapi dengan bantuan Kang Agis Nur aku merasa sedikit lega. Entah aku sedang apa waktu itu, aku lihat Kang Faj sedang mengetik dan mengotak-atik lappy-nya serta mengajarkan Neng perihal dokumen-dokumen yang diperlukan untuk melaksanakan program kali ini. Aku hanya mengobrol sekilas dengan Kang Faj, lepas itu aku pergi karena ada rasa linu di hati, di jantung sih sebenarnya. Dengan Neng aku tak bercakap, hanya tersenyum karena aku memang tak mengenalinya. Bahkan rasanya kami tak pernah bercengkarama. Hari demi hari berlalu, aku sibuk dengan tugasku membantu adik-adikku dan aku semakin sering bertemu sosoknya. Sosok yang kembali hadir setelah musim dingin mengabadi di hatiku. Walau hanya bertatap mata dan mengeluarkan sepatah dua patah kata, saat di dekatnya selalu ada sensasi aneh di jantungku. "Ciyus nih dais jantungan?" hiburku untuk diriku sendiri. Sesungguhnya aku sudah "mundur" dan "menghapus" segala memori tentangnya ketika aku tahu salah satu sohibku juga "menyukainya". Tepatnya sih banyak sohibku yang menyukai dirinya, sehingga aku kembali normal dan tak berperasaan lagi seperti saat-saat sebelumnya. Aku memilih untuk tidak melakukan apa-apa dan begitu saja melepaskan perasaan itu karena aku tahu dan sadar bahwa pastilah sohib-sohibku itu bukan tandinganku dalam banyak hal. Mereka shalih, tampan, mapan dan cerdas. Aku? sejak kecil sering mendapati kenyataan bahwa aku hanyalah orang kedua atau cadangan dan pengganti teman-temanku. Seseorang akan berteman atau dekat denganku jika ia memiliki keperluan dariku ataupun ketika mereka "terpaksa" menghubungiku karena suatu urusan. Setelah itu? Aku kembali sendiri. Jadilah aku sentiasa menganggap diriku tak bisa dibandingkan dengan siapa pun karena aku memang bukan siapa-siapa. Ini salah satu jawaban singkat mengapa aku kerap menduduki peringkat 2 di kelas? karena aku tak yakin dan merasa mustahil jika aku lebih baik dari sohib-sohibku. Hingga sekarang aku selalu berpikir bahwa mengungguli kualitas teman-temanku adalah hal yang tidak mungkin. Ketika aku hendak maju dan menggapai mimpiku, selalunya aku berhenti atau kadang malah memberikan kesempatan dan bantuan pada teman-temanku untuk menggapai mimpi itu. Sesuatu yang ku rasa aku tak layak mendapatkannya. Tak terkecuali dalam hal "perempuan", ya... pada faktanya aku tak pernah mengajukan diriku untuk dicintai siapa pun. Cause i know who i am, banyak aib dan cacatku (ini serius banget lho, aku banyak aibnya). Dan hari pertama pelaksanaan Instagram pun tiba. Seperti biasa, pagi-pagi sekali aku sudah berada di sekolah untuk menggelar sejadah, mengutak-atik sound system serta menyiapkan berbagai hal. Mentari pun menjelang naik, walau masih hanya sejengkal. Sejuk kurasakan, daun di pohon pun berembun. Tanda hari baru dimulai, sinar-sinar jingga menembus pagar dan menyentuhku. Sejenak aku kembali mengurusi alat-alat ini, dan terbungkuk di belakang tiang bendera. Sesaat kemudian aku tatap sesuatu di seberang lapangan sana, ada sosok yang membuatku terpana. Dengan balutan kain kudung merah mudanya dia berjalan di koridor. "Sungguh jelita! Oh Tuhan, diakah bidadari surgaku?", penuh harap aku menatapnya sayu di kejauhan. Membuang semua harap dan iman yang bermunculan saat itu, menyadari fakta bahwa banyak orang shalih di luar sana yang menyimpan rasa suka padanya. "Ah, pada akhirnya aku hanyalah sesuatu yang kalah..", ridha hatiku saat itu juga. Kata-kata yang mengukir luka di hati nurani namun tak kunjung menghilangkan rasa di jiwa. Aku mohon pada Allah untuk menjauhkanku dari dirinya dan menghilangkan segala fitrah di hati. Malang nian nasibku, di hari-hari baru Tuhan malah sentiasa mempertemukanku dengannya dan menusuk-nusuk jantungku yang bisu dengan tetes-tetes hujan cemburu.

 ***

Hari itu aku mulai menjejakkan kakiku di kelas XII, IPA 1 tepatnya. Namun seperti biasa setiap pergantian tahun ajaran baru aku dan sohib-sohibku di Osis harus menjadi tutor atau siswa teladan yang bertugas untuk membimbing dan membantu para siswa baru atau adik kelas dalam beradaptasi dan berperilaku di lingkungan sekolah mereka yang juga baru. Kami berkumpul di ruang Osis, sedang berdiskusi mengenai pembagian tugas dalam kepanitiaan sambil mempersiapkan diri untuk check and recheck data siswa baru di gugus-gugus yang terbentuk tahun ini. Suasana di ruang Osis memanas, bukan hanya karena cuaca atau karena banyaknya karbondioksida di sana. Namun karena salah dua sohibku, Kang Faj dan Kang Fauji kurang konsisten dalam memutuskan peran mereka di MPLS kali ini. Sehingga membuat beberapa rekan wanita merasa kesal. Kang Agung yang saat itu sedang berada di dekatku berbisik padaku sembari tersenyum khas, "Alaah ieu mah tos katebak hoyong sareng Vanesha, jhaha..", aku sendiri tersenyum singkat dan permisi untuk mengurusi arah kiblat lagi untuk pelaksanaan Dhuha Akbar untuk hari-hari esok. Entahlah, aku hanya tak ingin membuang waktuku menyaksikan ocehan-ocehan ringan sohibku tentang penempatan tugas, lebih baik aku mengerjakan tugasku. Meski aku tak habis pikir, begitu pentingkah bagi mereka untuk berada dalam satu tugas/kelompok bersama orang yang mereka sukai? Tentu iya bagi mereka. Toh dulu aku sendiri yang disuruh untuk menanyakan posisi apa yang ingin di tempati Neng kali ini-saking pusingnya Kang Irpan mengamati debat kusir aneh itu-dan Neng pun ingin menjadi seorang tutor di gugus 3. Ah, itulah anak SMA. Selalu saja ada sifat kekanakan yang membumbui kisah mereka. Siang pun menjelang, secara mendadak aku dipanggil Kang Irpan Jalal dan diminta untuk menjadi tutor dadakan di gugus 11, bagaimana tidak mendadak? Keputusan diberikan beberapa jam sebelum check dan recheck dilaksanakan.
"Hampuranya Mang Dais kedah berperan ganda, soalna abi ge teu terang gugusna bakal aya 11. Ieu mah diluar perkiraan.", ujarnya sambil menatap lappy.
"Nya sok wh Kang, gak apa-apa. Sareng saha?", tanyaku.
 "Sareng Teh Sasnis,,, Teh Lisna,, terus Teh Vanesha.." jawabnya pelan.
What the.. Oh My God, why me? 2 orang pertama aku tak masalah. Satu orang terakhir ini yang membuatku heran. "Sasnis sama Lisna iya ngerti. Lha kenapa harus dengan Anesh, 'kan udah punya job dia mah?"
"Nya Mang hampura, ieu teh ku abi disesuaikeun jumlah pameget + istrina, biar seimbang. Terus kumaha tuh? da ngadadak sih..", keluhnya.
"Tapi itu mereka lho, kan parebut gitu ti basa eta hoyong sareng Anesh. Derr teh baeud ka abi.", jelasku husnuzhan.Ya, aku sih ro popo. Up to you.
Siang pun tiba. Aku masuk ke gugus 11 tanpa persiapan apa-apa. Bersama Sasnis dan Lisna kami mulai perkenalan dan membacakan peraturan. Neng belum tiba waktu itu, karena memang tidak bisa menyertai kumpulan di pagi hari. Setelah mendapat kabar dari rekan-rekan Penosisnya, Neng pun tahu harus melangkah kemana dan gugus berapa. Kami tutor gugus 11 menunggu kehadirannya. Lalu terdengarlah ia mengetuk pintu. Sejenak ku lihat lelah di wajahnya dan lagi, fitrah itu tumbuh tanpa jeda menghujam erat pada iman di hati.

Label: ,

7 Komentar:

Pada 13 Agustus 2018 pukul 12.44 , Blogger Unknown mengatakan...

Kangen Teh Usi.. Heheehe rame rame rame
Btw kerudung merah muda siapa ini th?

 
Pada 14 Agustus 2018 pukul 14.28 , Blogger Dawud Ismail mengatakan...

alaah kangen mah ka akang wh, nu aya.. :(
neng lha, emang warna naon atuh?
hitam? ke atuh urang gentos :'v

 
Pada 14 Agustus 2018 pukul 14.31 , Blogger Dawud Ismail mengatakan...

Emang waktu itu neng pake kerudung yang mana?
akang lupa sih, ma'lumlah memori 2 tahun lalu bukan hal mudah untuk diingat.. apalagi di saat cinta bertepuk sebelah tangan :'v

 
Pada 16 Agustus 2018 pukul 15.51 , Blogger Unknown mengatakan...

Aku juga lupa matak nanya ge :v

 
Pada 18 Agustus 2018 pukul 12.39 , Blogger Dawud Ismail mengatakan...

xixixi atuh da panan akang mah sok lupa masa-masa menyakitkan mah :')

 
Pada 27 Agustus 2018 pukul 18.43 , Blogger Unknown mengatakan...

Bertepuk sebelah tangan mksdnya?

 
Pada 23 November 2018 pukul 14.45 , Blogger Dawud Ismail mengatakan...

iya jadi waktu itu teh perasaannya belum terbalas,sekarang mah cintanya malah sering bertepuk tangan :'

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda