Secarik Kilas Balik Eps. 8
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Pada semester kedua agkatan '14 menjabat sebagai pimpinan di Osisman 19 Garut, kami mengadakan sedikit revolusi dan banyak perubahan kebijakan dalam pengelolaan organisasi. Salah satunya adalah adanya sistem mentoring seksi bidang. Kebetulan waktu itu kami memiliki 10 sekbid, dan 2 sekbid terakhir adalah sekbid terbaru yang statusnya terombang-ambing karena pergantian kurikulum yang begitu sering terjadi. Mengingat sistem ajar angkatan '14 yang selalu gak saklek, akhirnya dua sekbid itu terkena imbasnya. Bak tersesat di tanah asing, mereka harus survive dan eksis di tengah lingkungan yang tidak sesuai. Mau sesuai bagaimana jika kurikulum kami kurang mengedepankan pengembangan iptek dan bahasa asing? Pasti beda ceritanya jika dua bidang itu berada pada lingkungan yang tepat. Pasti banyak dan seru sekali proker-proker bidang itu! Menghadapi kenyataan bahwa ktsp 2006 amat sangat kurang mendukung bidang Teknologi dan Strange Language, akhirnya aku memutuskan untuk memantau progress sekbid 9 dan 10. Walaupun alasanku sebenarnya adalah agar aku tidak jauh-jauh dari Miftah dan Yunus yang nyeleneh dan asyik banget saat diajak ngobrol atau nongkrong. Tak lupa pula satu dorongan kecil muncul di hati. "Sekbid 10 saja lha, ada Vanesha di sana.", seru batinku. "Lalu apa hubungannya dengan semua strategi ini?!" Buru akalku geram. Tepat pada tahun baru islam, yaitu tanggal 1 Muharram 1438 H. Neng memberiku sebuah gambar. Seorang siswa sma yang memakai kuffi (kopyah) dan terdapat doa disampingnya. Semoga menjadi menteri pendidikan katanya. Dan semoga menjadi ayah yang baik untuk anak-anakmu. Itu salah satu dari dua kado yang hadir di usiaku yang ke 16. Aku tersanjung, itu 'kan satu-satunya kado yang aku dapat dari seorang wanita. Aku sangat menyukainya meski sebenarnya aku lahir pada tanggal 4 Rajab. Aneh juga.
Sauh angin muson yang mulai berbalik arah dan tujuan menjatuhkan daun-daun kering dari sebuah pohon besar dan rindang. Tulang-tulangnya yang rapuh terdengar merdu saat patah terinjak jejak kaki manusia. Seketika hal itu membuatku tersenyum.Sekaligus bernostalgia pada sebuah film yang berjudul "Mohabbatein" Hehe, benar sekali.Sebuah kisah cinta yang dimulai dengan sehelai daun. Daun mati yang menghembuskan napas cinta. Menjadi penghubung dua hati yang berbeda asal muasalnya. Tentang pemuda yang jatuh cinta pada gadis istimewa. Sayangnya, cinta mereka tak direstui ayah sang gadis karena perbedaan strata sosial. Walaupun sang ayah menolak pinangan dan mengusir pemuda itu lalu sang gadis meninggal dunia, cinta mereka tetap abadi kok. Buktinya, pemuda itu tidak menikahi gadis lain bahkan di hari senjanya ia mengajarkan murid-muridnya tentang makna cinta sejati. Hwaa jadi inget si dia. Kamu dimana neng? Di Baytul Izzah Cimahi? Ah aku tak tahu, kamu lihat awan mendung gak? Syukurlah jika iya. Insyaa Allah di sana terkandung rintik-rintik rinduku yang masih mengkristal. Yang hanya akan jatuh saat langit menghimpun fitrah itu dari semua penjuru. Terjun bebas membasahi gersangnya hati, bersama air hujan yang mengalir tanpa henti. Semoga Allah senantiasa memudahkan dan memberkahi tiap-tiap urusanmu ya.
Jangan menghilang lagi. Sebab hilangmu merusak suasana hati. Jangan pergi tanpa kabar lagi, sebab pergimu selalu saja meyisakan sepi. Jika kau tidak bisa menguatkan aku dengan ada di sampingku. Jangan lemahkan aku dengan keberadaanmu yang tidak menentu. Jika kita tidak mampu bertemu setiap waktu. Setidaknya berusahalah untuk tidak membuatku terlalu lama menunggu. Karena jika kita benar saling jatuh cinta. Kita tidak akan pernah membiarkan hati yang utuh menjadi luka.
Pesan singkat pertamaku padanya adalah lafaz "بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم". Ya karena memang di zaman dahulu short message service sedang booming di kalangan remaja. Seperti halnya whatsapp yang populer di zaman ini. Ada yang lucu saat aku mencoba meminta nomor handphone-nya. Lisanku sangat kesulitan untuk memintanya, rasanya seperti aku tak patut melakukannya. "Anesh, cik nyuhunkeun no. hp na", satu kalimat pendek yang bisa dikatakan dalam 2 detik itu menggelayut di udara tanpa pernah sampai pada pendengarnya. Mujur saja dengan bantuan Miftah aku memperoleh jawaban darinya. Cukup lama kami-Penosis-mengobrol di tepi lapangan, terik pun tak dihiraukan. Entah sedang apa waktu itu, tapi ku ingat hal itu terjadi sekitar minggu pertama tahun ajaran dua ribu enam belas hingga dua ribu tujuh belas. Err, aku tak tahu mengapa setelah masa orientasi siswa baru selesai aku selalu saja kesulitan memulai percakapan dengan Neng. Ah, mungkin karena dia pendiam aku pun jadi tertular sifatnya. Aku yang biasanya ceriwis setiap saat harus takluk dan hening seketika ketika menghadapinya. Mendengar Neng berbicara rupanya jauh lebih berharga bagiku daripada menghamburkan kata-kata dari mulutku. Wah, tidak biasanya aku seperti ini. I just feel ngagok untuk sekedar bertutur sapa dengan Neng karena teman-temanku memiliki kelainan yaitu hypersensitif dan baper di saat-saat kami mulai membangun sebuah obrolan. "Sok, sebatkeun sabaraha ku akang mah ditalar!", Miftah menawarkan solusi. Setelah obrolan "kagok" itu aku dan Miftah langsung pulang, ke rumahnya Miftah sih. "Eh, beraha tadi teh nomer Vanesha tea?", pintaku pada Mif. "089 bla..bla..bla..". Aku jarang sekali mengingat-ngingat nomor kontak seseorang. Membuat memori otakku penuh saja aku rasa, lain lagi dengan Mif yang banyak mengingat orang lewat nomor kontaknya. Setelah selesai urusanku di sana, kali ini aku benar-benar pulang ke tempat tinggalku. Tatapanku tertuju pada layar kecil di tangan, dengan helaan nafas yang panjang aku mulai menjentikkan jariku mengetikkan beberapa kata untuk ku kirim pada Neng. Lagi-lagi aku tak tahu mengapa aku harus melakukan hal aneh seperti itu! Aku hanya merasa hal ini akan menjadi sejarah yang akan aku ingat suatu masa.
***
***
Sauh angin muson yang mulai berbalik arah dan tujuan menjatuhkan daun-daun kering dari sebuah pohon besar dan rindang. Tulang-tulangnya yang rapuh terdengar merdu saat patah terinjak jejak kaki manusia. Seketika hal itu membuatku tersenyum.Sekaligus bernostalgia pada sebuah film yang berjudul "Mohabbatein" Hehe, benar sekali.Sebuah kisah cinta yang dimulai dengan sehelai daun. Daun mati yang menghembuskan napas cinta. Menjadi penghubung dua hati yang berbeda asal muasalnya. Tentang pemuda yang jatuh cinta pada gadis istimewa. Sayangnya, cinta mereka tak direstui ayah sang gadis karena perbedaan strata sosial. Walaupun sang ayah menolak pinangan dan mengusir pemuda itu lalu sang gadis meninggal dunia, cinta mereka tetap abadi kok. Buktinya, pemuda itu tidak menikahi gadis lain bahkan di hari senjanya ia mengajarkan murid-muridnya tentang makna cinta sejati. Hwaa jadi inget si dia. Kamu dimana neng? Di Baytul Izzah Cimahi? Ah aku tak tahu, kamu lihat awan mendung gak? Syukurlah jika iya. Insyaa Allah di sana terkandung rintik-rintik rinduku yang masih mengkristal. Yang hanya akan jatuh saat langit menghimpun fitrah itu dari semua penjuru. Terjun bebas membasahi gersangnya hati, bersama air hujan yang mengalir tanpa henti. Semoga Allah senantiasa memudahkan dan memberkahi tiap-tiap urusanmu ya.
Jangan menghilang lagi. Sebab hilangmu merusak suasana hati. Jangan pergi tanpa kabar lagi, sebab pergimu selalu saja meyisakan sepi. Jika kau tidak bisa menguatkan aku dengan ada di sampingku. Jangan lemahkan aku dengan keberadaanmu yang tidak menentu. Jika kita tidak mampu bertemu setiap waktu. Setidaknya berusahalah untuk tidak membuatku terlalu lama menunggu. Karena jika kita benar saling jatuh cinta. Kita tidak akan pernah membiarkan hati yang utuh menjadi luka.

