Secarik Kilas Balik Eps. 6
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Saya sama sekali tak ingat kapan persisnya pertama kali saya menemukan bunga itu. Yang terlintas di memori ini hanyalah saat canda tawa memenuhi kamar seorang kawan, saat kami berebut sesosok tokoh idola dalam sebuah film melodrama. Yang entah mengapa menyadarkan saya pada si bunga.
"Eh kang, meni mirip adik kelasnya?"
"Mana? Ah gak mirip kok."
"Emang ada ih! Yang pake kacamata."
"Iya sih, tapi kurang mirip ah."
Saya pun tersenyum. Ya sudah, kalo akang gak mau buat saya aja, saya membatin.
Dan entah malaikat mana yang berbisik hingga menggugah hati untuk tertarik kepadanya. Awalnya saya pikir (mungkin) karena tokoh itu cantik, maka si bunga pun sama cantiknya. Sang tokoh itu juga penyabar, maka si bunga pun pasti penyabar. Begitulah, dilanjut analogi-analogi lain yang tidak masuk akal tapi masuk ke hati. Over husnuzhan pun terjadi. Hatta, timbul semangat untuk menjadikan si bunga sebagai jodoh dunia akhirat. Wkwk kamvret memang.. akrab nggak, kenal nggak, ditakutin sama si bunga iya udah jelas, dan cuma tahu namanya doang. Sok-sokan merjuangin lagi! Kalo saya kayak Oom Jay, pasti saya bilang, "Dewa Ratuuu!! Dimanakah kewarasanku tertinggal. sehingga aku gila seperti ini?!"
Tak dapat saya pungkiri berhari-hari sejak saat itu sampai hari ini si bunga selalu memenuhi dimensi akal dan hati. Jika si bunga cermat, maka pasti segera ia sadari jika inilah "misi jahat" yang pernah saya ceritakan itu. Kenapa saya sebut jahat? Ya jelas, wong misinya adalah menikahi si bunga yang bahkan belum saya kenali. Selain itu juga karena banyak kebohongan di sana. Misal, saya selalu berkata "nggak apa-apa" saat si bunga meminta izin untuk curhat tentang satu dua tiga empat ratus ribu juta kupu-kupu yang menghampiri akun medsosnya tiap pekan. Padahal, mengetahui fakta presisi bahwa si bunga idaman diincar banyak lelaki tamvan dan berkecukupan tak urung membuat hati saya merasa ngenes, demam, flu, dan batuk.
Sakit hatiku, sakit. Hiks..
Pun saat dulu waktu kadar kepekaan si bunga masih di bawah minus satu, saya sengaja ngasih tahu kang Acep siapa yang dikagumi oleh si Fulan, yaitu si bunga. Lalu untuk menegaskan keadaan dan secara tidak langsung menolong si bunga agar tidak terjerat pemberi harapan palsu, maka kang Acep dengan polosnya menitip salam mesra kepada si bunga lewat seorang kurir. Yaitu saya. Hal ini tidak terungkap berabad-abad lamanya. Padahal waktu itu kang Acep sudah memiliki kekasih hati dan hari ini pun masih gagal move on. Perlu dipahami disini bahwa kami tidak bermaksud untuk mempermainkan, hanya sekedar greget pada si Fulan yang sadar tak sadar menyukai banyak ukhti di waktu bersamaan. Hmm, satu lagi. kalo si bunga ngeuh tentang satu hal yang sering saya lakukan, maka patutnya dia curiga. Saya sering meminta maaf. Memohon maaf memang hal yang wajar, tapi jika keseringan ini udah gak wajar. For your information, ketika seseorang terlalu sering meminta maaf padamu itu pertanda bahwa dia sedang berbohong atau menyembunyikan sesusatu. In my case, bukannya saya tidak memercayai si bunga tapi memang belum waktunya saya ungkapkan hal-hal yang harus diungkapkan. Dengan risiko yang besar. Tapi tak apa, daripada saya membawa beban yang berat di yaumul qiyamah. Setidaknya nanti saya merasa lega. Nantikan kabar mengejutkan dari saya, ya.
"Ah, kamu jangan ngagetin saya!" begitu kata si bunga jika saya mulai berbelit-belit seperti ini. Andai kau tahu Neng, betapa banyak salah dan khilafku, tentu engkau akan memilih untuk tidak pernah bertemu denganku. Beruntungnya saya mengenal bunga sepertimu, yang sejauh ini, menerima saya. Dan meyakini sesuatu yang sama dengan saya, kami sama-sama yakin bahwa saya.. ganteng! Ya Salaam, salah apa si bunga hingga bertemu makhluk emejing seperti saya? :>
Saya menulis catatan ini mulai tanggal 7 Januari, biasalah mengenang sesuatu. Sekitar kurang lebih 4 bulan setelah kepergian si bunga ke tempat-tempat para ulama'. Selama itu pula saya absen menulis, sambil ngumpulin bahan lho, ya. Bukan malas, bukan enggan. Hanya saja penyakit rindu sering bercokol saat membahas kisah hikayat ini. Tak dapat saya ingkari bahwa saya pun tak mengerti hubungan jenis apa yang kami alami. Selama ini kami bersahabat, hanya saja kami merasa saling terikat sekaligus saling melepas. Apa mungkin ada ikatan seperti itu? Atau hanya saya yang gede rasa? It is an unique chemistry, isn't it?! Syukuri saja. Hal pertama yang diingat si bunga dari saya adalah peci putih. Bahkan seluruh warga sekolah pun sepertinya akan menjawab hal yang sama. Karena dari seribu siswa hanya saya yang memakai hiasan itu kemana-mana. Awalnya saya takut itu menjadi pakaian syuhrah, tapi saya sadari bahwa niat saya bukan untuk mendapatkan perhatian siapa pun. Terlebih saya memang membutuhkan kuffi agar sakit saya tidak sering kumat. Balik lagi ke si bunga. Jika si bunga mengingat saya lewat kuffi, maka saya mengingat si bunga lewat kacamata. Lho, memang apa yang menjadikan kacamatanya spesial? Tentu saja pemiliknya! Ehm.. (kejang-kejang mode on). Dengan balutan kerudung bergo, atau pashmina, atau apa pun itu selalu terlihat nampak pas bertengger menghiasi wajah innocent-nya. Ya walaupun pipinya sedikit chubbi. Eh! Sekilas nampak macam bu Elis, kan? kan kan kan?! Padahal kacamata itu bukan perhiasan, tapi alat bantu penglihatan. Bisa-bisanya saya baper sama sahabat sendiri, hanya gara-gara kacamata. Sebenarnya bukan kacamatanya saja sih, tapi matanya itu lho, yang lebih terlihat sedang sakit dan lelah bertahun-tahun. Itu yang membuat saya penasaran dan gemas, soalnya si bunga selalu terlihat akan menangis. Apalagi kalo gak pake kacamata, membuat tatapannya terkesan tajam dan mengintimidasi. "Kok, saya ngerasa bersalah sih?" Saya curiga. Mungkin si bunga punya trauma dari masa lalunya, atau mungkin takut saya gak setia. Ge-er banget ya? Padahal mungkin dianya gak apa-apa, atau hanya kesal atas segala sikap saya yang inkonsisten. Pagi alay, siang galak, sore romantis, malam ngamuk. Tapi tenang, saya tetep cinta kok. Hehe. Si bunga juga bilang kalo saya suka marah-marah kalo lagi kumpulan, dan itu bikin jengah. Saya terima itu, lagipula siapa yang nggak kesel kalo dibentak terus-terusan? Nah uniknya, si bunga malah deket sama saya, padahal nih ya, nyinyiran saya tuh kejam-kejam gimana gitu. Benci sama cinta emang beda tipis. Heran juga saya. Atau mungkin kami deket karena saya yang sering pdkt kali ya? Modus gitu. Si bunga sih bilangnya saya enak diajak bicara, pendengar setia plus bahan tertawaan. Uluh senangnya yang ngetawain juragan. Untungnya saya juragan yang baik hati, jarang menabung dan rajin menikung. Saking lihainya, banyak teman maupun adik kelas bahkan guru yang tidak menyangka sama sekali jika saya adalah pria udik yang beruntung dan mampu menyalip banyak lelaki di tikungan terakhir untuk mendapatkan perhatian lebih dari si bunga. Secara doi kan kembang sekolah, sedangkan saya dulu ditakuti banyak orang. Sontak hal ini menjadi trending topic, beritanya laku keras di dunia nyata dan viral di dunia maya. Nuriman couple pun menatap saya agak lama, diam tanpa kata saat mengetahui hal ini dari kang Usep. Agak terkejut mungkin, bagaimana ini bisa terjadi? Bisa aja kok. Bukankah ini kisah persis cerita beauty and the beast? Si cantik dan si garang. wkwk. Saya pun tak tahu lah. Memang begini adanya. Saya belum tahu pasti apa yang dirasakan si bunga. Sekarang mah hanya bisa sekedar mengira saja. Mungkin ada sisi lain dari diri saya yang hanya mampu tersentuh oleh lembutnya kasih suci si bunga mawar itu.. Amboii bahasanya Oom!
"Eh kang, meni mirip adik kelasnya?"
"Mana? Ah gak mirip kok."
"Emang ada ih! Yang pake kacamata."
"Iya sih, tapi kurang mirip ah."
Saya pun tersenyum. Ya sudah, kalo akang gak mau buat saya aja, saya membatin.
Dan entah malaikat mana yang berbisik hingga menggugah hati untuk tertarik kepadanya. Awalnya saya pikir (mungkin) karena tokoh itu cantik, maka si bunga pun sama cantiknya. Sang tokoh itu juga penyabar, maka si bunga pun pasti penyabar. Begitulah, dilanjut analogi-analogi lain yang tidak masuk akal tapi masuk ke hati. Over husnuzhan pun terjadi. Hatta, timbul semangat untuk menjadikan si bunga sebagai jodoh dunia akhirat. Wkwk kamvret memang.. akrab nggak, kenal nggak, ditakutin sama si bunga iya udah jelas, dan cuma tahu namanya doang. Sok-sokan merjuangin lagi! Kalo saya kayak Oom Jay, pasti saya bilang, "Dewa Ratuuu!! Dimanakah kewarasanku tertinggal. sehingga aku gila seperti ini?!"
Tak dapat saya pungkiri berhari-hari sejak saat itu sampai hari ini si bunga selalu memenuhi dimensi akal dan hati. Jika si bunga cermat, maka pasti segera ia sadari jika inilah "misi jahat" yang pernah saya ceritakan itu. Kenapa saya sebut jahat? Ya jelas, wong misinya adalah menikahi si bunga yang bahkan belum saya kenali. Selain itu juga karena banyak kebohongan di sana. Misal, saya selalu berkata "nggak apa-apa" saat si bunga meminta izin untuk curhat tentang satu dua tiga empat ratus ribu juta kupu-kupu yang menghampiri akun medsosnya tiap pekan. Padahal, mengetahui fakta presisi bahwa si bunga idaman diincar banyak lelaki tamvan dan berkecukupan tak urung membuat hati saya merasa ngenes, demam, flu, dan batuk.
Sakit hatiku, sakit. Hiks..
Pun saat dulu waktu kadar kepekaan si bunga masih di bawah minus satu, saya sengaja ngasih tahu kang Acep siapa yang dikagumi oleh si Fulan, yaitu si bunga. Lalu untuk menegaskan keadaan dan secara tidak langsung menolong si bunga agar tidak terjerat pemberi harapan palsu, maka kang Acep dengan polosnya menitip salam mesra kepada si bunga lewat seorang kurir. Yaitu saya. Hal ini tidak terungkap berabad-abad lamanya. Padahal waktu itu kang Acep sudah memiliki kekasih hati dan hari ini pun masih gagal move on. Perlu dipahami disini bahwa kami tidak bermaksud untuk mempermainkan, hanya sekedar greget pada si Fulan yang sadar tak sadar menyukai banyak ukhti di waktu bersamaan. Hmm, satu lagi. kalo si bunga ngeuh tentang satu hal yang sering saya lakukan, maka patutnya dia curiga. Saya sering meminta maaf. Memohon maaf memang hal yang wajar, tapi jika keseringan ini udah gak wajar. For your information, ketika seseorang terlalu sering meminta maaf padamu itu pertanda bahwa dia sedang berbohong atau menyembunyikan sesusatu. In my case, bukannya saya tidak memercayai si bunga tapi memang belum waktunya saya ungkapkan hal-hal yang harus diungkapkan. Dengan risiko yang besar. Tapi tak apa, daripada saya membawa beban yang berat di yaumul qiyamah. Setidaknya nanti saya merasa lega. Nantikan kabar mengejutkan dari saya, ya.
"Ah, kamu jangan ngagetin saya!" begitu kata si bunga jika saya mulai berbelit-belit seperti ini. Andai kau tahu Neng, betapa banyak salah dan khilafku, tentu engkau akan memilih untuk tidak pernah bertemu denganku. Beruntungnya saya mengenal bunga sepertimu, yang sejauh ini, menerima saya. Dan meyakini sesuatu yang sama dengan saya, kami sama-sama yakin bahwa saya.. ganteng! Ya Salaam, salah apa si bunga hingga bertemu makhluk emejing seperti saya? :>
***
Saya menulis catatan ini mulai tanggal 7 Januari, biasalah mengenang sesuatu. Sekitar kurang lebih 4 bulan setelah kepergian si bunga ke tempat-tempat para ulama'. Selama itu pula saya absen menulis, sambil ngumpulin bahan lho, ya. Bukan malas, bukan enggan. Hanya saja penyakit rindu sering bercokol saat membahas kisah hikayat ini. Tak dapat saya ingkari bahwa saya pun tak mengerti hubungan jenis apa yang kami alami. Selama ini kami bersahabat, hanya saja kami merasa saling terikat sekaligus saling melepas. Apa mungkin ada ikatan seperti itu? Atau hanya saya yang gede rasa? It is an unique chemistry, isn't it?! Syukuri saja. Hal pertama yang diingat si bunga dari saya adalah peci putih. Bahkan seluruh warga sekolah pun sepertinya akan menjawab hal yang sama. Karena dari seribu siswa hanya saya yang memakai hiasan itu kemana-mana. Awalnya saya takut itu menjadi pakaian syuhrah, tapi saya sadari bahwa niat saya bukan untuk mendapatkan perhatian siapa pun. Terlebih saya memang membutuhkan kuffi agar sakit saya tidak sering kumat. Balik lagi ke si bunga. Jika si bunga mengingat saya lewat kuffi, maka saya mengingat si bunga lewat kacamata. Lho, memang apa yang menjadikan kacamatanya spesial? Tentu saja pemiliknya! Ehm.. (kejang-kejang mode on). Dengan balutan kerudung bergo, atau pashmina, atau apa pun itu selalu terlihat nampak pas bertengger menghiasi wajah innocent-nya. Ya walaupun pipinya sedikit chubbi. Eh! Sekilas nampak macam bu Elis, kan? kan kan kan?! Padahal kacamata itu bukan perhiasan, tapi alat bantu penglihatan. Bisa-bisanya saya baper sama sahabat sendiri, hanya gara-gara kacamata. Sebenarnya bukan kacamatanya saja sih, tapi matanya itu lho, yang lebih terlihat sedang sakit dan lelah bertahun-tahun. Itu yang membuat saya penasaran dan gemas, soalnya si bunga selalu terlihat akan menangis. Apalagi kalo gak pake kacamata, membuat tatapannya terkesan tajam dan mengintimidasi. "Kok, saya ngerasa bersalah sih?" Saya curiga. Mungkin si bunga punya trauma dari masa lalunya, atau mungkin takut saya gak setia. Ge-er banget ya? Padahal mungkin dianya gak apa-apa, atau hanya kesal atas segala sikap saya yang inkonsisten. Pagi alay, siang galak, sore romantis, malam ngamuk. Tapi tenang, saya tetep cinta kok. Hehe. Si bunga juga bilang kalo saya suka marah-marah kalo lagi kumpulan, dan itu bikin jengah. Saya terima itu, lagipula siapa yang nggak kesel kalo dibentak terus-terusan? Nah uniknya, si bunga malah deket sama saya, padahal nih ya, nyinyiran saya tuh kejam-kejam gimana gitu. Benci sama cinta emang beda tipis. Heran juga saya. Atau mungkin kami deket karena saya yang sering pdkt kali ya? Modus gitu. Si bunga sih bilangnya saya enak diajak bicara, pendengar setia plus bahan tertawaan. Uluh senangnya yang ngetawain juragan. Untungnya saya juragan yang baik hati, jarang menabung dan rajin menikung. Saking lihainya, banyak teman maupun adik kelas bahkan guru yang tidak menyangka sama sekali jika saya adalah pria udik yang beruntung dan mampu menyalip banyak lelaki di tikungan terakhir untuk mendapatkan perhatian lebih dari si bunga. Secara doi kan kembang sekolah, sedangkan saya dulu ditakuti banyak orang. Sontak hal ini menjadi trending topic, beritanya laku keras di dunia nyata dan viral di dunia maya. Nuriman couple pun menatap saya agak lama, diam tanpa kata saat mengetahui hal ini dari kang Usep. Agak terkejut mungkin, bagaimana ini bisa terjadi? Bisa aja kok. Bukankah ini kisah persis cerita beauty and the beast? Si cantik dan si garang. wkwk. Saya pun tak tahu lah. Memang begini adanya. Saya belum tahu pasti apa yang dirasakan si bunga. Sekarang mah hanya bisa sekedar mengira saja. Mungkin ada sisi lain dari diri saya yang hanya mampu tersentuh oleh lembutnya kasih suci si bunga mawar itu.. Amboii bahasanya Oom!
***
Salah satu dari banyaknya keunikan si bunga yang saya tahu adalah "gengsi" dan malunya yang melangit. Sok jual mahal. Malu-malu tapi mau. shy shy cat. Malu-malu meong.. Saya jadi curiga lagi. Betapa nggak?! Saking jual mahalnya si bunga secara sadar gak sadar telah membuat saya terabaikan selama lebih kurang 2 tahun. Baru pas saya lulus, si bunga mau jujur kalo dia kangen berat sama saya, cemburu, cint.. oke skip!
Ini emang baru punya perasaan yang sama atau jual mahal karena ada yang iya-iya di masa lalu. Hmm. Curiga. Pernah di satu momen dulu, waktu si bunga lagi kesemsem sama si fulan. Si bunga ngirimin kode sama saya, rumit beneran. Selepas curhat ini itu tentang pria yang menyukainya (dan mungkin pria yang disukainya) si bunga malah ngasih pertanyaan legend. akhirnya saya memutuskan untuk melakukan riset tentang si bunga.
"Akang, itu lho geura ada yang ngasih surat cinta sama saya, mau lihat nggak?"
"Aciee. Ehh, itu mah privasi. Tapi kalo mau ngasih lihat juga boleh."
"Kayaknya dia suka deh sama saya. Menurut akang gimana?" Sambil pake emoticon senyum senyum gitu.
"Aihh nanya lagi. Jawab sendiri lha!"
Perlu diketahui kalo si bunga itu ahli membangkitkan api cemburu. Bagian ini sudah saya bahas diatas tadi. Gimana ngenesnya batin saya kalo diginiin! Dan hebatnya peristiwa ini sering terjadi! Ya Salaam! mamvus kamu, Oom!! Merujuk pada riset yang telah saya lakukan bertahun-tahun. Maka wajib hukumnya untuk diketahui kalo si bunga udah nanya "Menurut akang gimana?" ada kalimat sakti yang sengaja tak sengaja sedang disembunyikan. Lengkapnya seperti ini.
'Menurut akang gimana? Saya cocok sama dia atau.. saya cocok sama kamu? Hhehe" Haa See?? Pertanyaan paling manja bin greget yang pernah saya terima. Lha sebenarnya si bunga ini suka sama siapa sih? Yang punya perasaan kan dia? Kok nyuruh saya mutusin perkara?! Logikanya dimana coba? Akhirnya karena si bunga maksa saya buat ngasih tanggapan, saya jawab seadanya. "Ya terima sajalah si fulan itu kan saya tahu kelakuan dia bla.. blaa.. blaa.." mati-matian saya nahan atiit di atii. tapi saya harus fair, ngaku kalo kualitas hidup si fulan emang lebih tinggi dari saya. Tak disangka! Ehh dengan mudah nan enteng si bunga malah ngeledek.
"Huu dasar cowok nggak peka!" what the hell.....ium neon argon oke skip!!
"Kamu itu gimana sih? Masa menyukai dua lelaki sekaligus?? Saya nggak ngerti ah. kamu mah rumit."
"Hhehe sama. Saya juga nggak ngerti." Rasa-rasanya begitulah wanita. Ada saat dimana mereka tak mampu memahami perasaan diri mereka sendiri tapi menuntut pengertian dari para lelaki. Yang memang hal ini baru saya sadari. Ya saat si bunga mengakui kalo itu adalah kode. Apakah saya memiliki perasaan yang sama dengan si bunga atau nggak. Kan gendok kalo tahu saya merasakan yang iya-iya, terus si bunga malah nerima si fulan karena gak tahu gimana perasaan saya. Uhh, bisa jadi film "My Heart" new version. Jika harus menurut logika lelaki. Sebenarnya tak perlu muter-muter toh? Kenapakah tidak terus terang saja jika cinta? Takut clbk? Cerita Lama Berulang Kembali? Tenang saja, cintamu pasti ku balas kok.. Aishh, maaf genitnya kumat. Haa lanjut lagi! Tentunya kita (penduduk asgard) tahu dong kalo si bunga tuh tipe-tipe ukhti yang pakaiannya syar'i banget. Peluk-able gitu. Pernah nih ya pas si bunga masih malu-malunya kalo gak sengaja ketemu sama saya. Saat itu kami berpapasan, saya senyumin. Eh si bunga malah berlari-lari kecil (kebayang kan gimana lebaynya bunga-ku ini). Karena tingkah childish-nya, kerudung yang dipake pun sedikit tersingkap dan terlihatlah rambutnya. Saya yang hendak menyusul terhenti seketika. Ternyata, rambut doi berwarna hitam dan panjang, agak sedikit ikal. Entah karena belum di sisir atau memang seperti itu dari sono-nya. Tak hanya rambut, saya juga pernah melihat betisnya. Hanya sekitar 0,01 detik. Si bunga pernah bilang kalo salah satu momen kami yang berkesan itu saat kami baru saja menyelesaikan program baksos. Sambil mengobrol kami berjalan menuju gerbang depan sekolah, Penosis yang lain pun masih berkeliaran di sana. Persis di saat semua mulai bubar, saya melihat si bunga kesulitan menaiki mobil pick up. Pengen saya bantu, tapi tak mungkin kan karena kami belum mahram. Dengan bantuan teman-temannya dia pun berhasil naik namun saat menginjakkan kaki di bak mobil, rok panjangnya tersingkap dan membuat betisnya terlihat. Hanya seketika dan mungkin hanya terlihat oleh saya. Di situ saya beristighfar. "Subhanallah.." ehh "Astaghfirullah.." Hehe rezeki itu. Udah ah skip jangan ngekhayal! Lha terus kenapa saya ceritaken hal ini? karena sesuai kesepakatan dengan Kang Usep bahwa barangsiapa tak sengaja melihat 'aurat ukhcan dan ukhsay, maka wajib hukumnya untuk si ukhcan dan si ukhsay untuk menikah dengan orang yang melihat 'auratnya. Jadi, mengikut keputusan ini. Maka saya dan si bunga wajib untuk segera menikah. Hihihi, hukum macam apa itu? Ngaco emang!! Ampuun Gusti, aya-aya wae ah!
***
Kebetulan nih keesokan harinya pasca baksos, adalah tanggal 2 Oktober, bertepatan dengan hari tahun baru islam. Ada pawai obor di alun-alun kecamatan hingga membuat saya belum tidur di malam itu. Tak disangka pula si bunga tengah menyiapkan hadiah untuk saya. Di gambar itu ada wasiatyang epic.
"Semoga jadi ayah yang baik untuk anak-anakmu kelak. Jadi menteri pendidikan yang sukses. Once again, don't baper!!" What? Wasiat macam apa ini? semu semu kesel bikinnya ya? yaelaah tenang aja saya gak baper kok, yang ada makin cint.. Oops!! Takut ditabok si bunga. Tahu kan dia mah kalo ngambek kayak macan sadis. Gambar itu gak jadi kertas kotretan, masih ada wujudnya. Yaa walaupun sudah tercemari oleh air, api, bumi, udara.. Jadi antik toh? kayak judul lagu..
Hmm, apalagi yak? Si bunga juga mengakui "kenakalan"-nya ketika mpls. Di mana saya yang sok galak sedang mencegat rekan-rekan tutor yang terlambat. And like as her words, saya seperti gak lihat si bunga juga telat. Bukannya gak lihat sih, tapi slow motion momen inersia kembali berlaku di sana. Oom jay berucap, "Dunia disulap sunyi ketika keduanya bertemu. Semesta berkonspirasi menghentikan bandul waktu hanya demi memberikan ruang kosong bagi sepasang jiwa yang dahulu pernah berjanji untuk saling menemukan di alam ruh, namun terlupa setelah kelahiran yang pertama. Dan di antara belantara marcapada yang membentang, kini keduanya kembali bertemu. Mencoba menekuri satu persatu lorong ingatan di mana keduanya sama-sama hanya berupa kesadaran tak berjasad. Kamukah itu?" Wokay slow motion off! Hebatnya, setelah si bunga lewat. Saya lupa apa yang baru saja terjadi dan benar-benar lupa hingga si bunga mengakuinya berabad-abad kemudian. Oh ya saat tutoring mpls si bunga juga dekat dengan junior kami, Kiki dan Remilda. Dua-duanya juga dekat dengan saya sih. Uniknya, Kiki ini berlaga seolah tidak tahu apa-apa tentang kisah saya dan si bunga. saya malah kaget sat tahu kalo di sekolah Kiki cs. suka mencomblangi si bunga dengan saya. lain lagi dengan Remilda, dia tak segan menggoda si bunga dimana pun kapan pun hingga si bunga baper melarut-larut, hingga gagal move on. Pada saya juga bersikap demikian, dari urusan hati hingga urusan "taeun" selalu kami bahas. Allahu.. baru saya sadar kalo adik-adik ini sudah tak sepolos kain kafan. Masih kuat lanjut nih? Keunikan lain yang terjadi antara saya dengan si bunga yaitu kami punya chit chat yang abadi di dunia maya. Segala hal kami bahas. Dari yang segede alam semesta hingga hal-hal sekecil atom, bahkan elektron. Berbanding terbalik saat kami berjumpa di dunia nyata. Dua pertemuan terakhir adalah saksinya. Saat saya bertandang ke SMA untuk suatu urusan dan bertemu dengan si bunga. Jangan kira bakal ada percakapan yang romantis. jangankan sepatah kata, seulas senyum pun tak mampu kami lukis. Gak kuat oom, beneran!! Datar saja, bagai dua orang asing seolah tiada apa-apa yang pernah berlaku di antara kami. Bisu, saling meramu angkuh untuk mengakui sejumput rindu. Lalu saat rihlah, bersama Diman dan kawan-kawan. Ini masih mending, ada segurat senyum saat kami bertatapan. Senyum pertamanya pada saya setelah banyaknya ujian hidup yang diterima si bunga. Ujian yang membuatnya kehilangan senyawa bahagia. Membuatnya merajuk dan menyesali ketiadaan saya. Salah saya memang. Jujur dan terbuka adalah salah dua hal penting yang harus ada dalam sebuah ikatan. Entah dalam keluarga, sahabat, etc. Agar saat salah seorang pelaku tersakiti, ada pelaku lain yang mampu menerima energi kesedihan yang dirasakan. Saya salut pada si bunga, sekokoh itu ia bertahan. Sendirian. Meski wanita banyak mengeluarkan air mata. Hufft, nanti. Apa pun yang terjadi, sesakit apa pun itu, kamu jangan takut lagi ya? Kamu gak akan sendirian. Tuhan ada untuk kita. Saya ada untuk kamu. Bahkan sejauh apa pun kita, bukankah saya ada di hatimu? Bukankah saya adalah detak jantungmu? hayoo ngaku yang sering mikirin saya diam-diam? Segitunya kamu terpesona. Apa sih kok jadi gombal ah, err pokoknya mulai sekarang kamu gak boleh takut ya. Kamu gak sendirian. Kita hadapi dan atasi semua sama-sama. Memang tak banyak yang bisa saya bantu, karena saya tak tersentuh. Dan jarak kita pun cukup jauh. Tapi sering kali kekuatan jiwa-lah yang mampu menyelesaikan masalah. Bertahanlah seperti dulu, saat kita banyak-banyak memanjatkan doa dan berusaha sebisa mungkin, dengan rasa semangat. Sendiri itu memang berat, tapi saya yakin di mana pun kamu pasti di sana ada sahabat dan orang-orang baik yang mengelilingi kamu. Karena kamu orang yang baik. Bukankah kamu sendiri yang mengatakan jika ikatan persahabatan jauh lebih kuat dari ikatan "cinta dua orang"? Saya gak nyalahin kamu kalo emang kamu lebih nyaman berbagi rasa dengan saya. Mungkin bagi kamu saya adalah sahabat sekaligus orang yang kamu cinta. Tapi mereka, saya sangat yakin jika mereka yang dekat denganmu pasti berusaha membantumu. Kamu yang tenang ya, kita banyakin husnuzhan. Sabar dan sholat. Semoga Allah mengabulkan semua hajat dan doamu. And may Allah give us an nafsul muthmainnah..
***
Terakhir nih ya dalam hikayat hari ini. Hal terakhir yang kami bahas sebelum saya menyepi dan kami pun saling melepaskan adalah fakta bahwa orang tua si bunga mengetahui kupu-kupu yang mendekati si bunga di masa lalu termasuk saya pastinya. Dan yang membuat hal ini amat mengesankan adalah saat bundanya si bunga melafazkan nama saya di hadapan jiwa-jiwa kepoh dan penazaran. Efeknya, saya kembali menjadi "Him, who most wanted" dan mendapatkan rating popularitas tertinggi di mesin pencarian gugel. Tanpa perlu ditanya lagi salah seorang sahabat saya memaparkan riwayat saya dengan senang hati.
"Dais mah temennya aku. Pinter lho, ranking satu, juara umum. Caket sareng Vanesha da mereka mah atuh menjalani cinta dalam ikhlash bla.. blaa.. blaa.." jelasnya jernih sejernih air mineral yang ada manis-manisnya. Sampai di situ, saya mulai mencium bau-bau pelaminan. Tak butuh waktu lama bagi si bunda untuk memverifikasi kabar ini pada anaknya. Kalo kata si bunga sih, pertanyaan bunda itu lucu. Gak tahu deh dimana lucunya karena si bunga belum bilang. Saya jadi penasaran. Saya juga kaget saat tiba-tiba si bunga memberikan info beasiswa kuliah di LN.
"Saya kan baru mengundurkan diri. Udah dikasih info gini aja nih." tolak saya halus.
"Emm nggak itu bukan saran saya, kok. Ayah bilang kalo lelaki itu panjang langkah, bisa berjuang dimana aja. Kata ayah kasih aja info ini sama Dais, siapa tahu berminat. kalo nggak saya juga gak maksa kamu. saya yakin akang tahu mana yang terbaik untuk akang."
Terus yang ngagetinnya di mana? Itu lho, si bunga bilang kalo ayahnya nyaranin saya buat kuliah di LN. Kenalan juga belum, Pak. Udah ngasih petuah keren aja. Kan batin saya jadi nano-nano gitu, ada malu, terharu, bahagia dan saudara seperguruan. Mengetahui fakta bahwa ortu si bunga sedikit interest sama saya, di sana bau-bau pelaminan kembali menguar. Dan kali ini jauh lebih kuat.


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda