Secarik Kilas Balik Eps. 4
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Pintu kelas telah ku buka, bersama Teh Lisna aku melangkah keluar
untuk "isoma" atau "ralatkan". Meninggalkan dua orang rekan kami yang
sedang menjaga barang-barang di ruang gugus dan mengasuh anak-anak.
Setelah itu kami berempat bergantian kegiatan, giliranku dan Lisna yang
berjaga-jaga. Vanesha dan Sasnis yang keluar. Begitu rutinitas kami
selama MPLS. Tibalah suatu hari, jika tidak salah Pak Farid yang sedang
memberi materi waktu itu. Kami berempat duduk di belakang para peserta.
Dan bersiap-siap untuk isoma. "Hayu Teh Lis!", ajakku. Tapi Sasnis
menolak, "Sareng Vanesha weh Kang. Abi sareng Lisna," katanya sambil
nyengir manja. "Ehh,, nya hayu atuh saha weh lah.", suka hati you semua
lha batinku. Bukannya apa-apa, aku hanya tidak ingin terlalu telat
shalat zhuhur. Neng pula hanya diam dan menunduk saat Sasnis bilang
begitu. Tak lama kemudian kami pun keluar. "Err.. Anesh bade emam atau netepan
heula? Sholat heula weh nya!", pintaku. Lagi-lagi Neng hanya diam dan
mengangguk, lalu tersenyum. Ihh naon ngan tungkul weh hungkul,
huriamnaaa.. aku menggerutu sendirian. Kami pun tiba di halaman masjid,
mencopot sepatu lalu mengambil wudhu. Begitu tertib ku lihat sekilas
perilakunya, rupanya Neng memang benar-benar tak mau 'auratnya terlihat
apalagi tersentuh. Hwaa whatever, aku tak acuh. Sejurus kemudian kami
pun masuk ke masjid dan shalat. Aku tak tahu apakah dibelakangku ada
ma'mum laki-laki atau tidak. Tapi aku dengar gemerisik pelan seperti
daun-daun kering yang jatuh di tepi jalan. Penasaran, aku pun pelankan
pergerakan shalatku. Oh ternyata Neng berma'mum padaku, tebakku asal.
Aku pun bingung, (aku lupa berniat untuk munfarid atau sebagai imam)
lalu ku teruskan saja shalatku hingga selesai. Dan memang saat salaam
pertama aku lakukan, dia juga melakukannya. Wah, enak saja menjadi
ma'mumku. Kenapa tidak bilang mau shalat berjama'ah pikirku usil. Bisa
gawat jika aku lisankan padanya, aku 'kan terkenal kejam di Osis.
Begitulah, suasana shalat di sekolah memang butuh banyak penanganan lagi
biar jelas segala hukum furu'iyyahnya. Setelah memakai sepatu, kami pun
melangkah ke ruang Osis. "Hayu emam yu!", lagi-lagi Neng mengangguk.
"Ini buat Vanesha, kita makan di sana ya!", tunjukku pada suatu tempat
di ruang Osis. Suasana di sana sungguh indah, beberapa sohib yang sedang
bersandar atau tertidur. Makanan yang berceceran serta tas yang
berantakan menemani kami. Aku makan dengan lahap, tak banyak cakap. Usai
makan kami pun segera kembali ke gugus untuk menyelesaikan tugas kami
dan tiba pula waktunya untuk pulang.
***
Hari-hari
selanjutnya kami berempat menjadi lebih akrab. Lisna yang pemalu juga
mulai sering bercerita. Sasnis apalagi, klop banget lha. Vanesha, ah ya
tak banyak yang berubah. Hanya mendengar aku dan teman-teman bercerita
sambil tersenyum. Satu hal yang aneh, Sasnis selalu ingin bersama Lisna
saat isoma. Aku tak masalah. Tapi aku takut Neng tak nyaman jika begini.
Mungkin Neng tak terbiasa untuk selalu menyertai laki-laki. Dan yang
membuatku kesal adalah Neng tak pernah berhenti untuk sejenak tak
mengikutiku. Saat masuk ke gugus, saat evaluasi, apalagi saat isoma.
Amat sangat dekat. -_-
Husnuzhanku
adalah mungkin ia takut dimarahi olehku, atau merasa harus mematuhiku
karena peraturan-peraturan baru panitia MPLS yang hadir secara mendadak.
Jadwalnya saja diberi judul "Tahu Bulat Aje Gile". Takut nanti
dipojokkan saat evaluasi mungkin. Bukan apa-apa, aku hanya tidak ingin
beberapa pandang mata menusuk tajam padaku. Neng ini 'kan termasuk "cewe
populer" di sekolahku. Dari siswa kelas XII hingga kelas X ada saja
yang "naksir" pada Neng. Melihat dia "menempel" padaku hampir seminggu
maka siapa yang tidak gerah? Aku sendiri pun merasa gerah. Panas dingin
malah. Bahkan sohib-sohibku sering menggoda, "duuhh, pamajikan Kang
Izz?", tanya mereka sambil tertawa. Ditambah logat khas Penosis semakin
membuatku tak berdaya untuk berkata-kata. Jelas sudah mengapa aku
terdiam di sana. Yang lebih aneh lagi Neng hanya diam dan menatapku
tanpa ekspresi. Wah polosnya anak ini, Tuhan. Kasihan aku jadinya. Tak
tega memarahinya, aku pun hanya bergeleng dan berpaling muka. Bukan
tanpa alasan mereka bertanya begitu. Dan bukan tanpa alasan aku merasa
kesal. Setiap kali akan melakukan sesuatu maka aku harus mengajak dan
menjelaskan padanya terlebih dahulu apa ini dan itu, mengapa begini dan
begitu karena ia selalu mengikuti kemana langkahku dan melakukan apa
yang aku lakukan. Bahkan ketika aku berbalik arah ia pun ikut. Jadilah
sohib-sohibku mencandaiku dengan pertanyaan heteric seperti itu.
Misalnya saja saat mau ke ruang Osis aku harus bertanya padanya dulu,
"Akang ka RO heulanya, Anesh bade ka gugus atau bade ngiring?", melihat
dia diam kebingungan aku jadi kasihan. "Hayu atuh ka RO!", tambahku.
Apalah Neng ini, ditanya seperti itu pun tak tahu jawabannya. Atau saat
mau makan, ia takkan mengambil makanannya jika bukan aku atau sohibku
yang mengambilkan. Mungkin takut dibilang tidak sopan atau sekian alasan
lainnya. Jadilah aku sering menawarinya, "Hayu emam heula. Ieu kanggo
Anesh." atau "Sok sing wareg emamna. Watir itu nu sanes tos ngantosan di
gugus bade sholat". Dan dari sekian ratus kalimat yang aku katakan, dia
hanya menjawabnya dengan kata "muhun" atau "hayu" atau "duka" atau
"wios" dan lebih sering dengan anggukan atau senyuman. Maka tak heran
'kan? Jika sohibku menyangka kalau Neng ini "pamajikan" atau "bojo" atau
"istri"ku. Ya tentunya mereka lihat aku terlalu perhatian padanya untuk
hal paling sepele sekali pun. Ditambah dengan Neng yang hanya manut
sama aku. Lengkaplah sudah!
***
Pun
waktu itu kami telat shalat dan makan karena kali ini biarlah Sasnis
dan Lisna yang pertama isoma. Saat tiba giliran kami, makanan di ruang
Osis tinggal sedikit. Dan malangnya lauk waktu itu adalah sayur yang
sangat cepat masam atau hampir basi karena lembab. Aku tak masalah, tapi
ku pikir ini akan membuat Neng menjadi tidak nyaman. Namun rupanya tak
seperti yang ku kira, ia tetap memakannya. Sungguh ungkapan syukur yang
luar biasa aku rasa. Tak banyak orang yang tahan dengan makanan tak
sedap di piring mereka. Neng bahkan tak mengeluh atau membuangnya
sedikit pun. Aku tak tahu bagaimana perasaannya. Timbul rasa kagumku di
sana. Miftah yang mencadai kami dan usil memfoto kami dengan tingkah
lucunya berkata, "Duhh ieu suami istri duaan wae!". Terbit rasa ingin menggodanya dengan pertanyaan,"Anesh kenapa kemanthil-manthil sama akang? Aku ini bukan atasanmu lho. Jangan kaku begitu, berbuatlah sewajarnya. Tugasku hanya memastikanmu sudah sholat dan makan. Tapi orang-orang malah menganggap kita laiknya suami istri. Tidakkah itu membuatmu tidak nyaman?". Namun seketika itu pula aku urungkan niatku untuk mengatakan kalimat itu. Takutnya nanti Neng malah berpikir jika aku lebih memilih Sasnis atau Lisna untuk menemaniku. Mereka memang luwes sebenarnya, tak seperti yang satu ini. Superpemalu. Aku pun sudah menebak jawabannya,"Nggak apa-apa lha. Lagipula kita sendiri yang mengalami kenyataannya. Mengapa harus peduli perkataan orang lain?". Begitu kira-kira Neng akan menjawabnya. Sebenarnya aku sendiri tak masalah karena aku tahu pasti mengapa some people beranggapan nyeleneh. Justru yang membuatku greget adalah ketakutan Neng untuk memutuskan kegiatannya sendiri. Bagiku cukup keluar gugus bersama dan masuk lagi bersama. Tak perlu harus sholat dan makan bersama. Tak harus "begini" urutannya. Judulnya 'kan istirahat. Mengapa istirahatmu terkesan mengikuti caraku "beristri"rahat, gumamku. Belakangan aku tahu jika suka tak suka harus aku akui Neng memiliki banyak habitual yang sama denganku. Allah dulu, insan kemudian. Satu alasan rahasia yang tak ku ungkap sebelumnya, aku kesal karena setiap hari semakin dekat Neng padaku. Di lain waktu aku semakin "memikirkannya". Bisa dikatakan aku "merindukan" kehadirannya. Aku tak mau terbawa perasaan. Sudah cukup membuat hatiku linu kala ku sadari banyak orang yang ingin "mendekatinya". Lagipula tingkahnya yang polos selalu mengundang tawa. Siapa yang tak suka dengan suasana seperti itu. "Akang mau ke sana dulu, melakukan ini dan itu. Anesh ke gugus saja ya?", pintaku suatu ketika. Neng masih terdiam, aku sadar dia sungkan untuk menjawab. Kalau sudah begini, biasanya aku menyuruhnya pergi (ke gugus) atau aku putuskan Neng mengikutiku. Hal ini terjadi berulang kali dan tak jarang harus terjadi di depan sahabatku. Maka pastilah di saat acara sudah selesai atau di sela-sela waktu senggang aku tak luput dari godaan mereka."Dais bogoh teu ka Vanesha? Sakitu sok nunutur wae ka Dais mah" atau "Ahh ieu suami istri duaan wae yeuh, Pak Iman naroskeun" atau "Dais mana pamajikan teu ngiring? Biasa ge.." adalah celetukan baru yang rutin aku dengar di kalangan Penosis '14. Jika sudah begini aku menyangkal saja."Ehh, pira ge pas ishoma hungkul!" atau "Biasa ge naon? Tara bapperr dais mah!" adalah kalimat yang kerap terucap lewat lisanku. Walaupun kadang aku harus bersandiwara untuk menghentikan godaan mereka, "Eh piraku teu bogoh. Sakitu istri tercinta!" atau "Gak ada! Istriku lagi kuliah." atau "Teu aya Anesh mah disakuan.", dengan begini kadang mereka mati kutu. Tapi tak jarang sih malah menambah ricuh suasana. Heboh jadinya. Dari banyak alasan yang mereka ucapkan padaku, ada satu peristiwa yang sudah ku bahas sebelumnya. Ba'da shalat aku bertanya, "Sudah makan siangkah, Anesh?". Neng menggeleng tanda ia belum makan. "Hayu atuh makan heula. Dimananya? Di palih ditu weh!". Tanpa banyak cakap ia pun membuntutiku. Kejadian itu terjadi di ruang Osis. Baru ku sadari, ada rekan-rekanku di sana. Tentulah dengan begitu mereka beranggapan bahwa ada "sesuatu" di antara kami. Yang satu perhatian dan satunya lagi penurut, 'kan cocok! Lebih kurang seperti itu pendapat mereka. Aku suka sekali bagian ini, keping memoriku yang telah lama terkubur dan terlupakan. Aku suka karena dari sekian jawaban yang Tuhan berikan atas tanya hatiku, tutur kata para sahabatku merupakan petunjuk yang membuatku yakin bahwa fitrah itu masih tumbuh dan "mengakar" lebih dalam. One more, kala itu aku bertanya kepada Neng lewat messenger, "Gimana udah nyari belum biografi Ibn Hayyan teh?. Setelah Neng tunjukkan hasil pencariannya maka aku pun heran. Isinya sama dengan apa yang ku dapatkan. "Lho kok samaan. Coba copas sumbernya!", buruku penasaran.
"serunaihati.blogspot.com, kang. Iya samaan, kita sehati ya kang bla..bla..bla..". Degg! Lagi-lagi ada yang menumbuk dadaku. Di satu sisi aku tahu itu hanya gurauan yang tak perlu dihiraukan. Di sisi lain dadaku sesak menerima kenyataan bahwa perkataannya itu hanya menambah luka di hati. Bagaimana tidak? Betapa dalam makna "sehati" itu untukku. Sedangkan baginya, hanya sebuah kata yang tak bermakna apa-apa. Mungkinkah ini pertanda dari Tuhan? "Chemistry", "serunai" dan "sehati" adalah kata kuncinya. Siapa sih yang tidak tahu Chemistry? Selain diartikan dengan ilmu Kimia, some people sure that Chemistry adalah suatu istilah untuk mendefinisikan suatu kecenderungan hati seseorang untuk menyayangi dan atau mencintai orang lain. Serunai itu salah satu alat musik favoritku (ini haram sih karena sejenis dengan seruling), dulu aku sering menenangkan diri dengan mendengar alunan musik khas Andalas ini memadu dengan musik lainnya. Sehati adalah satu-satunya jawaban logis yang mampu menjelaskan mengapa aku dan Neng memiliki banyak kesamaan, walau kami belum saling mengenal. Aku suka sekali mencari jawaban lewat hal-hal kecil yang Tuhan tunjukkan. Imanku, setiap peristiwa masa kini menjadi pertanda untuk masa depan. Kali ini, sekali lagi aku coba mengurai dan menghapus segala gundah di hati. Berusaha untuk melupakan itu semua.
***
Pekan demi pekan telah aku alami selama di kelas XII ini, belum ada "kesan" yang terbentuk seperti dulu di kelas XI. Aku malah lebih banyak menghabiskan waktu untuk fokus memahami ilmu Kimia dan mengoptimalkan peran sekbid di Osis. Dengan bantuan Mommy Ike dan Tuan Richard, di tanggal 25 Agustus 2016 kami Penosis berhasil menjalankan sebuah komunitas bernama English Club. Suatu sarana untuk belajar dan mengembangkan kemampuan bahasa Inggris, bagiku ini adalah pencapaian yang besar. Karena ini merupakan proker dari sekbid asuhanku, Strange Language.Yang artinya "Bahasa Aneh" ehh "Bahasa Asing". Orang-orang di sekbid itu juga asing, asing tapi membuatku betah. Tentu saja, karena penghuninya adalah kaum hawa yang anggun. Fitri, Via, Safina dan.. Vanesha. Ya, nama itu muncul lagi. Padahal dulu aku sengaja memilih sekbid 9 dan 10 agar aku gak jauh-jauh dari Miftah. Dia 'kan partner alayers yang paling sering aku repotkan. Maafkan aku, Mif. Semoga Allah sentiasa meridhaimu. Sebenarnya aku lebih memilih untuk fokus menguatkan eksistensi English Club. Tapi karena aku merangkap sebagai wakil bendahara umum dan tugas rahasiaku belum selesai, maka aku menyarankan pengurus sekbid 10 untuk mengisi mading dengan penuh. Walau hanya penuh beberapa minggu, aku puas karena proker itu terlaksana. Hal kecil memang, tapi aku lihat efek dari tulisan penghuni sekbid 10 terasa langsung oleh sebagian siswa. Satu hal lagi ku sadari bahwa hal kecil yang dilakukan secara istiqamah selalu melahirkan keajaiban. Oh ya, maafkan aku karena kita dulu tidak sempat melaksanakan semua
proker tapi semoga generasi selanjutnya selalu mampu memajukan sekbid
asing ini. Di awal bulan September, aku dan rekan Penosis '14 mengadakan Osis Tour khusus angkatan kami ke sebuah tempat bernama "Karacak Valley". Sesampainya di air terjun, aku naik saja ke satu sisi yang berhadapan dengan air terjun itu. Karena di bawah sudah penuh oleh pengunjung lain. Ku buka lembaran kertas dan spidolku, aku tulis beberapa frasa kata pada satu dua carik kertas. Sengaja aku melakukan hal ini. Untuk ku kirim sebagai hadiah ultah sahabatku, Usi dan Tilvi. Mereka lahir di tanggal 12 dan 15 September 1999 M.
"Dais atuh geura ngadamel hiasanana!", pinta Agis. Irvan dan Mif pun tak mau kalah. "Oh oke, ngalem ngalem.", ujarku. Perlahan aku buat sekian buah origami hati, lalu ku tempel dan selesai pun hadiahku ini. Tak buang-buang waktu aku langsung meminta tulisanku ini diabadikan lewat kamera handphone kawan-kawanku. Tak terasa kami sudah lama bersenang-senang dan berfoto ria di sana. Kami pun turun dan melintasi sungai. Namun Agis minta dipotret terlebih dahulu. "Kanggo Nur, ih. Sok atuh foto engke sakali ewang di fotona.", begitu rayunya. Apalah daya, aku berikan karyaku itu lalu mereka asyik bergantian. Sungguh kekanakan memang, tapi itulah serunya masa SMA. Satu hal lagi yang mengesankanku di sana. Rupanya ada sohibku yang terang-terangan mengutarakan perasaannya tentang Vanesha. Sohib sekelasku, Fauji Ridwan namanya. Jujur kalau Fajar aku sendiri aku tak tahu, karena dia selalu berdua bersama Farhan. Tapi yang aku tahu dari Irpan, mereka berdua adalah saingan. Sama-sama berusaha menghinggapi bunga yang sama. Wah, sungguh seru pikirku. Di saat orang lain berjuang untuk mengesankan sosok pujaannya, aku hanya mampu berdoa dan tak bisa berbuat lebih. Satu lagi imanku, kebahagian teman adalah kebahagiaanku juga. Aku tak boleh merusak suasana hati mereka, biarlah kelak Tuhan yang putuskan. Aku putuskan untuk tidak ikut "menghinggapi" bunga yang jelita itu. Malah akulah yang harus mendukung semua sahabatku.
"Dais atuh geura ngadamel hiasanana!", pinta Agis. Irvan dan Mif pun tak mau kalah. "Oh oke, ngalem ngalem.", ujarku. Perlahan aku buat sekian buah origami hati, lalu ku tempel dan selesai pun hadiahku ini. Tak buang-buang waktu aku langsung meminta tulisanku ini diabadikan lewat kamera handphone kawan-kawanku. Tak terasa kami sudah lama bersenang-senang dan berfoto ria di sana. Kami pun turun dan melintasi sungai. Namun Agis minta dipotret terlebih dahulu. "Kanggo Nur, ih. Sok atuh foto engke sakali ewang di fotona.", begitu rayunya. Apalah daya, aku berikan karyaku itu lalu mereka asyik bergantian. Sungguh kekanakan memang, tapi itulah serunya masa SMA. Satu hal lagi yang mengesankanku di sana. Rupanya ada sohibku yang terang-terangan mengutarakan perasaannya tentang Vanesha. Sohib sekelasku, Fauji Ridwan namanya. Jujur kalau Fajar aku sendiri aku tak tahu, karena dia selalu berdua bersama Farhan. Tapi yang aku tahu dari Irpan, mereka berdua adalah saingan. Sama-sama berusaha menghinggapi bunga yang sama. Wah, sungguh seru pikirku. Di saat orang lain berjuang untuk mengesankan sosok pujaannya, aku hanya mampu berdoa dan tak bisa berbuat lebih. Satu lagi imanku, kebahagian teman adalah kebahagiaanku juga. Aku tak boleh merusak suasana hati mereka, biarlah kelak Tuhan yang putuskan. Aku putuskan untuk tidak ikut "menghinggapi" bunga yang jelita itu. Malah akulah yang harus mendukung semua sahabatku.
***
"Kang Izz, ieu abi bikin hadiah buat Vanesha.", tunjuknya suatu hari. "Wah sae Kang. Atos dipasihkeun teu acan?", tanyaku sambil melihat foto agak buram di handphone-nya. "Ah saur Dais saena pasihkeun ulah?", Uji meminta usulku. "Teu langkung. Pasihkeun weh sok. Ku abi di dukung naha.", usulku sambil tersenyum dan mengangguk-angguk pada Deden. Aku tak tahu apakah Fauji memberikannya atau tidak. Yang pasti, Neng selalu memberikan laporan rutin kepadaku tentang kupu-kupu yang datang silih berganti padanya. Aku tak tahu banyak tentang mereka walau beberapa orang adalah dekat denganku. Aku hanya bilang hal-hal sederhana, "Hmm dia shalih kok, baik, pinter, rajin, bla..bla..bla.". Karena memang begitulah adanya sejauh yang aku tahu tentang mereka. Anehnya, mengapa pula Neng harus meminta saranku? Aku 'kan bukan siapa-siapa. Dalam artian, selalunya Neng sendiri memutuskan bagaimana dirinya harus bersikap pada mereka. Lalu, dimana peran pendapatku, toh? Itulah wanita, kadang aku tak paham. Aku tak mau ambil pusing. Cuek saja. Meski aku gerah harus menghadapi fakta-fakta bahwa di luar sana banyak sekali kupu-kupu yang lebih besar dan indah dari diriku. Masalahnya, mereka hendak terbang menuju bunga yang sama denganku. Vanesha Agnestika Taufiq, i mean. Aku sendiri tak pernah bermaksud menuju ke sana, namun angin terus saja menghempasku ke arah yang sama. Tahu dirilah, kurasa. Ngaca dong ngaca! Kecamku pada diri sendiri. Hingga tiba waktunya pekan ultah sohib-sohibku. Saat hendak aku kirimkan foto itu, Irvan dan Miftah bilang padaku. "Eits, ka Usi mah rek ku urang!", kata Irvan menunjuk dadanya dengan jempol. "Izz ieu mah ku abi ka Tilvi-keunnya!", Mif tak kalah semangat. "Aihh, terus abi ka saha? Peupeuriheun mah teu masihan nanaon.", heranku. "Ka Vanesha-keun weh! Kan sakedap deui ge ulang tahun.", saran mereka berdua. "Saenya Izz. Usi tanggal 12, Tilvi tanggal 15, Anesh tanggal 18. Beda tilu dinten 'kan. Wuihh ultah alayers jadi ieu mah! Wakakak.", papar Miftah memberiku alasan mengapa aku harus memberikannya pada Neng. Awalnya aku enggan. Malu lha aku pikir. Ini tak seberapa dengan hadiah yang diberikan orang lain. Aku pun mengalah pada keadaan, aku berikan gambar itu pada Neng. Sekian jam kemudian, gambar itu sudah nangkring di Instagram (sekarang sih udah gak ada, dihapus sama empunya akun). Di angkatanku sendiri, gambar itu menjadi trending topic. Tentu saja karena tulisan di sana ditambah origami hati buatanku. "Keep istiqamah and be shalihah ya!" adalah doa yang ku lafazkan di kertas itu. Hal ini sontak membuat banyak orang terkejut dan lagi-lagi menyangka bahwa aku ada "sesuatu" dengan Neng. Susah payah aku jelaskan bahwa ini semua tidak seperti yang mereka kira. Ini semua gara-gara sohibku pastinya. Duh Alayers, dibanjur geura ku cuka! sungguh secarik kertas yang membuat hidupku berwarna.
***
Hufft.. Akhirnya selesai juga Sertijab + MLPJ ini. Dengan nafas lega kami angkatan '14 cemas namun harus rela melepaskan dan memberikan jabatan kami kepada angkatan '15. Cemas karena kami belum mampu membimbing adik kami dengan benar. Masih banyak ilmu yang belum sempat kami sampaikan karena sibuk mengurusi benturan ideologi dalam tubuh Osis itu sendiri. Sudahlah relakan saja semuanya, batinku. Secara ajaib, Neng terpilih menjadi penggantiku di inti. Wakil bendahara umum, amanahnya. Ini membuat personil baper community semakin curiga dengan takdir "kami". Dimana setelah setengah tahun mengenal dan bekerja sama di Osis, aku dan Neng mendapati banyak kesamaan pada diri kami. Malah di awal semester 5 aku berkata pada mereka, "Jodoh itu cerminan diri. Tak laik aku disandingkan dengan Vanesha!", jelasku sambil memandang Neng. Sayangnya, Neng malah mengatakan hal yang sama. Aku paham maksudnya, tapi sohib kami gagal paham. Kesamaan pendapat itu malah mereka artikan sebagai "cerminan diri". "Tuh, sami deui nyariosna ge. Jodoh ieu mah! Jhahaa..", begitu kata mereka. Memang sebenarnya banyak sekali kesan yang tercipta semasa kami tergabung di sebuah grup baper ini. Barudak cinta yang kocak dan penuh drama. Terlalu banyak kenangan dan tawa di sana. Satu lagi yang ku ingat di akhir masa sekolahku, ahad itu aku sedang menunggu Teh AKawilang yang harus segera melaporkan pertanggungjawabannya. Harap-harap cemas aku tunggu kehadirannya. Dan syukurlah ia hadir tepat waktu. Saat di rumah aku ceritakan hal ini pada Neng, ia malah berkata, "Manawi teh akang ngantosan abi". Degg, tak terhitung berapa kali dadaku tertumbuk jantung dengan keras karena ulah sang bunga mawar ini. Kali ini aku tak tahu apakah itu gurauan atau benar faktanya. Tak mau kalah dengannya aku pun menjawab, "Sudah tentu kamu ku tunggu", datar saja aku jawab. Rupanya Neng terbawa perasaan. Karena setelah itu ia mendadak dingin dan cuek lagi seperti biasa. Petang itu aku sudah selesai ujian praktik. Aku menemui Neng di beranda kelasnya di dekat tiang bendera. Ada sesuatu yang harus aku sampaikan tentunya. Setelah semua yang terjadi, dan perjodohan "unik" yang kami alami. Ada satu kebiasaan yang secara tak sadar sering kami rasakan. Kebiasaan yang memunculkan rasa aneh di hati. Rindu saat tak bertemu. Bisu ketika berjumpa. Adalah intinya. Ya, aku tahu ia merindukanku karena ya,, Neng tak pandai membungkam perasaan dan tak mau mengaku ketika hal itu dipertanyakan. Sungguh polos. Sedikit aku gambarkan keadaan hatiku waktu itu. Aku hanya bingung saja apa lagi yang harus aku sampaikan sementara selama ini aku terbiasa untuk hanya menyampaikan apa yang ia perlukan. Ini berfungsi untuk menekan perasaanku padanya. Ini berjalan dengan baik. Namun di akhir "kebersamaan" kami di sekolah justru aku menjadi lebih sering kehabisan kata-kata jika bertemu dengannya. Menatap matanya saja aku tak mampu. Selalu terjadi kelembaman. Ada rasa ingin mempertahankan keadaan seperti itu selama mungkin. Saat kami bersama juga seperti itu. Hening dan bisu tanpa imbuhan apa-apa. Hanya saling berdiam mendengar angin dan saling menebak isi hati. Entah kapan kami ingin mengakhirinya. Ya, lebih kurang seperti itu. Ada rasa tenteram yang terbentuk. Jika sudah seperti ini, aku bersyukur saja kalau ada seseorang yang mengajakku atau mengajaknya pulang. Karena kami saling tak enak hati untuk sekedar "mengakhiri" pertemuan-pertemuan kecil itu. Atau kadang aku yang menawarinya untuk pulang, "Err.. atosnya. Naon deui sok? Hayu atuh urang uih weh. Mangga tipayun, bilih dipilari ku ayah/bunda.". Begini kira-kira ucapku. Di penghujung masa SMA-ku itu, Tuhan memberiku kesempatan untuk "mencintai"-nya. Neng berkata padaku lewat tulisan tangannya. "Tidak ada yang lebih indah daripada saat itu tiba. Untuk mengatakan apa yang kita rasakan..". Lalu kemudian, Hamari Adhuri Kahani..


4 Komentar:
PS. Ini alurnya mundur maju mundur gitu, biar yang baru tahun kemaren kejadiannya masih inget pisan..
Pantesan asa ada yg dilewat nyatanya maju mundur ya
iya lha, episode ganjil Insyaa Allah nu "sesuatu" mah, episode genap mah flat aja, gambaran umum.. wah ini karena siapa ya harus nulis ginian.. kan banyak yang udah lupa :'v
karena tangan kamu jadi nulis gini mwehehe. tapi lanjutkan weh
sesuatu?
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda