Secarik Kilas Balik Eps. 5
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Alhamdulillahirabbil'aalamiin.. Semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmat dan berkatNya kepada Sang Kekasih Nabi Muhammad, keluarganya, sahabatnya, tabi'in atba'uttabi'in, kepada kita semua dan kepada hambaNya yang shalih..
Diterangi remang cahaya lilin yang tersisa, aku menorehkan huruf-huruf ini. Huruf yang pada setiap lentik dan lekuknya mengalir isi hati nurani. Semurni-murninya. Langsung aku cari di kedalaman sang memori. Menelisik, menelusuri muara fitrah untuk tiba di hulu pertamanya. Saat inilah rupanya, harus aku ungkap sedikit harta sederhana yang kupunya. Mendesak. Lelah dan payah menghinggapi jiwaku yang mau tak mau harus menebang pohon-pohon kenangan. Menebas setiap belukar impian yang telah berlalu. Di belantara hutan yang gelap bernama masa lalu. Ya, hari ini Tuhan "memaksaku" untuk masuk kesana, melihat kembali puing-puing itu. Sesuatu yang pernah mencipta sakit, meracun iman. Dalam pasrah aku ikhlash, dalam sesak aku rela.
Mawarku, rasanya tak perlu aku menguntai kata tentang pohon kenangan bernama kehilangan. Semua itu, aku tak berdaya untuk menyingkapnya kembali. But there is one thing. Jauh sebelum aku mengerti kata hilang. Kala aku menunjukkan gambar mawar pertamaku pada ayah, sambil memeluknya dari belakang. "Daddy, look what i can draw, are you happy Daddy?!". Lalu aku dipeluk cium beliau. Kami bergembira. Keindahan yang berganti kepedihan pada akhirnya. So, can you catch a reason here? Ada jawaban mengapa aku sangat menyukai bunga mawar. Bunga itu. Satu-satunya kenangan terindahku dengan ayah. Hanya itu! Dari segelintir kenangan kami yang sedikit. Lama sesudah semua keindahan itu terlewati, aku kembali menemukan sekuntum mawar yang mampu membuatku menengok ke belakang, untuk sejenak mengingati diriku di waktu lalu. Dirimu! Telah ditakdirkan Tuhan untuk membuatku kembali padaNya. Hingga sampai kapan pun, ku yakini sosokmu adalah Mawar terakhirku. Lihatlah, mengapa muncul keyakinan sedahsyat itu?!
Mawarku, aku tak pernah berharap untuk menghinggapimu. Aku pernah bertanya pada Tuhan apakah ini fitnah atau fitrah?.. Maka Tuhan tegaskan kecenderungan hatiku padamu. Aku menangis. Di saat itu pula aku kembalikan segalanya padaNya. Aku bahkan telah merelakanmu sebelum aku mengenalmu. Untuk menguatkan kerelaan itu, aku tulis sesuatu di buku bendahara milikku. "I'll try to kill this feel for my friend's happiness". Bahkan aku belajar pada Kang Den bagaimana cara membatasi interaksi denganmu agar aku tak semakin tertaut padamu. Ingatkah kau saat Tahun Baru Islam tiba, kau memberiku hadiah sebuah gambar. Dan kau mendoakanku agar aku menjadi seorang Pemimpin di masa depan? Andai kau ingat. Itulah satu-satunya hadiah yang pernah aku terima dari orang lain, dari seorang wanita selain ibuku. Betapa tidak aku mengingatmu?! Dalam banyak hal tentang kehidupan, definisi dirimu dalam kamusku adalah kamulah satu-satunya. Dulu sampai sekarang, aku tak pernah sanggup untuk melafazkan kata-kata padamu kala kita bertemu. Tidakkah kau lihat bahwa di saat seperti itu aku sedang mengatakan bahwa Cinta sejati bukanlah apa yang dikatakan oleh lisan, melainkan apa yang diwakili oleh binar indah dari beningnya lensa mata.
Mawarku, engkau pernah bilang bahwa kisah di buku CDI sangat bisa mewakili kisahku. Namun, aku tak sesempurna Atharisena. Yang mampu untuk tetap tabah dalam setiap cobaan yang didapatkannya. Seringkali ujian-ujian itu meracuni keimananku, membuatku terjatuh ke dalam jurang kenistaan. Lalu layakkah aku untuk mencintaimu? Sudah tentu jawabannya adalah belum. Dan lama setelah kelelahan itu, engkau masih saja "bertahan" dan "yakin" akan diriku. Kembali aku menangis. Acapkali aku merasa mengkhianati fitrahmu, aku memohon kepada Tuhan agar engkau mendapatkan sebaik-baik imam bagi orang-orang yang bertaqwa. Engkau wanita yang baik. Aku (masih) lelaki yang keji. Sadarlah aku untuk selalu siap merelakanmu pergi dengan cintamu. Lupakah engkau saat pertama kali melisankan fitrahmu padaku? Di bulan Juni itu kau berkata bahwa kehadiranku banyak memberikan berjuta warna dan makna, dan kau berkata bahwa "Tak ada yang lebih indah daripada saat itu tiba, untuk mengatakan apa yang kita rasakan." Maafkan aku yang malah menghentikan ungkapanmu bahkan sebelum engkau bicara. Tapi lagi, dengan ketulusan hatimu engkau masih menyimpan harapan padaku. "Jika Allah menghendaki,kita akan bertemu kembali. Mungkin di waktu yang tidak di sangka-sangka..", begitu ujarmu. Dan memang di belakang hari kita kembali bertemu. Di serambi sebuah masjid, saat kumpulan waktu itu bersama alumni. Saat kita berebut tugas untuk mengembalikan mangkuk-mangkuk itu kepada pemiliknya. "Ku abi weh.." katamu. Tak mau kalah aku pun berkata, "Ku akang weh..". Tidakkah kau lihat keindahanmu saat itu? Merahnya pipimu dan lugunya sikapmu padaku bermakna satu arti, you have been keeping your hope. Tak lama setelah itu, pada sohibku engkau menitipkan pesan untukku, "Berjuang aja! Ada yang harus dihalalin gitu..". Andaikan kau tahu apa yang aku rasakan saat itu? Ada bahagia yang luar biasa banyak mengalir dalam nadiku. Aku tak lagi berusaha menolak kehadiranmu, untuk kemudian aku merasa wajib memperjuangkanmu.
Mawarku, engkau pernah bilang bahwa kisah di buku CDI sangat bisa mewakili kisahku. Namun, aku tak sesempurna Atharisena. Yang mampu untuk tetap tabah dalam setiap cobaan yang didapatkannya. Seringkali ujian-ujian itu meracuni keimananku, membuatku terjatuh ke dalam jurang kenistaan. Lalu layakkah aku untuk mencintaimu? Sudah tentu jawabannya adalah belum. Dan lama setelah kelelahan itu, engkau masih saja "bertahan" dan "yakin" akan diriku. Kembali aku menangis. Acapkali aku merasa mengkhianati fitrahmu, aku memohon kepada Tuhan agar engkau mendapatkan sebaik-baik imam bagi orang-orang yang bertaqwa. Engkau wanita yang baik. Aku (masih) lelaki yang keji. Sadarlah aku untuk selalu siap merelakanmu pergi dengan cintamu. Lupakah engkau saat pertama kali melisankan fitrahmu padaku? Di bulan Juni itu kau berkata bahwa kehadiranku banyak memberikan berjuta warna dan makna, dan kau berkata bahwa "Tak ada yang lebih indah daripada saat itu tiba, untuk mengatakan apa yang kita rasakan." Maafkan aku yang malah menghentikan ungkapanmu bahkan sebelum engkau bicara. Tapi lagi, dengan ketulusan hatimu engkau masih menyimpan harapan padaku. "Jika Allah menghendaki,kita akan bertemu kembali. Mungkin di waktu yang tidak di sangka-sangka..", begitu ujarmu. Dan memang di belakang hari kita kembali bertemu. Di serambi sebuah masjid, saat kumpulan waktu itu bersama alumni. Saat kita berebut tugas untuk mengembalikan mangkuk-mangkuk itu kepada pemiliknya. "Ku abi weh.." katamu. Tak mau kalah aku pun berkata, "Ku akang weh..". Tidakkah kau lihat keindahanmu saat itu? Merahnya pipimu dan lugunya sikapmu padaku bermakna satu arti, you have been keeping your hope. Tak lama setelah itu, pada sohibku engkau menitipkan pesan untukku, "Berjuang aja! Ada yang harus dihalalin gitu..". Andaikan kau tahu apa yang aku rasakan saat itu? Ada bahagia yang luar biasa banyak mengalir dalam nadiku. Aku tak lagi berusaha menolak kehadiranmu, untuk kemudian aku merasa wajib memperjuangkanmu.
“Anesh teh bogoh ka Akang?”
”Ya”
“Terus gimana sekarang?”
“Ya, jalani masing-masing aja dulu.”
“Nikah, yuk!”, ajakku.
Cukup lama engkau terdiam dan tak membalas
chat dariku.
“Ehh.. hayu.”
“Mana ayahnya atuh?”
“Gak ada. Lagi di Gorontalo”
“Kapan pulangnya dan bla..bla..bla..”, aku mencoba mencairkan suasana yang sedang membeku. Itulah pertama kalinya aku mengajak seseorang
untuk menikah. Dan percayakah engkau? Setiap momen dimana
aku mengajakmu menikah, aku meniatkannya dengan amat sungguh-sungguh. Aku sudah
siap dengan maharku. Dengan Surah Ar-Rahmaan favoritmu. Dengan buku-buku
pernikahan. Dengan ilmu dari guru-guruku. Dengan pengalaman keluargaku. Dan
dengan tekadku untuk dapat menafkahi kita nantinya. Tapi pada satu titik, saat
aku terpuruk, engkau memberikan jawaban yang membuat batinku resah. “Gimana
Allah”, katamu. Deg. “Hilangkah
fitrah itu dari hatimu?” Aku su’uzhan. Padahal kemudian hari aku sadar bahwa
itulah caramu untuk melepaskanku. Mengikhlaskanku. Aku pun pergi dan membuat
keputusan besar dalam hidupku. I have already decided to drop out from Unpad.
Mawarku,
tahukah engkau ketakhadiranku dalam hari-harimu sangat berhubungan dengan
kebenarianmu untuk melepaskanku? Aku kalah jauh darimu. Dari segi ritual maupun
sosial, engkau shalihah sekali aku lihat. Sementara aku? Hal ini semakin
membuat hatiku mantap untuk merekonstruksi keimanan yang salah di hatiku.
Setelah istikharah dan musyawarah,
aku benar-benar melakukannya. Aku kirimkan sepucuk surat pengunduran diri
kepada pihak yang memberi kesempatan emas untuk dapat mengubah keadaan hidupku.
Ya, aku bermimpi untuk bisa menjadi seorang Alchemist. Bergabung dengan para
ilmuwan lainnya di Royal Society of Chemistry, UK. Membuat solusi perdamaian segala
konflik di dunia. Membangun sistem anti-nuclear.
Dan yang paling besar adalah, menemuka cara untuk mengulangi keberhasilan
teknologi kuno zaman Rasulullah bernama nanocarbon
technology. Teknologi yang membuat sebilah pedang mampu membelah batu dan
merobek besi. Memotong sehelai kain yang terbang di udara. Dan memenangkan
peperangan melawan Pasukan Perang paling terkenal di muka bumi, pasukan Romawi.
Mimpi besarku ini aku lepas hanya agar aku mampu mendekatkan diriku pada Tuhan.
Memantaskan diri di hadapanNya. Kembali pada pelukanNya. Membimbing keluargaku. Dan.. agar aku bisa menjalani
hari-hari tuaku dengan memelukmu. Aku bertekad akan pergi sangat jauh jika saja aku menjadi ilmuwan. Lalu aku terlalu ragu untuk membuat
jarak diri kita semakin jauh. Meski aku sadari timur dan barat sekalipun tak
cukup untuk memisahkan sejoli hati. Aku tetap mengambil keputusan ini. Meski aku tak
tahu apakah engkau memang tercipta dari rusukku? Aku hanya meyakininya. Dibalik
itu, ada satu lagi mimpiku yang mungkin sudah engkau ketahui. Inilah mimpi yang
benar-benar berasal dari dalam hatiku. Aku bermimpi untuk menjadi seorang
Pemimpin. Pemimpin rumah tangga, Perusahaan, Organisasi, Pemimpin sebuah Bangsa hingga Pemimpin hamba Tuhan yang bertaqwa. Dan sampai detik ini, belum ada satu
pun mimpiku yang terwujud. Tak apa. Karena aku tahu pasti bahwa Tuhan akan
mewujudkannya suatu masa nanti. Di dunia ataupun akhirat. Intiku, engkaulah
awal dari semua mimpi-mimpiku. Aku meyakini ini semua setelah Tuhan
mengamanahiku untuk mengimami banyaknya shalatmu. Bahkan dalam keadaan khusus
kita pernah hanya berdua di masjid. Disaksikan tatapan menggoda Kang Irvan
dengan Kang Mif yang memilih kabur ke gerbang sekolah meninggalkan kita saat
hujan.
Mawarku, tahukah engkau betapa perihnya
luka di jiwaku saat engkau terpuruk di sana? Sementara aku tak bisa berbuat
apa-apa bahkan aku tak ada. I just can sent my pray. Seringkali engkau
menangis. Dan pada saat itulah aku tak tahan. Satu lagi keajaiban yang Tuhan lakukan. Tepat di tanggal 1 Ramadhan kemarin aku jatuh sakit, dan di hari kedua aku benar-benar tak sanggup berpuasa. Itu semua terjadi saat aku mencoba menulis sebuah surat untukmu, surat yang akhirnya sampai padamu. Aku sakit karena kenangan tentangmu membuatku amat rindu. Benar-benar rindu. “Duhai kasih, surutkanlah air matamu. Jangan membuatku merasa
bersalah. Ingin rasanya ku peluk dirimu dan ku hapus genang keresahan di
kelopak matamu. Tenanglah, Tuhan pasti menolongmu. Maafkan aku, hari ini aku
belum halal untukmu.”
Itulah sepenggal jeritan batinku, seseorang yang tak pernah berharap mencintaimu. Kelak jika kau temukan seseorang yang lebih baik dariku segalanya, maka pergilah bersamanya. Dan akan selalu kusyukuri setiap cinta yang tumbuh itu dengan bulir-bulir air mata.

