Secarik Kilas Balik Eps. 7
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Dengan menyebut asma' Allah, kembali saya lukis huruf-huruf penyubur cinta. Saya bersyukur sekali pada Tuhan yang telah menguatkan hati dan kaki saya untuk terus berjihad dan melangkah. Hatta mencapai hari ini, dalam keadaan sehat dan berusaha menapaki jalan lurus yang pernah ditempuh hamba-hamba terbaikNya.
Seorang karib menyadarkan saya, tidak ada sesuatu yang benar-benar baik-baik saja. Pun hatimu begitu. Rupanya kamu begitu terluka. Sehingga kamu memilih untuk mendiamkanku? Atau menghindariku? Atau mungkin hanya membatasi komunikasimu denganku? Entah karena saya yang keterlaluan hatta tak pernah peka pada keadaanmu atau karena kamu sudah terlalu lelah mengharapkan pengertian dari saya. Astaghfirullah, begitu zhalim jiwa ini padamu. Tak terhingga jumlahnya kata maaf yang terlafaz dari lisan pendosa ini. Menandakan kerutinan saya melakukan kesalahan, membuatmu tak nyaman dan "tersakiti". Dari kelamnya kebohongan di langit hati saya, ada salah satu titik jujur yang paling terang di sana. Yaitu, cinta! Ya!! dengan jujurnya saya katakan lagi- salah satu kalimat paling langka dalam hidup saya-bahwa: Saya cinta kamu. Sejak dulu, kini dan mungkin untuk selamanya. Saya memang bodoh. Terlalu mendewakan cinta. Terlalu terbawa perasaan. Tak mengapa, karena orang lain tak bisa dan takkan mampu memahami betapa berharganya kamu untuk saya. Setelah bapak meninggal, saya tak mendapati cinta sebanyak yang orang lain rasakan. Jangan tanyakan Ibu atau keluarga saya, Insyaa Allah saya akan ceritakan tentang mereka satu saat nanti. Maka tak berlebihan kalau saya merasa amat bahagia saat kamu dengan nyata-setidaknya pernah?-mencintai saya setulus hati. Sungguh sulit rasanya mengguratkan surat ini. Tak ada kata yang mampu mewakili betapa berharganya kamu untuk saya. :) Pendeknya, saya seperti orang yang dahaga di gurun pasir, lalu kamu datang dan memberi saya secawan air sejuk. Betapa tidak hal itu membuatmu menjadi salah seorang manusia paling berjasa dalam hidup saya. Ingatkah kamu? Saat saya "dihina" dihadapan banyak orang, hanya kamu yang tidak menertawakan kecacatan saya. Ingatkah kamu? Saat saya jatuh tanpa ada seorangpun yang mengerti kesedihan ini, kamulah yang pertama kali menerima kefakiran saya. Dan tahukah kamu? Kamulah satu-satunya manusia masa kini yang menjadi alasan saya untuk tetap semangat menapaki jalan kehidupan, kamulah satu-satunya wanita yang memberi saya amanah sekaligus kehormatan untuk menghalalkan fitrah ini, memperjuangkanmu, menikahimu, menemanimu menuju Allah. Tidak, jangan lagi! Jangan beranggapan seperti itu. Sekali-kali, tidak! Kamu bukan pemberi harapan palsu, apalagi sengaja mempermainkan perasaanku. Kamu dan saya sama. Sama-sama tak kuasa menumbuhkan ataupun menghilangkan kecenderungan di hati. Apa yang saya katakan barusan hanyalah cara Tuhan menghadirkan cinta di hati ini. Dan Tuhan memilih kamu sebagai perantaraNya. Tak perlu salah paham. Ini tidak melulu tentang cinta. Dan jangan salah paham lagi. Bukan berarti dengan mudahnya saya melepaskan semuanya, dan tak punya perasaan "suci" itu lagi. Sungguh, semakin lama rasa ini malah semakin mengakar dan menguat. Walaupun memang sudah seharusnya saya mengembalikkan segalanya kepada Tuhan. Dalam hal ini, saya tak perlu memaksamu untuk terikat. Kita sama-sama belum siap untuk menikah. Itulah mengapa saat ini kita hanya bisa merelakan semuanya dan menyiapkan diri agar mampu untuk segera menikah. Saya sadar diri. Saya hanya amat sangat tidak ingin kehilangan sahabat seperti kamu. Do you know? I am alone and i need you for a long time exactly. Saya hanya belum siap untuk melepasmu pergi. Melepas cinta bukan berarti harus melepas orangnya juga ya 'kan? Mohon beri saya waktu untuk terbiasa. Terbiasa untuk tak mendapat kabar darimu. Terbiasa untuk kembali menikmati hari-hari saya yang senyap. Terbiasa untuk tak lagi bertumpu pada kokohnya sanggaanmu. Terbiasa untuk tak lagi mendapati keceriaanmu. Terbiasa untuk tak lagi mendengarkan polosnya kamu bercerita. Terbiasa untuk tak lagi berbagi suka dukaku padamu. Yaa? Sebentar saja. Saya mohon beri saya waktu. Awalnya memang saya sedikit kepayahan, tertatih-tatih menjalani kehidupan. Namun saya yakin suatu saat nanti yang entah kapan, berangsur-angsur kepulihan saya pasti tiba. Meski semua takkan sama seperti di saat kamu ada untuk saya. Ada keping jiwa yang hilang, dan ada bagian yang kosong di hati ini. Tapi ya kalaupun kamu memutuskan untuk "pergi" sekarang, aku bisa apa? Apa pun keputusanmu, saya hargai semua itu. Baiklah, saya tanyakan untuk yang terakhir kali, apa yang membuatmu menghindar dari saya? Satu kesalahan mana yang membuatmu amat 'jauh' tak terjangkau? Ohh ayolah saya tak mampu menebak-nebak. Diammu malah membuat saya semakin kalut dan kacau. Saya mohon, bicaralah. Atau jika kamu tak ingin bersuara, saya putar balik ya cerita kita 2 tahun lalu? Kamu tinggal tunjukkan saja bagian mana yang membuatmu teramat sangat sakit. Jika diingat-ingat lagi, pertama kali semuanya menjadi semakin jelas adalah di saat kita berbicara tentang rasa cemburu. "Anesh cemburu ya?"
"Aku mah siapa atuh da mau cemburu sama akang ge gak ada hak. Eh kumaha?"
Sejak saat itu satu persatu kata hati mulai muncul diwakili oleh diksi. Sayangnya, sebelum kata suci itu terucap. Saya sudah lebih dulu meredam harapanmu. "Terimakasih, kehadiranmu memberikan berjuta makna. Tiada hal yang lebih indah daripada saat itu tiba. Saat dimana kita mengatakan apa yang kita rasakan." katamu waktu itu. Sekitar sebulan berlalu. Setelah pertemuan kita di sekolah dan di beranda suatu mesjid. Kamu akhirnya menyadari kehadiran fitrah itu. "Bilangin sama dia. Berjuang aja! Ada yang harus dihalalin" pesanmu pada sahabat kita. Saya yang tak menyangka hal itu akan terjadi, tentu saja merasa kaget. Betapa tidak, sejak "instagram" berlalu. Saya sentiasa memikirkanmu, mencoba mencabut benih-benih cinta yang mulai bersemai di hati. Bukan apa, saya sudah mawas diri kalo saya agak kurang pantas bahkan untuk sekedar mengagumimu. Untuk meredam hal itu, saya selalu menjauhimu. Menghindar darimu, memarahimu. Karena saya tak ingin semakin tertaut padamu. Entah ini disebut keberuntungan atau apa, dengan perlakuan saya yang seperti itu kita malah sering bersama. Dan fitrah itu tumbuh subur tak terhentikan oleh waktu. Puncaknya ya, itu tadi. Kamu memberikan saya sebuah kehormatan besar untuk mengucap janji suci dihadapan Tuhan. Sayangnya, tak lama setelah itu. Saya "menghilang", sebulan kemudian kita kembali terhubung. Dan kamu sudah tahu kabar jika saya mengundurkan diri dari Unpad. Baiklah saya perjelas di sini. Penyebab utamanya adalah kondisi keluarga saya yang sudah amat jauh dari Tuhan. Ada yang terlilit utang ribawi, terlibat tindak pidana, ada pemakai obat adiktif, ada yang sakit parah, dan sekian banyak keadaan lain yang sebenarnya merupakan aib. Saya, tentu saja harus bertanggung jawab atas keselamatan keluarga saya di dunia dan akhirat. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk membawa kembali keluarga saya ke jalan Tuhan. Dan untuk itu, saya tidak bisa berada di Bandung. Saya harus berda'wah dengan amal, dengan tangan dan dengan segenap kemampuan yang saya punya. Tugas yang berat, amat berat. Bahkan pernah membuat ibu saya menjadi murka. Kini keluarga saya sudah membaik alhamdulillah. Dan kamu, ketika saya jelaskan kepadamu tentang kefakiran saya, langsung mengerti. Kamu tak seperti kebanyakan orang, yang mengatai saya dengan kufur nikmat! Egois! Tak tahu diri! Memang wajar jika mereka amat kecewa karena saya bungkam, tak ingin membukakan aib keluarga saya. Padahal jika mereka tahu, mungkin pertolongan mereka akan sangat membantu. Di sini kamu jangan heran mengapa saya menghilang, HP saya rusak. Dan belum ada gantinya. Sedangkan saya belum sempat mengabarimu tentang hal ini (padahal saya amat membutuhkan pendapatmu) karena waktu itu saya bahkan tidak punya sepeser uangpun untuk menghubungi siapapun. Keadaan keluarga saya amat kacau masa itu. Kamu mungkin belum tahu juga mengapa saya tak mengambil IQTAF di UIN. Percayalah saya amat sangat ingin menjadi ahlul qur'an. Namun di sana belum ada beasiswa untuk mahasiswa baru, sedangkan saya hanya punya uang tiga ratus ribu. Itu pun pemberian pihak sekolah atas keberuntungan saya di sana. Ibu saya sudah mengusahakan tapi mungkin belum rezekinya saya kuliah di UIN. Harga tiket kereta sekitar dua ratus ribu jika belinya mendadak, belum ongkos ke UIN dan biaya lain yang tak terduga. Sedangkan di Jogja saya harus stay beberapa hari. Belum lagi uang UKT yang bagi saya kemahalan. SPP saja belum lunas, ini UKT berjuta-juta? Belum lagi saya juga punya utang yang tidak sedikit. Dan tak mungkin saya menyusahkan guru saya lagi karena mereka sudah terlalu banyak membantu. Hingga bulan november, saya hanya bisa berserah pada Tuhan dan menangis, berusaha agar tidak mengeluh. Dengan dorongan semangat darimu dan dari mereka yang peduli, perlahan saya coba bangkit. Saya kembali belajar sambil berusaha membawa keluarga saya menuju keridhoan Tuhan. Hanya kamu yang menemani saya menghadapi hari-hari paling menyedihkan dalam hidup saya. Saya pikir setelah saya mengorbankan hal yang saya cintai, yaitu Kimia. Saya akan segera mendapati kebahagiaan lain. Tapi rupanya Tuhan menyayangi saya, dengan membuat mata saya mengalirkan samudra air mata selama setahun lebih. Dan menempa hati saya dengan tekanan yang amat sangat tinggi. Hingga saya tak punya alasan lagi untuk melanjutkan hidup. Semesta seolah-olah menghukum saya, dan takdir seakan-akan menolak kehadiran saya. Tapi kamu, ya, kamu. Satu-satunya orang yang masih saja menyemangatiku. Ketika saya terpuruk, saya selalu bertanya padamu. "Kita nikah yuk?" Bukan tanpa alasan, bukan omong doang. Setidaknya ketika kamu mengatakan kesediaanmu, selalu ada rasa hangat dan semangat di hati ini untuk senantiasa berusaha menggapai cita-cita, mengubah keadaan. Ya, cinta dan kebersamaan kita merupakan sumber energi dan sugesti yang amat sangat ampuh bagiku untuk bangkit setelah jatuh. Sayang, sekitar bulan april perhatianmu padaku mulai menghilang. Mungkin kamu jengah karena saya terlalu bawel atau mungkin kamu harus fokus UN. Makanya saya tak terlalu sering mengabarimu. Pasca UN, saya kira semuanya akan baik-baik saja seperti dulu. Tapi saya merasakan ada sesuatu yang berubah darimu. Kamu tak pernah membuka pembicaraan denganku lagi, dan hanya merespon pesanku seadanya. Seperti bercakap dengan orang asing. Padahal waktu itu saya amat membutuhkan dorongan darimu, saya butuh saran dari kamu, waktu itu saya sedang berada di puncak konflik dengan keluarga, terutama dengan ibu. Dalam ketakutan yang luar biasa besar, akhirnya saya memilih untuk tidak lagi bertumpu pada penyanggaanmu. Getir memang. Saya merasa saya benar-benar sendirian kali ini. Tidak ada "mawarku" yang selalu menjadi pelipur lara di tengah badai yang menyerbuku. Tapi saya sadar kamu juga harus merasakan kebahagiaan, bukan malah menjadi penampungan keluhan saya yang tak terbatas. Karena kita jauh, dan saya tak sanggup untuk bertanya padamu, saya pikir kamu sudah mendapatkan kebahagiaanmu dan untuk itu saya harus pergi dari hidupmu (walau saya masih amat merindukanmu dan membutuhkanmu). Dan momennya pas dimana HP saya harus kembali diuangkan, untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang amat sangat mendesak. Saya tak sempat mengabarimu, hanya sempat menyampaikan salam perpisahan lewat akun instagram. Saya menangisi perpisahan itu. Setelah mencoba menanyakan mengapa kamu agak berubah, saya sadar saya hanya bisa tersenyum dan bersyukur. "Tidak semua kata bisa mewakili isi hati." Kamu bilang. Saya bisa apa? "Do pal rukha khwaabon ka karvan.." Saya ketik lirik lagu yang bisa mewakili keadaan kita saat itu, dan dengan bodohnya saya anggap kamu sudah tak ingin menggapai impian itu bersama saya karena pikiran saya sedang amat sangat kacau dan akhirnya kita pun kehilangan kontak selama berbulan-bulan. Selama itu pula saya belajar kalau cinta sejati hanyalah cintanya Tuhan, Dia selalu ada untuk kita setiap saat. Saya belajar mengikhlaskan dan melepaskan cinta ini, hingga saya cukup terbiasa menjalani hari tanpa kehadiranmu. Satu hari, tiba-tiba saya amat merindukanmu. Saya pun jatuh sakit, dan berusaha membuat surat untukmu. Ternyata, itu adalah pesan Tuhan bahwa kamu juga sedang merindukanku. Yang tak saya duga adalah ternyata kamu pun mengalami hal yang tak jauh berbeda dengan saya. Saya menangis sejadi-jadinya. Saya adukan semuanya pada Tuhan. Tiap-tiap sempat saya doakan kamu. Saya merasa amat sangat sangat menyesal dan bersalah telah meninggalkanmu. Padahal di masa-masa seperti itu saya paham betul kamu butuh seorang pendengar, bukan seorang hakim yang memvonis segalanya terjadi karena kesalahanmu. Sayang beribu sayang, saya tak ada untuk kamu. Karena di sisi lain, saya sedang mati-matian melepaskan fitrah ini. Mengikhlaskan segala kerinduan. Berbulan-bulan kamu menangis, dan berbulan-bulan pula saya berduka. Akhirnya kita memutuskan untuk menulis pada sebuah blog. Kamu menulis surat untukku. Surat yang mengembalikan semua semangat saya untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita. Surat yang berarti segalanya untukku. Yang selalu membuat jiwaku bangkit saat saya hampir menyerah.
Assalamu'alaikum Wr.Wb.,
Annyeong! Aahh kamu masih inget kan apa artinya, atau.. mungkin kamu udah lupa, wajar aja sih.. tujuan nulis surat ini bukan karena tujuan yang tidak penting, tapi aku hanya ingin jujur dengan segala hal yang terjadi setelah semua itu lepas. Lebih tepatnya lepas lalu ikhlas. I have done it, bahkan sudah 50% aku tidak mengingat hal itu. Hebat kan?
Gimana kabarnya? Everything is all right or something is wrong?.. semoga semuanya baik. Udah beberapa bulan tidak ada notification dari kamu, awalnya aku bersyukur bahkan bisa memendam semuanya sendiri, berlagak segala hal yang datang baik-baik saja, tapi nyatanya Pangeran Shin dalam Princess Hours benar, "aku mungkin bisa melepasmu sekarang, membiarkanmu pergi ke tempat asalmu, tapi setiap hari aku melihat dan berbincang denganmu, lalu kalau kau pergi, apakah aku bisa hidup tanpamu?" lebih tepatnya seperti itu. Dan beberapa hari terlewati masalah-masalah itu pun muncul seiring tak terhentikan oleh waktu, seakan-akan terus masuk ke dalam hidup ini, aku tidak tahu kenapa itu terjadi, tapi percayalah di saat-saat seperti itu I need someone who can accept my problem story, saat itu kebetulan sudah tidak ada notif tentang kamu, dan benar-benar rasanya beda. Dulu setiap kali aku sedikit saja mengalami kesulitan kamu langsung membahas itu lalu memberi solusi walaupun terkadang aku egois tidak mau menerima saran-saranmu itu, mungkin orang yang paling bisa mengerti di saat aku dalam lingkaran itu kamu, aku tidak akan munafik kalau harus mengakui teman-temanku yang lain lebih bisa mengerti, tapi sekarang aku sadar mereka semua tidak bisa seperti kamu yang sangat bisa memahami, bisa lebih peka di saat moodku hancur, kita punya banyak kesamaan karena itulah setiap kali aku cerita tentang hal apa pun itu aku percaya kamu pasti bisa menghargai ceritaku itu, kamu jangan minta maaf lagi karena segala hal yang kita impikan tidak akan menjadi nyata untuk sekarang, tapi percayalah Allah akan selalu memberi pertolongan kepada orang baik seperti kamu.
Kamu pernah bilang kalau setiap kata-kata yang kita tulis atau posted pasti selalu mewakili isi hati, tapi dengan bohongnya aku berkata kalau tidak semua kata-kata bisa mewakili isi hati. Dan sekarang aku akan jujur, kamu benar, memang semua kata-kata selalu mewakili isi hati. Dan dengan jujurnya sekarang aku mengakui bahwa saat kamu sudah tidak ada, salah satu unsur itu juga hilang, iya! senyawa kebahagiaan yang aku punya sekarang kehilangan salah satu unsurnya. Dengan jujurnya sekarang, aku mengakui bahwa unsur yang selalu mendengarkan keluh kesah, unsur yang selalu memberikan petuah-petuahnya yang panjang lebar bahkan kisah hidupnya yang tidak banyak orang ketahui pun serasa bermakna untukku, karena tidak semua orang bisa mengerti jalan pikiranmu dan hidupmu, dan sekarang unsur itu lepas entah kemana. Aku terkadang berfikir apakah kamu di sana sudah hidup lebih baik atau sama saja atau bahkan lebih buruk dari itu, atau mungkin kamu sudah benar-benar lupa dengan apa yang pernah terjadi? aku hanya ingin unsur itu kembali, aku tidak peduli apakah kamu yang tetap akan kembali menjadi unsur itu atau akan ada orang lain yang akan menggantikan posisi itu, sejauh ini belum ada yang bisa menggantikan posisi itu, walaupun banyak yang hinggap tapi mereka tidak bisa mengerti apa yang sedang aku alami, mereka yang hinggap hanya tahu aku baiknya saja tapi tidak buruknya.
Terserah kamu apakah kamu akan kembali dengan menjadi unsur yang sama ataukah memang unsurmu itu tidak bisa lagi menyatu denganku, kamu orang baik, otak encer, walaupun bukan dari keluarga berada tapi kamu punya skill yang menurutku itu sangat membantu dan bisa menjadi peluang kamu untuk sukses, ingatlah kalau tidak semua hal bisa dikerjakan dengan uang, aku juga merasakan betapa susahnya posisi kita di saat uang menjadi penghambat mimpi-mimpi itu, tapi percayalah untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu bukan uang yang menjadi faktor utama, tapi tekad dalam diri, kalau kamu memang bertekad menjadi orang sukses, uang satu perak pun akan bisa menjadi satu triliun. Trust me.
Aku berharap kepada Allah agar Dia mengirim seseorang yang bisa menjadi unsur itu, unsur yang bisa membuatku lebih bahagia, aku ingin itu menjadi kado untukku dariNya.
19 Juni 2018
Salam dari pengagum bunga mawar
untuk juragan kimia.
Partner bendaharamu,
Vanadium Astatin
***
Err.. sorry, i am so speechless. I'm talking with Mrs. Chemistry, right? Maaflah neng, baru bisa bertukar kabar hari ini, terlambatkah aku? Hmm.. Intimu, kamu ingin unsur itu kembali? Sepertinya kamu sedang mengalami sesuatu yang pernah aku lalui. Bicaralah, Tuhan dan aku akan mendengar. Selebihnya aku jawab setahuku, coba 'tuk sekedar mengurai gundah di hatimu.
Iya aku lupa, kan gurunya udah lama gak ngajarin hangul, artinya "halo" kan? Aku bersyukur kau memberitahu kabarmu dan terbuka atas sepotong masalahmu. Sejujurnya aku tak tahu harus bilang apa, secara tak sengaja aku menemukan kau menulis sesuatu di blog dan kau menghapus post di akun instagram. Awalnya aku fikir kau telah menemukan kebahagiaan, namun nyatanya Tuhan membuatku kembali berpapasan denganmu di gurun kehidupan ini. Kamu memang hebat dalam hal melepaskan, tapi rupanya aku yang lebih dulu sampai di satu kota bernama Keikhlashan. Mungkin akan ku bahas lain waktu.
At least, everything will be okay.. Hanya saja sering kita temui sesuatu yang menoreh luka di hati pada awalnya. Dan kabarmu? mungkin tak perlu ku tanyakan lagi karena ku baca coretan jiwamu melukiskan hati yang cacat kebahagiaan, jeritan yang persis sama dengan apa yang pernah aku keluhkan pada Tuhan dahulu. Jika begitu adanya, mengapa tidak kau telfon saja aku? atau.. Tidakkah kau ingin bertemu denganku? Nasib baikmu, sekarang kau pun tahu aku bukan Tuhan yang bisa selalu ada untukmu. Dialah sebaik-baik cinta dari segala cinta sejati, Zat Maha Suci yang selalu menemanimu menempuh perjalanan hidup. Nah, sekarang satu harap kecilmu dikabulkanNya. Kita berpapasan lagi di kota yang berbeda setelah jauh berpisah di kota-kota sebelumnya. Pantaskah aku menjadi kado untukmu dariNya? entah, yang jelas adalah Tuhan tak pernah menghapusmu dari hatiku. Meski segala fitrah telah kulepas kembali padaNya namun rupanya keyakinan itu masih tumbuh, sampai detik ini. Malah Dia mengantarku sekali lagi untuk mengetahui-dan peduli-sesuatu tentangmu. Tentang mimpi-mimpi itu, biarlah Tuhan himpunkan segalanya tanpa sisa! Imanku, setiap kenyataan selalu berawal dari sebuah keyakinan yang nyata.
Tahukah kamu siapa itu kebahagiaan? bagiku kebahagiaan sejati adalah ketenangan hati. Dan untuk itu, dulu aku harus pergi, melepaskan jiwa dari jerat-jerat nafsu duniawi hingga lepas sudah ketergantunganku pada zat-zat yang fana. Sekarang, saat aku benar-benar rela dan mulai berhasil menyembuhkan diri, Tuhan kembali menaruh amanah-amanah yang pernah aku genggam dahulu dengan tanganku. Termasuk amanah untuk menjadi salah satu unsur kebahagiaanmu. Aku tak tahu, aku sangat takut, mampukah aku mengemban semua ini? Kau pun tahu aku tak pernah percaya diri untuk ini. Semoga Allah berikan kekuatanNya padaku dan padamu. Seperti biasa, aku tak bisa mengajukan diri. Aku tak sebaik mereka yang hinggap pada mawar secantik dirimu. Terserah Tuhan menentukan apakah aku layak untuk kembali padamu sebagai unsur yang sama atau sudah kau temu satu pengganti? Aku mohon, temukanlah ruang spiritualmu, ruang dimana hanya ada kau dan Tuhan agar kita sentiasa terus beriringan tanpa harus melanggar duri-duri Illahi. Kala kau merasa berat atas beban yang kau tanggung, pulangkan hatimu pada Allah! Just let it go away! i know it's hard but believe and keep trying, and it will be okay.. Peluklah kerinduanku di setiap ujung tasbih lima waktu, pesanmu akan sampai padaku seperti semua ini. Percayalah bahwa saat kau menghadapkan wajahmu pada wajahNya, aku pun seringkali menghadap qiblat yang sama dalam shalatku, dalam gundahku, dalam suka dan dukaku, dalam dhuha ataupun dalam tahajjudku karena aku pun percaya, padaNya doa berujung dan pada cintaNya hati bertemu.
Hakmu menentukan siapa yang 'kan jadi unsur itu, sesuatu yang menjadi labuhan hatimu. Tapi ingatlah, jika satu masa nanti kau lelah dan tak tahu lagi harus kemana, tengoklah ke belakang! Selalu ada ruang di hati ini untuk kamu, mawar terakhirku.
Sabtu, 9 Syawal 1439 Hijriah
salam dari Tuan Cinta
untuk Nyonya Kimia
Tutor seksibidangmu,
Delima Istimewa
Semua mulai kembali membaik, namun tak kunjung membaik setelah kamu pergi dan baru kembali kemarin. Kamu kembali beku. Mungkin kamu agak kesal saat terakhir kali saya melarang kamu agar tidak bepergian tanpa mahram? Atau mungkin kamu agak kecewa saat saya tidak mengantarmu pulang ke rumah? Sebenarnya saya malah sangat ingin tahu di sebelah mana tempat tinggalmu, malah sekalian silaturrahiim sama keluargamu. Tapi sandal saya dipinjam Kang Mif tepat saat saya akan ikut keluar. Saya gak enak kalau harus nyuruh dia pake sandal sendiri. Jadinya ya gitu, tadinya saya ingin banyak bicara sama kamu tentang banyak hal namun rupanya kamu punya agenda sama Kang Fajar, dan saya tahu gak boleh ganggu. Waktu kamu juga sedikit karena sore hari kamu harus mengaji. Saya bersyukur meski cuman bisa denger langsung saat kamu bercerita. Dan saya hanya bisa ikut menangis waktu kamu nangis lagi. Sebenarnya saya tak masalah kalau kamu mau cuek atau mau marahin saya sekalipun, saya bersyukur kamu masih mau membalas pesan saya. Saya mulai mencari di mana letak kesalahan saya sehingga kamu kembali dingin seperti sekarang ini. Mungkin karena saya ngeunpublish "surat cinta" yang saya kasih sama kamu. Oh percayalah saya ngeunpublish itu buat diperbaiki lagi gramatikalnya biar rapi. Bukan berarti saya menarik kembali pernyataan saya tentang kamu. Kamu juga ngeunpublish surat kamu 'kan? Atau justru ade kamu yang ngelakuin itu? Ngehapus postingan-postingan awal kamu yang superbaper. Untungnya saya sempet mengabadikan surat kamu. Jadi bukti kalo kamu gagal move on masih aman. Atau, mungkin karena saya jarang bahkan tidak memposting riwayat kisah kita. Hingga kamu merasa kecewa. Atau mungkin kamu merasa bersalah atas apa yang saya katakan. Di eps 5 saya katakan bahwa kamulah salah satu alasan mengapa saya mengundurkan diri dari tempat yang saya impikan. Oh mengertilah, ini tidak berarti demi kamu saya harus mengubur impian itu. Atau saya menyalahkan kamu atas pengunduran diri saya. Justru saya ingin mewujudkan impian itu bersama orang yang saya sayangi. Hanya saja waktu istikharah dulu ada beberapa advantage yang bisa saya dapat jika saya mengundurkan diri. Salah satunya adalah peluang saya untuk menikahimu akan lebih besar jika saya tidak menjadi ilmuwan. Karena apa? Karena saya sudah bertekad jika saya menjadi ilmuwan maka saya akan mengikuti jejak para sufi. Membebaskan diri dari hampir segala perbudakan duniawi untuk mencapai kesatuan dengan Tuhan. Kamu pun tahu saya amat tertarik dengan ilmu tirakat. Saya tidak bisa mengambil risiko besar seperti itu karena saya juga berhajat untuk berkeluarga denganmu. Memiliki kehidupan yang normal, zuhud dan penuh keberkahan. Mungkin saya sangat naif, dan sok tahu. Siapa yang bisa menjamin saya akan menikah denganmu jika saya mengundurkan diri dari sana? Tidak ada, hanya Tuhan yang tahu. Dan memang inilah petunjuk Tuhan untuk saya. Saya memilih untuk memperjuangkanmu dulu lalu meraih satu demi satu impian saya dan kita bersama-sama. Saya bisa ngerti saat kamu bilang gak mau terlalu ngarep sama apa pun takutnya sakit hati lagi. Karena saya pun memang begitu. Bahkan saya bener-bener gak ngarepin apapun kecuali pada Allah. Bedanya, saya jelasin semuanya sama kamu mengapa saya begini dan begitu, sedangkan kamu tiba-tiba diam tanpa penjelasan apa-apa. Wajar kan jika saya kaget? Dan mikir yang nggak-nggak. Saya nggak lagi emosi kok, ya logis-logis aja. Rentang bulan Juni-September kamu bersikap seperti Anesh yang biasanya. Ceria dan terbuka. Dengan sedikit kecuekannya tentu saja. Komentarnya juga panjang lebar dan terkesan antusias. Lalu setelah kamu kembali ke dunia maya di tahun baru, kamu langsung diemin saya gitu aja. Sayang sekali, saya mengenal Anesh bertahun-tahun. Dan saya tahu mana sifat Anesh yang lagi ngalamin pms, yang lagi moody, yang lagi senang, dan yang lagi sedih. I know you so well. Gak perlu bilang "aku gak apa-apa kok. Gak usah minta maaf!" karena itu justru menunjukkan kalo kamu sedang "gak mau diganggu" sama saya. Kamu sedang tidak baik-baik saja. Dan saya merasa menjadi orang yang paling jahat di dunia saat saya bikin kamu nangis. Kembali ke topik utama, apa yang membuatmu kembali "dingin" pada saya? Saya belum tahu, tak tahu dan masih terus berusaha mencari tahu. Saya gak bisa nebak. Saya tanya padamu hingga pada saat teks ini dibuat kamu juga masih bungkam. Tak apa, saya mungkin bisa coba cara lain. Satu hal yang harus kamu ingat, apa pun yang membuatmu merasa sakit saat bersamaku, percayalah jika itu hanyalah kesalahpahaman di antara kita. Dan saya masih mencoba mengira bagian mana yang kurang mengenakkan hatimu. Dan mohon ingat ini selalu, di saat kamu kembali "dingin" seperti ini. Saya tidak akan pergi seperti saat saya pergi meninggalkanmu pasca UN tahun kemarin. Saya tidak akan membiarkanmu kehilangan senyawa kebahagiaanmu lagi. Hingga saat ini saya tak tahu mengapa dulu waktu kita sedang baik-baik saja kamu menjadi agak berubah. Dan mungkin saya tak perlu tahu, meski saya sangat ingin mengetahui alasanmu. Tak apa, yang terpenting bagi saya adalah saya selalu berusaha ada untukmu tak peduli bagaimana keadaanmu dan perlakuanmu padaku. Saya terlalu trauma untuk mengulangi kesalahan yang sama, meninggalkanmu di saat kamu bersedih. Pasal cinta, saya memang Insyaa Allah mengusahakan untuk selalu berada di posisi rela, ikhlash dan lepas. Oh sungguh jika kamu melakukan hal ini karena telah kamu temukan ruang spiritualmu, saya sangat bersyukur kamu memilih Tuhan dibanding hamba-hambaNya. Seperti yang saya katakan, beriringan tanpa harus melanggar duri-duri Illahi. Tapi jika ini terjadi karena kesalahanku, saya takkan pergi begitu saja. Jika kamu kecewa, kecewalah hingga hatimu merasa lega. Saya usahakan untuk melepas ikatan cinta yang tinggal seutas ini (jika kamu mau) tapi saya takkan sanggup melepaskan dirimu. You're my last Roses. Takdir kita takkan berhenti sampai di sini, kamu pernah bilang. Dan sekali lagi kamu bukan pemberi harapan palsu. Kamu hanya jujur dengan keyakinan dalam hatimu kalau kamu emang cinta sama saya, dan saya memilih untuk menghalalkan keyakinan itu. Karena bagi saya, tetap 'bersatu' itu jauh lebih penting daripada mencari cara untuk tetap 'bersatu'. Selama kamu tak menyuruh atau memaksaku untuk berhenti, maka
Aku tak akan berhenti menemani dan menyayangimu hingga matahari tak terbit lagi..
Jika kamu bertanya mengapa saya seyakin itu, jawabku tetap sama dan kamu pun sangat tahu jawabannya, Aku pernah memohon kepada Tuhan agar Dia menolongku dengan cintaNya, syahdan Dia menghadirkanmu bersama terbitnya matahari. Bersamamu. Damai dan tenang selalu kurasakan. Akhirnya aku sadar bahwa engkaulah wujud cinta Tuhan yang ditujukan untukku. Aku 'melihat' Tuhan dalam dirimu. Aku bisa saja meninggalkan manusia, tapi aku tidak bisa meninggalkan Tuhan.
Na kuch poocha, na kuch manga
Kau tak pernah meminta apapun, kau tak pernah inginkan apapun dariku
Tune dil se diya, jo diya
Apa pun yang kau beri, kau berikan dengan hatimu
Na kuch boola, na kuch toola
Kau tidak mengatakan apapun, kau tidak menghakimiku
Muskura ke diya, jo diya
Apapun yang kau beri, kau memberikannya dengan senyuman
Tu hi dhoop tu hi chaaya
Kaulah kehangatanku, kaulah bayanganku
Tu hi apna paraya
Engkau keluargaku sekaligus orang asing
aur kuch na jaanu, bas it nahin jaanu
Aku tidak tahu banyak hal, tapi aku tahu hal ini
Tujh mein rab dikhta hai
Aku melihat Tuhan dalam dirimu
yaaran, mein kya karoon?
Kasihku, apa yang harus kulakukan?
Tujh mein rab dikhta hai
Aku melihat Tuhan dalam dirimu
yaaran, mein kya karoon?
Sayangku, apa yang harus kulakukan?
Sajde sar jukhta hai
Aku bertekuk lutut patuh padamu
yaaran, mein kya karoon?
Kasihku, apa yang harus kulakukan?
Tujh mein rab dikhta hai
Aku melihat Tuhan dalam dirimu
yaaran, mein kya karoon?
Sayangku, apa yang harus kulakukan?
Rab ne bana di jodi..
Tuhan menciptakan segalanya berpasangan
Dan jika kamu memang sudah memilih untuk pergi jauh dari segala hal tentang saya, mohon ingat satu hal lagi. Jika kamu lelah dan merasa ingin menyerah, maka tengoklah ke belakang. Selalu akan ada ruang di hatiku untukmu. Dan kalaupun kamu meminta saya untuk berhenti memperjuangkanmu.. Saya hanya bisa mendoakanmu dan (mungkin) inilah pesan terakhir saya. Kamu pun sudah sangat tahu.
Tum ho gham ko chupaaye
Kau di sana, menyembunyikan duka
Main hoon sar ko jhukaaye
Sementara aku di sini, menundukkan kepala
Tum bhi chup ho, main bhi chup hoon ur
Kau terdiam, aku pun begitu
Kaun kise samjhaaye?
Lalu siapa yang akan menasehati?
Ab dooriyaan itni hain to
Sekarang ada jarak yang memisahkan
Milna yahan kal ho naa ho
Mungkin kita tak akan bertemu lagi
O, sach hai ke dil to dukha hai
Oh benarlah hati ini penuh duka
Humne magar socha hai
Tapi aku sudah membuat keputusan
Dil ko hai gham kyoon aankh hai nam kyoon?
Lalu mengapa hati ini masih berduka, mengapakah mata ini masih basah?
Hona hi tha jo hua hai
Yang sebenarnya terjadi pun, sudah terjadi
Us baat ko jaane hi do
Lupakanlah hal ini
Jiska nishaan kal ho naa ho
Inilah pertanda hilangnya hari esok
Har pal yahan jeebhar jiyo
Hiduplah dengan sepenuh hatimu
Jo hai sama kal ho naa ho
Selagi masih ada waktu, entah esok ada atau tiada
Ya, mungkin takkan ada lagi esok hari..


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda