Rabu, 15 Agustus 2018

Secarik Kilas Balik Eps. 8

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Pesan singkat pertamaku padanya adalah lafaz  "بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم". Ya karena memang di zaman dahulu short message service sedang booming di kalangan remaja. Seperti halnya whatsapp yang populer di zaman ini. Ada yang lucu saat aku mencoba meminta nomor handphone-nya. Lisanku sangat kesulitan untuk memintanya, rasanya seperti aku tak patut melakukannya. "Anesh, cik nyuhunkeun no. hp na", satu kalimat pendek yang bisa dikatakan dalam 2 detik itu menggelayut di udara tanpa pernah sampai pada pendengarnya. Mujur saja dengan bantuan Miftah aku memperoleh jawaban darinya. Cukup lama kami-Penosis-mengobrol di tepi lapangan, terik pun tak dihiraukan. Entah sedang apa waktu itu, tapi ku ingat hal itu terjadi sekitar minggu pertama tahun ajaran dua ribu enam belas hingga dua ribu tujuh belas. Err, aku tak tahu mengapa setelah masa orientasi siswa baru selesai aku selalu saja kesulitan memulai percakapan dengan Neng. Ah, mungkin karena dia pendiam aku pun jadi tertular sifatnya. Aku yang biasanya ceriwis setiap saat harus takluk dan hening seketika ketika menghadapinya. Mendengar Neng berbicara rupanya jauh lebih berharga bagiku daripada menghamburkan kata-kata dari mulutku. Wah, tidak biasanya aku seperti ini. I just feel ngagok untuk sekedar bertutur sapa dengan Neng karena teman-temanku memiliki kelainan yaitu hypersensitif dan baper di saat-saat kami mulai membangun sebuah obrolan. "Sok, sebatkeun sabaraha ku akang mah ditalar!", Miftah menawarkan solusi. Setelah obrolan "kagok" itu aku dan Miftah langsung pulang, ke rumahnya Miftah sih. "Eh, beraha tadi teh nomer Vanesha tea?", pintaku pada Mif. "089 bla..bla..bla..". Aku jarang sekali mengingat-ngingat nomor kontak seseorang. Membuat memori otakku penuh saja aku rasa, lain lagi dengan Mif yang banyak mengingat orang lewat nomor kontaknya. Setelah selesai urusanku di sana, kali ini aku benar-benar pulang ke tempat tinggalku. Tatapanku tertuju pada layar kecil di tangan, dengan helaan nafas yang panjang aku mulai menjentikkan jariku mengetikkan beberapa kata untuk ku kirim pada Neng. Lagi-lagi aku tak tahu mengapa aku harus melakukan hal aneh seperti itu! Aku hanya merasa hal ini akan menjadi sejarah yang akan aku ingat suatu masa

 ***
Pada semester kedua agkatan '14 menjabat sebagai pimpinan di Osisman 19 Garut, kami mengadakan sedikit revolusi dan banyak perubahan kebijakan dalam pengelolaan organisasi. Salah satunya adalah adanya sistem mentoring seksi bidang. Kebetulan waktu itu kami memiliki 10 sekbid, dan 2 sekbid terakhir adalah sekbid terbaru yang statusnya terombang-ambing karena pergantian kurikulum yang begitu sering terjadi. Mengingat sistem ajar angkatan '14 yang selalu gak saklek, akhirnya dua sekbid itu terkena imbasnya. Bak tersesat di tanah asing, mereka harus survive dan eksis di tengah lingkungan yang tidak sesuai. Mau sesuai bagaimana jika kurikulum kami kurang mengedepankan pengembangan iptek dan bahasa asing? Pasti beda ceritanya jika dua bidang itu berada pada lingkungan yang tepat. Pasti banyak dan seru sekali proker-proker bidang itu! Menghadapi kenyataan bahwa ktsp 2006 amat sangat kurang mendukung bidang Teknologi dan Strange Language, akhirnya aku memutuskan untuk memantau progress sekbid 9 dan 10. Walaupun alasanku sebenarnya adalah agar aku tidak jauh-jauh dari Miftah dan Yunus yang nyeleneh dan asyik banget saat diajak ngobrol atau nongkrong. Tak lupa pula satu dorongan kecil muncul di hati. "Sekbid 10 saja lha, ada Vanesha di sana.", seru batinku. "Lalu apa hubungannya dengan semua strategi ini?!" Buru akalku geram. Tepat pada tahun baru islam, yaitu tanggal 1 Muharram 1438 H. Neng memberiku sebuah gambar. Seorang siswa sma yang memakai kuffi (kopyah) dan terdapat doa disampingnya. Semoga menjadi menteri pendidikan katanya. Dan semoga menjadi ayah yang baik untuk anak-anakmu. Itu salah satu dari dua kado yang hadir di usiaku yang ke 16. Aku tersanjung, itu 'kan satu-satunya kado yang aku dapat dari seorang wanita. Aku sangat menyukainya meski sebenarnya aku lahir pada tanggal 4 Rajab. Aneh juga. 

***

Sauh angin muson yang mulai berbalik arah dan tujuan menjatuhkan daun-daun kering dari sebuah pohon besar dan rindang. Tulang-tulangnya yang rapuh terdengar merdu saat patah terinjak jejak kaki manusia. Seketika hal itu membuatku tersenyum.Sekaligus bernostalgia pada sebuah film yang berjudul "Mohabbatein" Hehe, benar sekali.Sebuah kisah cinta yang dimulai dengan sehelai daun. Daun mati yang menghembuskan napas cinta. Menjadi penghubung dua hati yang berbeda asal muasalnya. Tentang pemuda yang jatuh cinta pada gadis istimewa. Sayangnya, cinta mereka tak direstui ayah sang gadis karena perbedaan strata sosial. Walaupun sang ayah menolak pinangan dan mengusir pemuda itu lalu sang gadis meninggal dunia, cinta mereka tetap abadi kok. Buktinya, pemuda itu tidak menikahi gadis lain bahkan di hari senjanya  ia mengajarkan murid-muridnya tentang makna cinta sejati. Hwaa jadi inget si dia. Kamu dimana neng? Di Baytul Izzah Cimahi? Ah aku tak tahu, kamu lihat awan mendung gak? Syukurlah jika iya. Insyaa Allah di sana terkandung rintik-rintik rinduku yang masih mengkristal. Yang hanya akan jatuh saat langit menghimpun fitrah itu dari semua penjuru. Terjun bebas membasahi gersangnya hati, bersama air hujan yang mengalir tanpa henti. Semoga Allah senantiasa memudahkan dan memberkahi tiap-tiap urusanmu ya.
Jangan menghilang lagi. Sebab hilangmu merusak suasana hati. Jangan pergi tanpa kabar lagi, sebab pergimu selalu saja meyisakan sepi. Jika kau tidak bisa menguatkan aku dengan ada di sampingku. Jangan lemahkan aku dengan keberadaanmu yang tidak menentu. Jika kita tidak mampu bertemu setiap waktu. Setidaknya berusahalah untuk tidak membuatku terlalu lama menunggu. Karena jika kita benar saling jatuh cinta. Kita tidak akan pernah membiarkan hati yang utuh menjadi luka.

Label: ,

Selasa, 14 Agustus 2018

Secarik Kilas Balik Eps. 4

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Pintu kelas telah ku buka, bersama Teh Lisna aku melangkah keluar untuk "isoma" atau "ralatkan". Meninggalkan dua orang rekan kami yang sedang menjaga barang-barang di ruang gugus dan mengasuh anak-anak. Setelah itu kami berempat bergantian kegiatan, giliranku dan Lisna yang berjaga-jaga. Vanesha dan Sasnis yang keluar. Begitu rutinitas kami selama MPLS. Tibalah suatu hari, jika tidak salah Pak Farid yang sedang memberi materi waktu itu. Kami berempat duduk di belakang para peserta. Dan bersiap-siap untuk isoma. "Hayu Teh Lis!", ajakku. Tapi Sasnis menolak, "Sareng Vanesha weh Kang. Abi sareng Lisna," katanya sambil nyengir manja. "Ehh,, nya hayu atuh saha weh lah.", suka hati you semua lha batinku. Bukannya apa-apa, aku hanya tidak ingin terlalu telat shalat zhuhur. Neng pula hanya diam dan menunduk saat Sasnis bilang begitu. Tak lama kemudian kami pun keluar. "Err.. Anesh bade emam atau netepan heula? Sholat heula weh nya!", pintaku. Lagi-lagi Neng hanya diam dan mengangguk, lalu tersenyum. Ihh naon ngan tungkul weh hungkul, huriamnaaa.. aku menggerutu sendirian. Kami pun tiba di halaman masjid, mencopot sepatu lalu mengambil wudhu. Begitu tertib ku lihat sekilas perilakunya, rupanya Neng memang benar-benar tak mau 'auratnya terlihat apalagi tersentuh. Hwaa whatever, aku tak acuh. Sejurus kemudian kami pun masuk ke masjid dan shalat. Aku tak tahu apakah dibelakangku ada ma'mum laki-laki atau tidak. Tapi aku dengar gemerisik pelan seperti daun-daun kering yang jatuh di tepi jalan. Penasaran, aku pun pelankan pergerakan shalatku. Oh ternyata Neng berma'mum padaku, tebakku asal. Aku pun bingung, (aku lupa berniat untuk munfarid atau sebagai imam) lalu ku teruskan saja shalatku hingga selesai. Dan memang saat salaam pertama aku lakukan, dia juga melakukannya. Wah, enak saja menjadi ma'mumku. Kenapa tidak bilang mau shalat berjama'ah pikirku usil. Bisa gawat jika aku lisankan padanya, aku 'kan terkenal kejam di Osis. Begitulah, suasana shalat di sekolah memang butuh banyak penanganan lagi biar jelas segala hukum furu'iyyahnya. Setelah memakai sepatu, kami pun melangkah ke ruang Osis. "Hayu emam yu!", lagi-lagi Neng mengangguk. "Ini buat Vanesha, kita makan di sana ya!", tunjukku pada suatu tempat di ruang Osis. Suasana di sana sungguh indah, beberapa sohib yang sedang bersandar atau tertidur. Makanan yang berceceran serta tas yang berantakan menemani kami. Aku makan dengan lahap, tak banyak cakap. Usai makan kami pun segera kembali ke gugus untuk menyelesaikan tugas kami dan tiba pula waktunya untuk pulang.

***

Hari-hari selanjutnya kami berempat menjadi lebih akrab. Lisna yang pemalu juga mulai sering bercerita. Sasnis apalagi, klop banget lha. Vanesha, ah ya tak banyak yang berubah. Hanya mendengar aku dan teman-teman bercerita sambil tersenyum. Satu hal yang aneh, Sasnis selalu ingin bersama Lisna saat isoma. Aku tak masalah. Tapi aku takut Neng tak nyaman jika begini. Mungkin Neng tak terbiasa untuk selalu menyertai laki-laki. Dan yang membuatku kesal adalah Neng tak pernah berhenti untuk sejenak tak mengikutiku. Saat masuk ke gugus, saat evaluasi, apalagi saat isoma. Amat sangat dekat. -_-
Husnuzhanku adalah mungkin ia takut dimarahi olehku, atau merasa harus mematuhiku karena peraturan-peraturan baru panitia MPLS yang hadir secara mendadak. Jadwalnya saja diberi judul "Tahu Bulat Aje Gile". Takut nanti dipojokkan saat evaluasi mungkin. Bukan apa-apa, aku hanya tidak ingin beberapa pandang mata menusuk tajam padaku. Neng ini 'kan termasuk "cewe populer" di sekolahku. Dari siswa kelas XII hingga kelas X ada saja yang "naksir" pada Neng. Melihat dia "menempel" padaku hampir seminggu maka siapa yang tidak gerah? Aku sendiri pun merasa gerah. Panas dingin malah. Bahkan sohib-sohibku sering menggoda, "duuhh, pamajikan Kang Izz?", tanya mereka sambil tertawa. Ditambah logat khas Penosis semakin membuatku tak berdaya untuk berkata-kata. Jelas sudah mengapa aku terdiam di sana. Yang lebih aneh lagi Neng hanya diam dan menatapku tanpa ekspresi. Wah polosnya anak ini, Tuhan. Kasihan aku jadinya. Tak tega memarahinya, aku pun hanya bergeleng dan berpaling muka. Bukan tanpa alasan mereka bertanya begitu. Dan bukan tanpa alasan aku merasa kesal. Setiap kali akan melakukan sesuatu maka aku harus mengajak dan menjelaskan padanya terlebih dahulu apa ini dan itu, mengapa begini dan begitu karena ia selalu mengikuti kemana langkahku dan melakukan apa yang aku lakukan. Bahkan ketika aku berbalik arah ia pun ikut. Jadilah sohib-sohibku mencandaiku dengan pertanyaan heteric seperti itu. Misalnya saja saat mau ke ruang Osis aku harus bertanya padanya dulu, "Akang ka RO heulanya, Anesh bade ka gugus atau bade ngiring?", melihat dia diam kebingungan aku jadi kasihan. "Hayu atuh ka RO!", tambahku. Apalah Neng ini, ditanya seperti itu pun tak tahu jawabannya. Atau saat mau makan, ia takkan mengambil makanannya jika bukan aku atau sohibku yang mengambilkan. Mungkin takut dibilang tidak sopan atau sekian alasan lainnya. Jadilah aku sering menawarinya, "Hayu emam heula. Ieu kanggo Anesh." atau "Sok sing wareg emamna. Watir itu nu sanes tos ngantosan di gugus bade sholat". Dan dari sekian ratus kalimat yang aku katakan, dia hanya menjawabnya dengan kata "muhun" atau "hayu" atau "duka" atau "wios" dan lebih sering dengan anggukan atau senyuman. Maka tak heran 'kan? Jika sohibku menyangka kalau Neng ini "pamajikan" atau "bojo" atau "istri"ku. Ya tentunya mereka lihat aku terlalu perhatian padanya untuk hal paling sepele sekali pun. Ditambah dengan Neng yang hanya manut sama aku. Lengkaplah sudah!

***

Pun waktu itu kami telat shalat dan makan karena kali ini biarlah Sasnis dan Lisna yang pertama isoma. Saat tiba giliran kami, makanan di ruang Osis tinggal sedikit. Dan malangnya lauk waktu itu adalah sayur yang sangat cepat masam atau hampir basi karena lembab. Aku tak masalah, tapi ku pikir ini akan membuat Neng menjadi tidak nyaman. Namun rupanya tak seperti yang ku kira, ia tetap memakannya. Sungguh ungkapan syukur yang luar biasa aku rasa. Tak banyak orang yang tahan dengan makanan tak sedap di piring mereka. Neng bahkan tak mengeluh atau membuangnya sedikit pun. Aku tak tahu bagaimana perasaannya. Timbul rasa kagumku di sana. Miftah yang mencadai kami dan usil memfoto kami dengan tingkah lucunya berkata, "Duhh ieu suami istri duaan wae!". Terbit rasa ingin menggodanya dengan pertanyaan,"Anesh kenapa kemanthil-manthil sama akang? Aku ini bukan atasanmu lho. Jangan kaku begitu, berbuatlah sewajarnya. Tugasku hanya memastikanmu sudah sholat dan makan. Tapi orang-orang malah menganggap kita laiknya suami istri. Tidakkah itu membuatmu tidak nyaman?". Namun seketika itu pula aku urungkan niatku untuk mengatakan kalimat itu. Takutnya nanti Neng malah berpikir jika aku lebih memilih Sasnis atau Lisna untuk menemaniku. Mereka memang luwes sebenarnya, tak seperti yang satu ini. Superpemalu. Aku pun sudah menebak jawabannya,"Nggak apa-apa lha. Lagipula kita sendiri yang mengalami kenyataannya. Mengapa harus peduli perkataan orang lain?". Begitu kira-kira Neng akan menjawabnya. Sebenarnya aku sendiri tak masalah karena aku tahu pasti mengapa some people beranggapan nyeleneh. Justru yang membuatku greget adalah ketakutan Neng untuk memutuskan kegiatannya sendiri. Bagiku cukup keluar gugus bersama dan masuk lagi bersama. Tak perlu harus sholat dan makan bersama. Tak harus "begini" urutannya. Judulnya 'kan istirahat. Mengapa istirahatmu terkesan mengikuti caraku "beristri"rahat, gumamku. Belakangan aku tahu jika suka tak suka harus aku akui Neng memiliki banyak habitual yang sama denganku. Allah dulu, insan kemudian. Satu alasan rahasia yang tak ku ungkap sebelumnya, aku kesal karena setiap hari semakin dekat Neng padaku. Di lain waktu aku semakin "memikirkannya". Bisa dikatakan aku "merindukan" kehadirannya. Aku tak mau terbawa perasaan. Sudah cukup membuat hatiku linu kala ku sadari banyak orang yang ingin "mendekatinya". Lagipula tingkahnya yang polos selalu mengundang tawa. Siapa yang tak suka dengan suasana seperti itu. "Akang mau ke sana dulu, melakukan ini dan itu. Anesh ke gugus saja ya?", pintaku suatu ketika. Neng masih terdiam, aku sadar dia sungkan untuk menjawab. Kalau sudah begini, biasanya aku menyuruhnya pergi (ke gugus) atau aku putuskan Neng mengikutiku. Hal ini terjadi berulang kali dan tak jarang harus terjadi di depan sahabatku. Maka pastilah di saat acara sudah selesai atau di sela-sela waktu senggang aku tak luput dari godaan mereka."Dais bogoh teu ka Vanesha? Sakitu sok nunutur wae ka Dais mah" atau "Ahh ieu suami istri duaan wae yeuh, Pak Iman naroskeun" atau "Dais mana pamajikan teu ngiring? Biasa ge.." adalah celetukan baru yang rutin aku dengar di kalangan Penosis '14. Jika sudah begini aku menyangkal saja."Ehh, pira ge pas ishoma hungkul!" atau "Biasa ge naon? Tara bapperr dais mah!" adalah kalimat yang kerap terucap lewat lisanku. Walaupun kadang aku harus bersandiwara untuk menghentikan godaan mereka, "Eh piraku teu bogoh. Sakitu istri tercinta!" atau "Gak ada! Istriku lagi kuliah." atau "Teu aya Anesh mah disakuan.", dengan begini kadang mereka mati kutu. Tapi tak jarang sih malah menambah ricuh suasana. Heboh jadinya. Dari banyak alasan yang mereka ucapkan padaku, ada satu peristiwa yang sudah ku bahas sebelumnya. Ba'da shalat aku bertanya, "Sudah makan siangkah, Anesh?". Neng menggeleng tanda ia belum makan. "Hayu atuh makan heula. Dimananya? Di palih ditu weh!". Tanpa banyak cakap ia pun membuntutiku. Kejadian itu terjadi di ruang Osis. Baru ku sadari, ada rekan-rekanku di sana. Tentulah dengan begitu mereka beranggapan bahwa ada "sesuatu" di antara kami. Yang satu perhatian dan satunya lagi penurut, 'kan cocok! Lebih kurang seperti itu pendapat mereka. Aku suka sekali bagian ini, keping memoriku yang telah lama terkubur dan terlupakan. Aku suka karena dari sekian jawaban yang Tuhan berikan atas tanya hatiku, tutur kata para sahabatku merupakan petunjuk yang membuatku yakin bahwa fitrah itu masih tumbuh dan "mengakar" lebih dalam. One more, kala itu aku bertanya kepada Neng lewat messenger, "Gimana udah nyari belum biografi Ibn Hayyan teh?. Setelah Neng tunjukkan hasil pencariannya maka aku pun heran. Isinya sama dengan apa yang ku dapatkan. "Lho kok samaan. Coba copas sumbernya!", buruku penasaran.
"serunaihati.blogspot.com, kang. Iya samaan, kita sehati ya kang bla..bla..bla..". Degg! Lagi-lagi ada yang menumbuk dadaku. Di satu sisi aku tahu itu hanya gurauan yang tak perlu dihiraukan. Di sisi lain dadaku sesak menerima kenyataan bahwa perkataannya itu hanya menambah luka di hati. Bagaimana tidak? Betapa dalam makna "sehati" itu untukku. Sedangkan baginya, hanya sebuah kata yang tak bermakna apa-apa. Mungkinkah ini pertanda dari Tuhan? "Chemistry", "serunai" dan "sehati" adalah kata kuncinya. Siapa sih yang tidak tahu Chemistry? Selain diartikan dengan ilmu Kimia, some people sure that Chemistry adalah suatu istilah untuk mendefinisikan suatu kecenderungan hati seseorang untuk menyayangi dan atau mencintai orang lain. Serunai itu salah satu alat musik favoritku (ini haram sih karena sejenis dengan seruling), dulu aku sering menenangkan diri dengan mendengar alunan musik khas Andalas ini memadu dengan musik lainnya. Sehati adalah satu-satunya jawaban logis yang mampu menjelaskan mengapa aku dan Neng memiliki banyak kesamaan, walau kami belum saling mengenal. Aku suka sekali mencari jawaban lewat hal-hal kecil yang Tuhan tunjukkan. Imanku, setiap peristiwa masa kini menjadi pertanda untuk masa depan. Kali ini, sekali lagi aku coba mengurai dan menghapus segala gundah di hati. Berusaha untuk melupakan itu semua.

***

Pekan demi pekan telah aku alami selama di kelas XII ini, belum ada "kesan" yang terbentuk seperti dulu di kelas XI. Aku malah lebih banyak menghabiskan waktu untuk fokus memahami ilmu Kimia dan mengoptimalkan peran sekbid di Osis. Dengan bantuan Mommy Ike dan Tuan Richard, di tanggal 25 Agustus 2016 kami Penosis berhasil menjalankan sebuah komunitas bernama English Club. Suatu sarana untuk belajar dan mengembangkan kemampuan bahasa Inggris, bagiku ini adalah pencapaian yang besar. Karena ini merupakan proker dari sekbid asuhanku, Strange Language.Yang artinya "Bahasa Aneh" ehh "Bahasa Asing". Orang-orang di sekbid itu juga asing, asing tapi membuatku betah. Tentu saja, karena penghuninya adalah kaum hawa yang anggun. Fitri, Via, Safina dan.. Vanesha. Ya, nama itu muncul lagi. Padahal dulu aku sengaja memilih sekbid 9 dan 10 agar aku gak jauh-jauh dari Miftah. Dia 'kan partner alayers yang paling sering aku repotkan. Maafkan aku, Mif. Semoga Allah sentiasa meridhaimu. Sebenarnya aku lebih memilih untuk fokus menguatkan eksistensi English Club. Tapi karena aku merangkap sebagai wakil bendahara umum dan tugas rahasiaku belum selesai, maka aku menyarankan pengurus sekbid 10 untuk mengisi mading dengan penuh. Walau hanya penuh beberapa minggu, aku puas karena proker itu terlaksana. Hal kecil memang, tapi aku lihat efek dari tulisan penghuni sekbid 10 terasa langsung oleh sebagian siswa. Satu hal lagi ku sadari bahwa hal kecil yang dilakukan secara istiqamah selalu melahirkan keajaiban. Oh ya, maafkan aku karena kita dulu tidak sempat melaksanakan semua proker tapi semoga generasi selanjutnya selalu mampu memajukan sekbid asing ini. Di awal bulan September, aku dan rekan Penosis '14 mengadakan Osis Tour khusus angkatan kami ke sebuah tempat bernama "Karacak Valley". Sesampainya di air terjun, aku naik saja ke satu sisi yang berhadapan dengan air terjun itu. Karena di bawah sudah penuh oleh pengunjung lain. Ku buka lembaran kertas dan spidolku, aku tulis beberapa frasa kata pada satu dua carik kertas. Sengaja aku melakukan hal ini. Untuk ku kirim sebagai hadiah ultah sahabatku, Usi dan Tilvi. Mereka lahir di tanggal 12 dan 15 September 1999 M.
"Dais atuh geura ngadamel hiasanana!", pinta Agis. Irvan dan Mif pun tak mau kalah. "Oh oke, ngalem ngalem.", ujarku. Perlahan aku buat sekian buah origami hati, lalu ku tempel dan selesai pun hadiahku ini. Tak buang-buang waktu aku langsung meminta tulisanku ini diabadikan lewat kamera handphone kawan-kawanku. Tak terasa kami sudah lama bersenang-senang dan berfoto ria di sana. Kami pun turun dan melintasi sungai. Namun Agis minta dipotret terlebih dahulu. "Kanggo Nur, ih. Sok atuh foto engke sakali ewang di fotona.", begitu rayunya. Apalah daya, aku berikan karyaku itu lalu mereka asyik bergantian. Sungguh kekanakan memang, tapi itulah serunya masa SMA. Satu hal lagi yang mengesankanku di sana. Rupanya ada sohibku yang terang-terangan mengutarakan perasaannya tentang Vanesha. Sohib sekelasku, Fauji Ridwan namanya. Jujur kalau Fajar aku sendiri aku tak tahu, karena dia selalu berdua bersama Farhan. Tapi yang aku tahu dari Irpan, mereka berdua adalah saingan. Sama-sama berusaha menghinggapi bunga yang sama. Wah, sungguh seru pikirku. Di saat orang lain berjuang untuk mengesankan sosok pujaannya, aku hanya mampu berdoa dan tak bisa berbuat lebih. Satu lagi imanku, kebahagian teman adalah kebahagiaanku juga. Aku tak boleh merusak suasana hati mereka, biarlah kelak Tuhan yang putuskan. Aku putuskan untuk tidak ikut "menghinggapi" bunga yang jelita itu. Malah akulah yang harus mendukung semua sahabatku.

***

"Kang Izz, ieu abi bikin hadiah buat Vanesha.", tunjuknya suatu hari. "Wah sae Kang. Atos dipasihkeun teu acan?", tanyaku sambil melihat foto agak buram di handphone-nya. "Ah saur Dais saena pasihkeun ulah?", Uji meminta usulku. "Teu langkung. Pasihkeun weh sok. Ku abi di dukung naha.", usulku sambil tersenyum dan mengangguk-angguk pada Deden. Aku tak tahu apakah Fauji memberikannya atau tidak. Yang pasti, Neng selalu memberikan laporan rutin kepadaku tentang kupu-kupu yang datang silih berganti padanya. Aku tak tahu banyak tentang mereka walau beberapa orang adalah dekat denganku. Aku hanya bilang hal-hal sederhana, "Hmm dia shalih kok, baik, pinter, rajin, bla..bla..bla.". Karena memang begitulah adanya sejauh yang aku tahu tentang mereka. Anehnya, mengapa pula Neng harus meminta saranku? Aku 'kan bukan siapa-siapa. Dalam artian, selalunya Neng sendiri memutuskan bagaimana dirinya harus bersikap pada mereka. Lalu, dimana peran pendapatku, toh? Itulah wanita, kadang aku tak paham. Aku tak mau ambil pusing. Cuek saja. Meski aku gerah harus menghadapi fakta-fakta bahwa di luar sana banyak sekali kupu-kupu yang lebih besar dan indah dari diriku. Masalahnya, mereka hendak terbang menuju bunga yang sama denganku. Vanesha Agnestika Taufiq, i mean. Aku sendiri tak pernah bermaksud menuju ke sana, namun angin terus saja menghempasku ke arah yang sama. Tahu dirilah, kurasa. Ngaca dong ngaca! Kecamku pada diri sendiri. Hingga tiba waktunya pekan ultah sohib-sohibku. Saat hendak aku kirimkan foto itu, Irvan dan Miftah bilang padaku. "Eits, ka Usi mah rek ku urang!", kata Irvan menunjuk dadanya dengan jempol. "Izz ieu mah ku abi ka Tilvi-keunnya!", Mif tak kalah semangat. "Aihh, terus abi ka saha? Peupeuriheun mah teu masihan nanaon.", heranku. "Ka Vanesha-keun weh! Kan sakedap deui ge ulang tahun.", saran mereka berdua. "Saenya Izz. Usi tanggal 12, Tilvi tanggal 15, Anesh tanggal 18. Beda tilu dinten 'kan. Wuihh ultah alayers jadi ieu mah! Wakakak.", papar Miftah memberiku alasan mengapa aku harus memberikannya pada Neng. Awalnya aku enggan. Malu lha aku pikir. Ini tak seberapa dengan hadiah yang diberikan orang lain. Aku pun mengalah pada keadaan, aku berikan gambar itu pada Neng. Sekian jam kemudian, gambar itu sudah nangkring di Instagram (sekarang sih udah gak ada, dihapus sama empunya akun). Di angkatanku sendiri, gambar itu menjadi trending topic. Tentu saja karena tulisan di sana ditambah origami hati buatanku. "Keep istiqamah and be shalihah ya!" adalah doa yang ku lafazkan di kertas itu. Hal ini sontak membuat banyak orang terkejut dan lagi-lagi menyangka bahwa aku ada "sesuatu" dengan Neng. Susah payah aku jelaskan bahwa ini semua tidak seperti yang mereka kira. Ini semua gara-gara sohibku pastinya. Duh Alayers, dibanjur geura ku cuka! sungguh secarik kertas yang membuat hidupku berwarna.

***

Hufft.. Akhirnya selesai juga Sertijab + MLPJ ini. Dengan nafas lega kami angkatan '14 cemas namun harus rela melepaskan dan memberikan jabatan kami kepada angkatan '15. Cemas karena kami belum mampu membimbing adik kami dengan benar. Masih banyak ilmu yang belum sempat kami sampaikan karena sibuk mengurusi benturan ideologi dalam tubuh Osis itu sendiri. Sudahlah relakan saja semuanya, batinku. Secara ajaib, Neng terpilih menjadi penggantiku di inti. Wakil bendahara umum, amanahnya. Ini membuat personil baper community semakin curiga dengan takdir "kami". Dimana setelah setengah tahun mengenal dan bekerja sama di Osis, aku dan Neng mendapati banyak kesamaan pada diri kami.  Malah di awal semester 5 aku berkata pada mereka, "Jodoh itu cerminan diri. Tak laik aku disandingkan dengan Vanesha!", jelasku sambil memandang Neng. Sayangnya, Neng malah mengatakan hal yang sama. Aku paham maksudnya, tapi sohib kami gagal paham. Kesamaan pendapat itu malah mereka artikan sebagai "cerminan diri". "Tuh, sami deui nyariosna ge. Jodoh ieu mah! Jhahaa..", begitu kata mereka. Memang sebenarnya banyak sekali kesan yang tercipta semasa kami tergabung di sebuah grup baper ini. Barudak cinta yang kocak dan penuh drama. Terlalu banyak kenangan dan tawa di sana. Satu lagi yang ku ingat di akhir masa sekolahku, ahad itu aku sedang menunggu Teh AKawilang yang harus segera melaporkan pertanggungjawabannya. Harap-harap cemas aku tunggu kehadirannya. Dan syukurlah ia hadir tepat waktu. Saat di rumah aku ceritakan hal ini pada Neng, ia malah berkata, "Manawi teh akang ngantosan abi". Degg, tak terhitung berapa kali dadaku tertumbuk jantung dengan keras karena ulah sang bunga mawar ini. Kali ini aku tak tahu apakah itu gurauan atau benar faktanya. Tak mau kalah dengannya aku pun menjawab, "Sudah tentu kamu ku tunggu", datar saja aku jawab. Rupanya Neng terbawa perasaan. Karena setelah itu ia mendadak dingin dan cuek lagi seperti biasa. Petang itu aku sudah selesai ujian praktik. Aku menemui Neng di beranda kelasnya di dekat tiang bendera. Ada sesuatu yang harus aku sampaikan tentunya. Setelah semua yang terjadi, dan perjodohan "unik" yang kami alami. Ada satu kebiasaan yang secara tak sadar sering kami rasakan. Kebiasaan yang memunculkan rasa aneh di hati. Rindu saat tak bertemu. Bisu ketika berjumpa. Adalah intinya. Ya, aku tahu ia merindukanku karena ya,, Neng tak pandai membungkam perasaan dan tak mau mengaku ketika hal itu dipertanyakan. Sungguh polos. Sedikit aku gambarkan keadaan hatiku waktu itu. Aku hanya bingung saja apa lagi yang harus aku sampaikan sementara selama ini aku terbiasa untuk hanya menyampaikan apa yang ia perlukan. Ini berfungsi untuk menekan perasaanku padanya. Ini berjalan dengan baik. Namun di akhir "kebersamaan" kami di sekolah justru aku menjadi lebih sering kehabisan kata-kata jika bertemu dengannya. Menatap matanya saja aku tak mampu. Selalu terjadi kelembaman. Ada rasa ingin mempertahankan keadaan seperti itu selama mungkin. Saat kami bersama juga seperti itu. Hening dan bisu tanpa imbuhan apa-apa. Hanya saling berdiam mendengar angin dan saling menebak isi hati. Entah kapan kami ingin mengakhirinya. Ya, lebih kurang seperti itu. Ada rasa tenteram yang terbentuk. Jika sudah seperti ini, aku bersyukur saja kalau ada seseorang yang mengajakku atau mengajaknya pulang. Karena kami saling tak enak hati untuk sekedar "mengakhiri" pertemuan-pertemuan kecil itu. Atau kadang aku yang menawarinya untuk pulang, "Err.. atosnya. Naon deui sok? Hayu atuh urang uih weh. Mangga tipayun, bilih dipilari ku ayah/bunda.". Begini kira-kira ucapku. Di penghujung masa SMA-ku itu, Tuhan memberiku kesempatan untuk "mencintai"-nya. Neng berkata padaku lewat tulisan tangannya. "Tidak ada yang lebih indah daripada saat itu tiba. Untuk mengatakan apa yang kita rasakan..". Lalu kemudian, Hamari Adhuri Kahani..

Label: ,

Minggu, 12 Agustus 2018

Secarik Kilas Balik Eps. 3

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Suasana Ruang Osis sedikit riuh, usai agenda perekrutan Penosis baru kami para pengurus lama (baca:senior) pun akan segera membubarkan diri setelah evaluasi dan mufakat. Seperti biasa di momen-momen seperti ini aku berbincang-bincang dengan Teh Lisda ataupun dengan Penosis lain, sekedar menanyakan kabar dan suasana di hari-hari lalu itu. "Gimana perkembangannya?", tanya Teh Lis padaku. "Ya.. Alhamdulillah sih adik-adikku di X-5 cukup layak menjadi Penosis. Gimana dengan X-6?", tanyaku balik. "Hmm.. ya ada Vanesha sih, cuma dia satu orang yang daftarnya juga", tambahnya. Oalah rupanya ekspektasiku untuk menambah jumlah pengurus dari X-6 harus stop sampai disini, gumamku. Siapa Vanesha? aku tak tahu! Gadis lugu berkacamata itu,, kesan awal yang takkan ku lupakan,, yang jelas, dialah satu-satunya.. Dan kurasa itu istimewa.

***

Beberapa waktu berlalu, tak kurasa hari-hari telah ku lalui di kelas XI ini. Saat guru absen, atau saat istirahat aku dan beberapa sahabatku seringkali menatap langit di teras kelas. Kebetulan kelasku ada di tingkat dua, jadi siswa di kelas kami beruntung mampu memandang lebih dekat pada agungnya gunung dan langit. Selain Irvan dan Miftah ada juga "para wanita" yang menemani kami merenung disana. Mereka sahabat kami, keluarga malah. Usi dan Sri ataupun Ega dan Lusi, senang sekali "bermeditasi" bersama kami. Ditambah obrolan ringan dan hangat, serta sebotol susu Indomilk di tangan. Saat-saat yang sungguh indah dinikmati saat pagi menjelang siang begini. Apalagi kebiasaan kami yang jarang melepaskan jas Osis saat sekolah, panas dan gerah pun hilang sudah. Di antara banyaknya obrolan asyik kami ada satu hal konyol yang aku ingat, ketika itu kami sedang bersama Usi. Sambil iseng mengamati dan mengomentari orang-orang dibawah, Usi bertanya padaku.
"Dais, sebenarnya kamu teh pengen istri siga saha?"
"Bu Elis lha, jhahaa...", aku berkilah dalam candaku.
"Dingin dan cuek tapi bikin sejuk di hati", batinku.
Mif dan Irvan pun ikut tertawa, apalagi Usi. Dia selalu tertawa ketika berbicara, hyperaktif punya rupa. Bukan tanpa alasan Usi bertanya seperti itu, ia heran saja mungkin. Selama 10 tahun satu kelas tak pernah sekali pun aku mendekati wanita alias modus, atau sekedar mengungkapkan rasa sukaku. Sementara Mif dan Irvan sudah sangat rutin di gosipkan telah menemukan cinta sejati mereka. Usep dan Wiki, mereka malah yang terdepan dalam hal "ngabaperan" istri. Kami, tim inti alayers banyak belajar dari dua pelopor agen cinta itu, anggota 4 dan 5 alayers kami. Bukannya aku tak tertarik, tapi ya memang aku termasuk tipe orang yang "amat susah jatuh cinta" atau bahkan belum sampai usiaku-sekitar 15 atau 16 tahun-untuk merasakan hal-hal demikian. Tapi untuk menutupi hal itu, berjuta kali aku mengatakan kepada orang-orang kalau banyak wanita yang aku suka. Nyatanya, nihil sih. Sebenarnya selama itu tak ada sekuntum bunga pun yang mampu membuatku menghinggapinya. Meski tak ku sangkal banyak sosok rupawan yang pernah menyatakan ketertarikannya padaku. Dan itu terjadi dari dulu. Hingga Usi pun kembali bertanya dalam candanya,
"Ohh siga Bu Elis, Vanesha nya? Tuh mirip Bu Elis! Hwakakak..", tunjuknya pada Neng yang sedang berjalan di sekitar lapangan. Agak jauh dari kami, suasana pun ricuh seketika. Tak ku sangka wajahku memanas, tidak terima aku dituduh seperti itu, ada rasa malu di hati.
"Siaduh Vanesha, wawuh ge henteu, nya lempeng deui eta mah.." sangkalku dengan logat khas alayers mencoba menyingkirkan semua perasaan aneh di hati. Namun Usi mampu saja membuatku gendok setengah mati, hingga aku hanya bisa tersenyum simpul, ya mungkin saja pikirku. "Seperti dia"-lah kira-kira, aku tak menampik. Usi tak berhenti sampai disana, sambil cungar cengir dia berusaha membunuhku,
"Ahh ngaku weh lha! Dais resepnya? Bae ih da resepeun korea Vanesha mah.", terangnya tanpa ku pinta. Lha mana nyambung tho? aku menyukai India dan dia? err.. dengar Usi dan Tilvi cs. berbahasa Koer pun membuatku mengernyitkan dahi ala ummi, ora reti aku. Apalah Usi ini, seenaknya saja menghakimi keangkuhan hatiku, menegaskan fatwa bahwa aku mencintainya dengan mutlak! Oh Tuhan, ampuni aku. Satu hal yang membuatku tak habis pikir hingga sekarang adalah bagaimana bisa dengan sekali tebak sekali ucap dia mampu mengurai seuntai nama di kepalaku menjadi alunan lisan yang menggetarkan jiwaku? Lagipula aku tak pernah menulis Diary seperti Kang Wiki ataupun Surat Cinta seperti Kang Usep, intinya karena hatiku selalu angkuh dan tak pernah percaya diri untuk urusan seperti ini. Dan waktu itu aku belum mengenal Neng, hanya tahu dia Penosis, kelas X-6, berkacamata dan pendiam. Tak lebih, lalu bagaimana bisa aku tak berdaya untuk menolak fakta itu? Bagaimana bisa aku "mencintai"-nya bahkan sebelum aku mengenalnya? Dan otakku, mengapa engkau terus memikirkannya, hah? Pentingkah ia untuk kau pikirkan?!. Ya, lewat sedikit peristiwa-peristiwa kecil itulah bunga mawar mulai tumbuh di hatiku.

***

Hidup itu seperti cawan. Jika tak terisi oleh air ataupun dibiarkan kosong maka pastilah ia akan di isi oleh udara. Jika hidup tak dipenuhi dengan kegiatan produktif, niscaya dipenuhi oleh kegiatan yang negatif. Itulah pandangan guruku, seseorang di negeri jiran. Bagi beliau untuk menyalurkan perasaan-perasaan yang mulai tumbuh di hati, para remaja haruslah mampu mengalihkan perhatian otak mereka untuk melakukan kesibukan-kesibukan yang positif. Sehingga untuk sementara atau bahkan untuk jangka waktu yang lama hal itu akan meredam dahsyatnya aliran hormon-hormon pubertas, meski seringkali tak mampu menghapus kecenderungan di hati. Ustaz Adi Hidayat pun pernah bilang jika beliau menikahi seseorang yang beliau sukai sejak 7 tahun yang lalu. Hal ini menunjukan indirect proof bahwa ada beberapa kecenderungan hati yang mampu bertahan lama, tak hilang meski dipisah waktu dan benua. Some people called that as "Chemistry". Bukan dalam artian Kimia, tapi dalam arti suatu kecenderungan di hati. Kecenderungan dalam satu fase, satu gelombang, beresonansi dan berinterferensi secara maksimum. Seseorang tinggal memilih untuk meyakini atau mengingkari keyakinan itu, dan mengelola perasaannya dengan baik dan "nyeni". Selanjutnya, biar Tuhan yang putuskan. Aku sendiri memilih untuk tidak memedulikan hal itu, lebih baik aku memantaskan diri dan totalitas dalam belajar. Hasilnya, aku menduduki ranking 2 di sekolahku. Ku akui fokusku cenderung ke arah akademik, sehingga memang benar perhatianku sedikit banyak teralihkan. Dengan menjadi direktur sekaligus CEO untuk tugas-tugas kelompokku, mengikuti olimpiade Matematika, English, Kimia dan sebagainya ternyata mampu membuatku lupa dunia dan hanya memikirkan ilmu-ilmu eksakta serta kemajuan organisasi. Suasana di kelas yang dinamis dan eratnya ikatan keluarga di kelasku juga ikut menggeser kecenderungan itu. Dengan banyaknya kejadian unik, baper, menyedihkan dan mengesankan tentulah memengaruhi hatiku untuk sesaat beristirahat dari menumbuhkan harap dan imannya akan "cinta". Sinergi yang terbentuk saat memresentasikan diskusi kelompok, atau bahkan saling berargumen ketika tidak satu kelompok bersama rekan-rekan Penosisku pun tak mau kalah menghiasi ruang-ruang di hatiku. Suasana beruntung dan suasana tak mendukung banyak sekali hadir silih berganti kala itu, benar-benar salah satu masa krusial dalam hidupku. Jejak-jejak perjuangan nampak jelas di sana, bersamaan dengan terbentuknya ikatan keluarga baru lalu mungkin diiringi dengan cinta pada akhirnya.

***

Akhir tahun ajaran pun tiba, biasanya di saat seperti ini kami Pengurus Osis sering mengadakan acara Porak atau Porseni. Berhubung kali ini waktunya bertepatan dengan bulan Ramadhan. Maka dengan banyak inovasi dan pertimbangan kami mengadakan kerjasama dengan Rohis untuk melaksanakan Program Instagram. Dengan Kang Jun Mul sebagai ketua pelaksana, dan teman-temannya sebagai panitia pelaksana. Aku? tentulah dengan beberapa sahabatku menjadi penasehat seperti tradisi kakak angkatan kami dulu, juga menjadi Master of Ceremony pada salah satu kegiatan Instagram. Bersama Kang Irvan Fatuloh dengan sebutan McCouple/MCouple/DuoAceng. Ciri khas kami? Apalagi jika bukan berkata puitis dan bersikap romantis? Buktinya? We have a lot of fans hingga sekarang, duhh GR-nyaaa. Aku juga dipercaya sebagai pengukur arah kiblat di lapangan untuk pelaksanaan Dhuha Akbar, walau aku takut sekali perhitunganku itu keliru. Tapi dengan bantuan Kang Agis Nur aku merasa sedikit lega. Entah aku sedang apa waktu itu, aku lihat Kang Faj sedang mengetik dan mengotak-atik lappy-nya serta mengajarkan Neng perihal dokumen-dokumen yang diperlukan untuk melaksanakan program kali ini. Aku hanya mengobrol sekilas dengan Kang Faj, lepas itu aku pergi karena ada rasa linu di hati, di jantung sih sebenarnya. Dengan Neng aku tak bercakap, hanya tersenyum karena aku memang tak mengenalinya. Bahkan rasanya kami tak pernah bercengkarama. Hari demi hari berlalu, aku sibuk dengan tugasku membantu adik-adikku dan aku semakin sering bertemu sosoknya. Sosok yang kembali hadir setelah musim dingin mengabadi di hatiku. Walau hanya bertatap mata dan mengeluarkan sepatah dua patah kata, saat di dekatnya selalu ada sensasi aneh di jantungku. "Ciyus nih dais jantungan?" hiburku untuk diriku sendiri. Sesungguhnya aku sudah "mundur" dan "menghapus" segala memori tentangnya ketika aku tahu salah satu sohibku juga "menyukainya". Tepatnya sih banyak sohibku yang menyukai dirinya, sehingga aku kembali normal dan tak berperasaan lagi seperti saat-saat sebelumnya. Aku memilih untuk tidak melakukan apa-apa dan begitu saja melepaskan perasaan itu karena aku tahu dan sadar bahwa pastilah sohib-sohibku itu bukan tandinganku dalam banyak hal. Mereka shalih, tampan, mapan dan cerdas. Aku? sejak kecil sering mendapati kenyataan bahwa aku hanyalah orang kedua atau cadangan dan pengganti teman-temanku. Seseorang akan berteman atau dekat denganku jika ia memiliki keperluan dariku ataupun ketika mereka "terpaksa" menghubungiku karena suatu urusan. Setelah itu? Aku kembali sendiri. Jadilah aku sentiasa menganggap diriku tak bisa dibandingkan dengan siapa pun karena aku memang bukan siapa-siapa. Ini salah satu jawaban singkat mengapa aku kerap menduduki peringkat 2 di kelas? karena aku tak yakin dan merasa mustahil jika aku lebih baik dari sohib-sohibku. Hingga sekarang aku selalu berpikir bahwa mengungguli kualitas teman-temanku adalah hal yang tidak mungkin. Ketika aku hendak maju dan menggapai mimpiku, selalunya aku berhenti atau kadang malah memberikan kesempatan dan bantuan pada teman-temanku untuk menggapai mimpi itu. Sesuatu yang ku rasa aku tak layak mendapatkannya. Tak terkecuali dalam hal "perempuan", ya... pada faktanya aku tak pernah mengajukan diriku untuk dicintai siapa pun. Cause i know who i am, banyak aib dan cacatku (ini serius banget lho, aku banyak aibnya). Dan hari pertama pelaksanaan Instagram pun tiba. Seperti biasa, pagi-pagi sekali aku sudah berada di sekolah untuk menggelar sejadah, mengutak-atik sound system serta menyiapkan berbagai hal. Mentari pun menjelang naik, walau masih hanya sejengkal. Sejuk kurasakan, daun di pohon pun berembun. Tanda hari baru dimulai, sinar-sinar jingga menembus pagar dan menyentuhku. Sejenak aku kembali mengurusi alat-alat ini, dan terbungkuk di belakang tiang bendera. Sesaat kemudian aku tatap sesuatu di seberang lapangan sana, ada sosok yang membuatku terpana. Dengan balutan kain kudung merah mudanya dia berjalan di koridor. "Sungguh jelita! Oh Tuhan, diakah bidadari surgaku?", penuh harap aku menatapnya sayu di kejauhan. Membuang semua harap dan iman yang bermunculan saat itu, menyadari fakta bahwa banyak orang shalih di luar sana yang menyimpan rasa suka padanya. "Ah, pada akhirnya aku hanyalah sesuatu yang kalah..", ridha hatiku saat itu juga. Kata-kata yang mengukir luka di hati nurani namun tak kunjung menghilangkan rasa di jiwa. Aku mohon pada Allah untuk menjauhkanku dari dirinya dan menghilangkan segala fitrah di hati. Malang nian nasibku, di hari-hari baru Tuhan malah sentiasa mempertemukanku dengannya dan menusuk-nusuk jantungku yang bisu dengan tetes-tetes hujan cemburu.

 ***

Hari itu aku mulai menjejakkan kakiku di kelas XII, IPA 1 tepatnya. Namun seperti biasa setiap pergantian tahun ajaran baru aku dan sohib-sohibku di Osis harus menjadi tutor atau siswa teladan yang bertugas untuk membimbing dan membantu para siswa baru atau adik kelas dalam beradaptasi dan berperilaku di lingkungan sekolah mereka yang juga baru. Kami berkumpul di ruang Osis, sedang berdiskusi mengenai pembagian tugas dalam kepanitiaan sambil mempersiapkan diri untuk check and recheck data siswa baru di gugus-gugus yang terbentuk tahun ini. Suasana di ruang Osis memanas, bukan hanya karena cuaca atau karena banyaknya karbondioksida di sana. Namun karena salah dua sohibku, Kang Faj dan Kang Fauji kurang konsisten dalam memutuskan peran mereka di MPLS kali ini. Sehingga membuat beberapa rekan wanita merasa kesal. Kang Agung yang saat itu sedang berada di dekatku berbisik padaku sembari tersenyum khas, "Alaah ieu mah tos katebak hoyong sareng Vanesha, jhaha..", aku sendiri tersenyum singkat dan permisi untuk mengurusi arah kiblat lagi untuk pelaksanaan Dhuha Akbar untuk hari-hari esok. Entahlah, aku hanya tak ingin membuang waktuku menyaksikan ocehan-ocehan ringan sohibku tentang penempatan tugas, lebih baik aku mengerjakan tugasku. Meski aku tak habis pikir, begitu pentingkah bagi mereka untuk berada dalam satu tugas/kelompok bersama orang yang mereka sukai? Tentu iya bagi mereka. Toh dulu aku sendiri yang disuruh untuk menanyakan posisi apa yang ingin di tempati Neng kali ini-saking pusingnya Kang Irpan mengamati debat kusir aneh itu-dan Neng pun ingin menjadi seorang tutor di gugus 3. Ah, itulah anak SMA. Selalu saja ada sifat kekanakan yang membumbui kisah mereka. Siang pun menjelang, secara mendadak aku dipanggil Kang Irpan Jalal dan diminta untuk menjadi tutor dadakan di gugus 11, bagaimana tidak mendadak? Keputusan diberikan beberapa jam sebelum check dan recheck dilaksanakan.
"Hampuranya Mang Dais kedah berperan ganda, soalna abi ge teu terang gugusna bakal aya 11. Ieu mah diluar perkiraan.", ujarnya sambil menatap lappy.
"Nya sok wh Kang, gak apa-apa. Sareng saha?", tanyaku.
 "Sareng Teh Sasnis,,, Teh Lisna,, terus Teh Vanesha.." jawabnya pelan.
What the.. Oh My God, why me? 2 orang pertama aku tak masalah. Satu orang terakhir ini yang membuatku heran. "Sasnis sama Lisna iya ngerti. Lha kenapa harus dengan Anesh, 'kan udah punya job dia mah?"
"Nya Mang hampura, ieu teh ku abi disesuaikeun jumlah pameget + istrina, biar seimbang. Terus kumaha tuh? da ngadadak sih..", keluhnya.
"Tapi itu mereka lho, kan parebut gitu ti basa eta hoyong sareng Anesh. Derr teh baeud ka abi.", jelasku husnuzhan.Ya, aku sih ro popo. Up to you.
Siang pun tiba. Aku masuk ke gugus 11 tanpa persiapan apa-apa. Bersama Sasnis dan Lisna kami mulai perkenalan dan membacakan peraturan. Neng belum tiba waktu itu, karena memang tidak bisa menyertai kumpulan di pagi hari. Setelah mendapat kabar dari rekan-rekan Penosisnya, Neng pun tahu harus melangkah kemana dan gugus berapa. Kami tutor gugus 11 menunggu kehadirannya. Lalu terdengarlah ia mengetuk pintu. Sejenak ku lihat lelah di wajahnya dan lagi, fitrah itu tumbuh tanpa jeda menghujam erat pada iman di hati.

Label: ,

Sabtu, 04 Agustus 2018

Secarik Kilas Balik Eps. 2

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Takdir adalah hal yang tidak tetap, dimana pun dan kapan pun takdir selalu mampu memihak siapa pun. Dengan kata lain, takdir selalu memiliki dua sisi. Begitu pula dengan apa yang terjadi di dalam hidupku, selalu ada cerita sepi dibalik harunya keramaian yang selalu aku lalui. Namun rupanya akan ku akhirkan ungkapan sepi itu, biar semua jelas apa adanya.  Sekarang akan ku ceritakan satu-satunya masa indah yang telah ku lewati dan ku harap di depan sana masih ada masa-masa indah yang menungguku. 

Waktu itu bulan Ramadhan pertama aku sekolah di Smunbay. Kegiatanku berjalan normal-normal saja, aku membantu kawan-kawanku di Rohis untuk menyukseskan acara buka bersama alumni disana. Sekaligus mempersiapkan diri untuk menjadi tutor MPLS angkatan '15. Singkat cerita, MPLS pun dimulai, banyak sekali siswa-siswi baru dengan berbagai perangai. Seperti biasa, aku menyiapkan mereka di lapangan. Merapikan barisannya agar serapi barisan itik, dan tak jarang memarahi mereka (bukan benci lho ya). Kali ini aku bertugas sebagai seksi peralatan-tiap kegiatan selalu kerja di bagian ini-merangkap tutor gugus lima. Disana aku bekerja sama dengan si mungil Teteh Shofa, Kang Fauji Ridwan dan Teh Risna SM (sebelum masehi :D) membantu "anak-anak kami" beradaptasi dan mengenali lingkungan sekolahnya. Momen-momen di akhir masa bhakti inilah hubungan dua angkatan kami (13&14) semakin membaik. Aku juga sangat bersahabat dengan duet Risna Ayu + Teh Lisda, tentunya karena kekonsistenanku sebagai ahli bergurau dalam segala kondisi. Hingga maklum saja membuat banyak kakak kelas menjauhiku karena jengkel mungkin, tapi tiga orang ini bertipe sama denganku. Bahkan saat sidang pun, aku divonis sebagai seorang yang tak bisa serius dalam kumpulan. Aku bilang saja kalau wajahku tak bisa serius walau dalam mode superius dan kondisi supergawat sekalipun, selalu ada candaan/humor garing yang terselip lewat lisanku. Aku bilang this is me, i am sorry i can't make everyone happy with my stupid act. Pada akhir jabatan seniorku itu, aku terpilih sebagai wakil bendahara umum, menjadi partner Kang Wiki. 

Setelah seminggu dispensasi, kami semua dan kamu kembali pada kegiatan BM di kelas. Aku bahagia saja, aku ditempatkan di kelas XI IPA 6 bersama 5 rekan kerjaku di OSIS. Dengan cepat para coker (cowo keren) di kelasku mendominasi setiap momen belajar dan mampu membuat para guru berkata: Impressive!!
Bahkan alm. Pak Rohadi sempat bilang, kelas anda lebih baik dari kelas XII hari ini!. Proposal perusahaan kami mendapat poin A+ dan tak jarang kami mendapat poin di atas 100, diatas batas maksimal! Atmosfer kelas ini jenuh sekali oleh gas-gas persaingan. Untuk selamat dari perang otak ini hanya ada dua pilihan ketika dua kondisi terjadi. Pertama, jika kami bertemu dalam satu kelompok maka dengan segala kematangan + improvisasi kami mencoba memberikan pemaparan dan penjelasan terbaik. Tak jarang memprediksi pertanyaan-pertanyaan sulit yang akan muncul dari mulut-mulut yang lihai bertutur. Sejauh ini kami cukup berhasil menguasai keadaan dan membuat guru puas dengan jawaban kami, walau tak jarang beberapa jawaban kami mampu menyetuh hati para penanya dan membuat mereka menjadi kikuk + gendok. Kejam sekali tentunya, hingga mampu membuat teman kami enggan bertegur sama waktu itu. Syukurlah hari ini kami semua para personil Garuda (gabungan barudak Pak Hendra) masih bersahabat dengan baik. Keajaiban ini terjadi berkali-kali, bahkan ketika kami lupa mempersiapkan diri untuk presentasi dan tampil secara mendadak pun berhasil membuat seisi kelas terkesan. Intinya adalah sungguh beruntung bekerjasama dengan orang-orang professional seperti mereka. Saking dekat dan kompaknya kami di Osis ataupun di kelas, ternyata kami berhasil menjadi sesuatu yang berpengaruh pada banyak kebijakan diantara para siswa hingga para guru sekalipun. Daya ini disebut dengan kharismatik. Bu Elis pun pernah berkata, "Penosis tahun ini memmiliki susunan yang bagus, seharusnya tiap tahun seperti ini." Pak Daryono malah mencanangkan program perekrutan Penosis hanya untuk siswa yang masuk rank 10 besar saja,"Jadinya kan seperti ini!" ujar beliau setelah merasa cukup puas dengan pencapaian kami selama masa jabatan. Kami hanya mampu memandang dan tersenyum satu sama lain, toh ini semua berkat bimbingan para guru dan kepercayaan para siswa. Kami hanya mengeksekusi saja. Tak ketinggalan pula bahwa ini hanyalah sepercik efek kekuatan berjama'ah. Indah betul perintah Rasulullah agar orang islam sentiasa berjama'ah dalam menyelesaikan masalah, sedikit banyak mampu memudahkan keadaan dan membuat banyak pihak merasa lega. Walaupun mustahil membuat semua orang merasa senang. Padahal Tuhan tahu kami tidak sebaik itu, malahan kami memiliki masing-masing aib dan kekhilafan. Ampuni kami Tuhan, jadikan kami lebih baik dari apa yang orang lain ketahui dan dari apa yang kami sadari. 
Oh ya tak lupa aku sampaikan lagi sesuatu pada kalian, "Terimakasihku padamu, PenOSIS!! c u again in Jannatulfirdaus Insyaa Allah!"

Selama itu pula kami diberi mandat untuk merekrut, membimbing dan membentuk karakter adik kami untuk menjadi sebaik-baik pemimpin. Namun aku rasa kami cukup gagal dalam hal ini, karena pertentangan politik internal di dalam jiwa kami sendiri. Adik-adik kami khususnya angkatan '15 pasti menyadari bahwa banyak sekali petuah-petuah kami yang bertentangan satu sama lain, sebenarnya itu bukan masalah besar. Hanya saja awal dari perpecahan adalah karena tujuan dan kepekaan yang berbeda. Konkretnya, aku dan 25 temanku memiliki solusi masing-masing untuk tiap 1 masalah yang kami hadapi. Bayangkan saja, jika kita memiliki 1 masalah dan 26 solusi, dan ada 26 kepala berbeda disana. Maka kapan kami mampu mencapai kata sepakat? Betapa hebatnya konflik ideologi saat itu, membuat banyak orang ingin keluar dan memang sebelumnya banyak yang mengundurkan diri dari kepengurusan. Aku sendiri memilih bertahan karena aku punya misi rahasia di OSIS dan aku terlanjur menyayangi mereka semua (penosis angkatan 14&15) sebagai satu keluarga utuh, bukan hanya sebatas teman. Dan semua orang juga tahu di akhir jabatan kami, meski berakhir damai namun banyak luka yang tak sempat disembuhkan dan meninggalkan jejak untuk adik-adik kami. Akibatnya, banyak dari teman-temanku bahkan diriku takut untuk kembali berorganisasi lagi hari ini.

Back to the topic, pada masa perekrutan itu hal unik pun terjadi. Seperti biasa di Osis itu aku selalu menjadi "panembleuhan" atau orang yang kena batunya. Waktu itu aku dan Teh Fitri Lutfiani dipaksa untuk menyampaikan materi tentang Osis kepada adik-adik kami, padahal sebelumnya tidak ada pemberitahuan sama sekali. Akhirnya kami pun menyampaikan semuanya apa adanya seingat kami, berupaya untuk tidak membuat senior kami kecewa. Keinginan kami waktu itu adalah menerima semua calon penosis 15, tapi apalah daya kelas XII-lah yang memutuskan. Hingga akhirnya tiap tahun selalu ada orang yang dianggap tidak layak sebagai Penosis. Padahal menurut kacamataku, Osis adalah tempat bagi semua orang dengan latar belakang beragam. Tempat untuk berhijrah dan bertransformasi. Bukan tempat untuk menghakimi seseorang, biarlah nanti semesta akan menyeleksi kami secara alami. Terbukti dengan adanya satu dua penosis yang DO ataupun mengundurkan diri di tengah jalan, intinya karena mereka merasa tidak sesuai dengan lingkungan Penosis. Ah, ngelantur. Satu hal lagi yang tak akan ku lupakan, seperti kebanyakan orang di Indonesia setelah berkumpul pada suatu acara mereka akan bermushafahah. Sebenarnya sih mushafahah itu sangat dianjurkan di kalangan akademisi karena banyak keutamaan dan pahalanya, namun malah banyak penyimpangan yang terjadi disana. Salah satunya bersalaman dengan seseorang yang bukan mahram, aku mau saja untuk mengikuti aturan itu tapi aku takut dimarahi mereka yang mungkin akan merasa tersinggung jika aku tidak mau "menyentuh tangan" mereka. Jadilah aku urungkan niatku itu. Hingga pada suatu ketika, dengan salam khas Penosis aku bersemangat menyalami adik-adikku itu. Namun ada satu orang yang dengan 'kurang ajar'nya tidak mau menyalami tanganku, malah menundukkan wajahnya dan hanya melihat jas istimewaku. Kok gendok banget sih! Aihh aku dibuat "mati kutu" sekaligus menyadari bahwa inilah tamparan Tuhan untukku. Kenapa harus lewat adik kelas, pikirku? Sejak saat itulah aku tidak pernah melepaskan namanya dari otakku. And she is Vanesha Agnestika Taufiq (baca: neng geulis panutan akang), tapi seringnya dipanggil Anesh, bacanya gak pake tasydid. Baru aku tahu banyak dari mereka (adik-adikku) yang dengan tegas mencoba menaati sunnah Rasulnya tanpa kecuali. Aku tentu saja langsung setuju, seringkali aku tidak bisa berkompromi lagi jika sudah berkaitan dengan aturan Tuhan. Jadilah seketika aku tidak mau menyentuh kulit ataupun tangan wanita yang bukan mahram walau dalam banyak kesempatan aku sangat terpaksa melakukan itu. Sebenarnya, saat proses perekrutan itu ada wajah-wajah yang sudah ku kenali seperti Ramdan, Rifqi dan Alya. Karena mereka adalah juniorku dulu di gugus lima, yang lain? I don't know and i don't care! Meski pada akhirnya merekalah adik yang paling aku cintai.
 Hmm, jika berbicara tentang kondisi kedua di kelasku maka rasanya aku malas membahas ini. Betapa tidak? Ketika semua Penosis tidak sekelompok maka di saat presentasi ataupun pemaparan tugas yang mereka selesaikan akan ada debat kusir yang berkepanjangan. Seakan-akan dunia hanya milik kami yang tak tahan untuk berbicara. Suasana pun menjadi agak canggung dan tak enak dirasakan. Beruntung kami memiliki slogan ampuh untuk mengatasi ketengangan seperti itu. Apalagi kalau bukan: Cinta! Saat konflik emakin tak terhindarkan maka salah satu dari kami akan menyelipkan kata cinta pada tiap argumentasinya. Mungkin hal ini membingungkan dan tak terbayangkan. Tapi percayalah, semua kembali menjadi indah..

Oh ya satu lagi, like i said kalau di masa SMA para siswa seringkali mulai merasakan ketertarikan kepada lawan jenis. Ada yang mengekspresikannya dengan berpacaran. Ada yang menjadi josh atau jofisa. Ada pula yang malah menghiraukan semua perbuatan si hormon itu. Dan banyak lagi yang jika aku bahas akan menghabiskan tintaku. Aku hanya ingin terus terang atas sesuatu yang kau tanyakan, tentang bunga melati yang pernah tumbuh di hatiku. Yaa, just like each others. Aku pernah menyukai beberapa wanita tapi disukai banyak wanita. wkwk pengennya. You know 'kan Butet? ya, ketua sekbid 4 waktu itu. Dia pernah tertarik padaku. Dan secara tak sopan aku kurang menghargai perasaannya karena aku masih menyukai kakak kelasku. Bukan cinta, hanya suka. hehee.. Teman-teman yang lain juga pernah menyimpan ketertarikan padaku. Tapi ya semua aman-aman saja karena ketika aku menyadari perasaan mereka langsung saja aku klarifikasi karena tak ingin membuat mereka terlalu kecewa. Dan satu lagi hal unik, seperetinya terlalu banyak kata unik yang aku tulis disini. gak apa-apa lha ya kehabisan kata-kata sih.. yaitu tentang kamu. Ya, sohib-sohibku sudah memprediksi bahwa aku dan kamu bla..bla..blaa suatu hari nanti. Saat istirahat di koridor kelas, dan kami mendapati kamu sedang berjalan di bawah sana. Maka automatically bahasan langsung tertuju padaku dan padamu. Padahal aku belum tahu siapa kamu, tapi gaya tarikmu begitu kuat. Dan rupanya comblangan dan candaan mereka membawa kita pada kisah ini di hari ini. Sungguh takdir yang indah dari Tuhan yang Maha Indah.

To be continued..

Label: ,