Selasa, 27 November 2018

Secarik Kilas Balik Eps. 5

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 Alhamdulillahirabbil'aalamiin.. Semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmat dan berkatNya kepada Sang Kekasih Nabi Muhammad, keluarganya, sahabatnya, tabi'in atba'uttabi'in, kepada kita semua dan kepada hambaNya yang shalih..

Diterangi remang cahaya lilin yang tersisa, aku menorehkan huruf-huruf ini. Huruf yang pada setiap lentik dan lekuknya mengalir isi hati nurani. Semurni-murninya. Langsung aku cari di kedalaman sang memori. Menelisik, menelusuri muara fitrah untuk tiba di hulu pertamanya. Saat inilah rupanya, harus aku ungkap sedikit harta sederhana yang kupunya. Mendesak. Lelah dan payah menghinggapi jiwaku yang mau tak mau harus menebang pohon-pohon kenangan. Menebas setiap belukar impian yang telah berlalu. Di belantara hutan yang gelap bernama masa lalu. Ya, hari ini Tuhan "memaksaku" untuk masuk kesana, melihat kembali puing-puing itu. Sesuatu yang pernah mencipta sakit, meracun iman. Dalam pasrah aku ikhlash, dalam sesak aku rela.

Mawarku, rasanya tak perlu aku menguntai kata tentang pohon kenangan bernama kehilangan. Semua itu, aku tak berdaya untuk menyingkapnya kembali. But there is one thing. Jauh sebelum aku mengerti kata hilang. Kala aku menunjukkan gambar mawar pertamaku pada ayah, sambil memeluknya dari belakang. "Daddy, look what i can draw, are you happy Daddy?!". Lalu aku dipeluk cium beliau. Kami bergembira. Keindahan yang berganti kepedihan pada akhirnya. So, can you catch a reason here? Ada jawaban mengapa aku sangat menyukai bunga mawar. Bunga itu. Satu-satunya kenangan terindahku dengan ayah. Hanya itu! Dari segelintir kenangan kami yang sedikit. Lama sesudah semua keindahan itu terlewati, aku kembali menemukan sekuntum mawar yang mampu membuatku menengok ke belakang, untuk sejenak mengingati diriku di waktu lalu. Dirimu! Telah ditakdirkan Tuhan untuk membuatku kembali padaNya. Hingga sampai kapan pun, ku yakini sosokmu adalah Mawar terakhirku. Lihatlah, mengapa muncul keyakinan sedahsyat itu?!

Mawarku, aku tak pernah berharap untuk menghinggapimu. Aku pernah bertanya pada Tuhan apakah ini fitnah atau fitrah?.. Maka Tuhan tegaskan kecenderungan hatiku padamu. Aku menangis. Di saat itu pula aku kembalikan segalanya padaNya. Aku bahkan telah merelakanmu sebelum aku mengenalmu. Untuk menguatkan kerelaan itu, aku tulis sesuatu di buku bendahara milikku. "I'll try to kill this feel for my friend's happiness". Bahkan aku belajar pada Kang Den bagaimana cara membatasi interaksi denganmu agar aku tak semakin tertaut padamu. Ingatkah kau saat Tahun Baru Islam tiba, kau memberiku hadiah sebuah gambar. Dan kau mendoakanku agar aku menjadi seorang Pemimpin di masa depan? Andai kau ingat. Itulah satu-satunya hadiah yang pernah aku terima dari orang lain, dari seorang wanita selain ibuku. Betapa tidak aku mengingatmu?! Dalam banyak hal tentang kehidupan, definisi dirimu dalam kamusku adalah kamulah satu-satunya. Dulu sampai sekarang, aku tak pernah sanggup untuk melafazkan kata-kata padamu kala kita bertemu. Tidakkah kau lihat bahwa di saat seperti itu aku sedang mengatakan bahwa Cinta sejati bukanlah apa yang dikatakan oleh lisan, melainkan apa yang diwakili oleh binar indah dari beningnya lensa mata.

Mawarku, engkau pernah bilang bahwa kisah di buku CDI sangat bisa mewakili kisahku. Namun, aku tak sesempurna Atharisena. Yang mampu untuk tetap tabah dalam setiap cobaan yang didapatkannya. Seringkali ujian-ujian itu meracuni keimananku, membuatku terjatuh ke dalam jurang kenistaan. Lalu layakkah aku untuk mencintaimu? Sudah tentu jawabannya adalah belum. Dan lama setelah kelelahan itu, engkau masih saja "bertahan" dan "yakin" akan diriku. Kembali aku menangis. Acapkali aku merasa mengkhianati fitrahmu, aku memohon kepada Tuhan agar engkau mendapatkan sebaik-baik imam bagi orang-orang yang bertaqwa. Engkau wanita yang baik. Aku (masih) lelaki yang keji. Sadarlah aku untuk selalu siap merelakanmu pergi dengan cintamu. Lupakah engkau saat pertama kali melisankan fitrahmu padaku? Di bulan Juni itu kau berkata bahwa kehadiranku banyak memberikan berjuta warna dan makna, dan kau berkata bahwa "Tak ada yang lebih indah daripada saat itu tiba, untuk mengatakan apa yang kita rasakan." Maafkan aku yang malah menghentikan ungkapanmu bahkan sebelum engkau bicara. Tapi lagi, dengan ketulusan hatimu engkau masih menyimpan harapan padaku. "Jika Allah menghendaki,kita akan bertemu kembali. Mungkin di waktu yang tidak di sangka-sangka..", begitu ujarmu. Dan memang di belakang hari kita kembali bertemu. Di serambi sebuah masjid, saat kumpulan waktu itu bersama alumni. Saat kita berebut tugas untuk mengembalikan mangkuk-mangkuk itu kepada pemiliknya. "Ku abi weh.." katamu. Tak mau kalah aku pun berkata, "Ku akang weh..". Tidakkah kau lihat keindahanmu saat itu? Merahnya pipimu dan lugunya sikapmu padaku bermakna satu arti, you have been keeping your hope. Tak lama setelah itu, pada sohibku engkau menitipkan pesan untukku, "Berjuang aja! Ada yang harus dihalalin gitu..". Andaikan kau tahu apa yang aku rasakan saat itu? Ada bahagia yang luar biasa banyak mengalir dalam nadiku. Aku tak lagi berusaha menolak kehadiranmu, untuk kemudian aku merasa wajib memperjuangkanmu.

“Anesh teh bogoh ka Akang?”
”Ya”
“Terus gimana sekarang?”
“Ya, jalani masing-masing aja dulu.”
“Nikah, yuk!”, ajakku.

Cukup lama engkau terdiam dan tak membalas chat dariku.

“Ehh.. hayu.”
“Mana ayahnya atuh?”
“Gak ada. Lagi di Gorontalo”
“Kapan pulangnya dan bla..bla..bla..”, aku mencoba mencairkan suasana yang sedang membeku.  Itulah pertama kalinya aku mengajak seseorang untuk menikah. Dan percayakah engkau? Setiap momen dimana aku mengajakmu menikah, aku meniatkannya dengan amat sungguh-sungguh. Aku sudah siap dengan maharku. Dengan Surah Ar-Rahmaan favoritmu. Dengan buku-buku pernikahan. Dengan ilmu dari guru-guruku. Dengan pengalaman keluargaku. Dan dengan tekadku untuk dapat menafkahi kita nantinya. Tapi pada satu titik, saat aku terpuruk, engkau memberikan jawaban yang membuat batinku resah. “Gimana Allah”, katamu. Deg. “Hilangkah fitrah itu dari hatimu?” Aku su’uzhan. Padahal kemudian hari aku sadar bahwa itulah caramu untuk melepaskanku. Mengikhlaskanku. Aku pun pergi dan membuat keputusan besar dalam hidupku. I have already decided to drop out from Unpad.

Mawarku, tahukah engkau ketakhadiranku dalam hari-harimu sangat berhubungan dengan kebenarianmu untuk melepaskanku? Aku kalah jauh darimu. Dari segi ritual maupun sosial, engkau shalihah sekali aku lihat. Sementara aku? Hal ini semakin membuat hatiku mantap untuk merekonstruksi keimanan yang salah di hatiku. Setelah istikharah dan musyawarah, aku benar-benar melakukannya. Aku kirimkan sepucuk surat pengunduran diri kepada pihak yang memberi kesempatan emas untuk dapat mengubah keadaan hidupku. Ya, aku bermimpi untuk bisa menjadi seorang Alchemist. Bergabung dengan para ilmuwan lainnya di Royal Society of Chemistry, UK. Membuat solusi perdamaian segala konflik di dunia. Membangun sistem anti-nuclear. Dan yang paling besar adalah, menemuka cara untuk mengulangi keberhasilan teknologi kuno zaman Rasulullah bernama nanocarbon technology. Teknologi yang membuat sebilah pedang mampu membelah batu dan merobek besi. Memotong sehelai kain yang terbang di udara. Dan memenangkan peperangan melawan Pasukan Perang paling terkenal di muka bumi, pasukan Romawi. Mimpi besarku ini aku lepas hanya agar aku mampu mendekatkan diriku pada Tuhan. Memantaskan diri di hadapanNya. Kembali pada pelukanNya. Membimbing keluargaku. Dan.. agar aku bisa menjalani hari-hari tuaku dengan memelukmu. Aku bertekad akan pergi sangat jauh jika saja aku menjadi ilmuwan. Lalu aku terlalu ragu untuk membuat jarak diri kita semakin jauh. Meski aku sadari timur dan barat sekalipun tak cukup untuk memisahkan sejoli hati. Aku  tetap mengambil keputusan ini. Meski aku tak tahu apakah engkau memang tercipta dari rusukku? Aku hanya meyakininya. Dibalik itu, ada satu lagi mimpiku yang mungkin sudah engkau ketahui. Inilah mimpi yang benar-benar berasal dari dalam hatiku. Aku bermimpi untuk menjadi seorang Pemimpin. Pemimpin rumah tangga, Perusahaan, Organisasi, Pemimpin sebuah Bangsa hingga Pemimpin hamba Tuhan yang bertaqwa. Dan sampai detik ini, belum ada satu pun mimpiku yang terwujud. Tak apa. Karena aku tahu pasti bahwa Tuhan akan mewujudkannya suatu masa nanti. Di dunia ataupun akhirat. Intiku, engkaulah awal dari semua mimpi-mimpiku. Aku meyakini ini semua setelah Tuhan mengamanahiku untuk mengimami banyaknya shalatmu. Bahkan dalam keadaan khusus kita pernah hanya berdua di masjid. Disaksikan tatapan menggoda Kang Irvan dengan Kang Mif yang memilih kabur ke gerbang sekolah meninggalkan kita saat hujan.

Mawarku, tahukah engkau betapa perihnya luka di jiwaku saat engkau terpuruk di sana? Sementara aku tak bisa berbuat apa-apa bahkan aku tak ada. I just can sent my pray. Seringkali engkau menangis. Dan pada saat itulah aku tak tahan. Satu lagi keajaiban yang Tuhan lakukan. Tepat di tanggal 1 Ramadhan kemarin aku jatuh sakit, dan di hari kedua aku benar-benar tak sanggup berpuasa. Itu semua terjadi saat aku mencoba menulis sebuah surat untukmu, surat yang akhirnya sampai padamu. Aku sakit karena kenangan tentangmu membuatku amat rindu. Benar-benar rindu. “Duhai kasih, surutkanlah air matamu. Jangan membuatku merasa bersalah. Ingin rasanya ku peluk dirimu dan ku hapus genang keresahan di kelopak matamu. Tenanglah, Tuhan pasti menolongmu. Maafkan aku, hari ini aku belum halal untukmu.

Itulah sepenggal jeritan batinku, seseorang yang tak pernah berharap mencintaimu. Kelak jika kau temukan seseorang yang lebih baik dariku segalanya, maka pergilah bersamanya. Dan akan selalu kusyukuri setiap cinta yang tumbuh itu dengan bulir-bulir air mata.

Label: ,

Our last (but not least) Conversation

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 Masih ingatkah engkau saat terakhir kali kita bertukar kabar, sebisa mungkin aku mengabadikan momen-momen seperti itu. Hari ini, biarkan aku menemuimu, walau bukan dengan ragaku!

Assalamu'alaikum Wr.Wb.,
Annyeong! Aahh kamu masih inget kan apa artinya, atau.. mungkin kamu udah lupa, wajar aja sih.. tujuan nulis ini bukan karena tujuan yang tidak penting, tapi aku hanya ingin jujur dengan segala hal yang terjadi setelah semua itu lepas. Lebih tepatnya lepas lalu ikhlas. I have done it, bahkan sudah 50% aku tidak mengingat hal itu. Hebat kan?
Gimana kabarnya? Everything is all right or something is wrong?.. semoga semuanya baik. Udah beberapa tidak ada notification dari kamu, awalnya aku bersyukur bahkan bisa memendam semuanya sendiri, berlagak segala hal yang datang baik-baik saja, tapi nyatanya pangeran shin dalam princess hours benar, "aku mungkin bisa melepasmu sekarang, membiarkanmu pergi ke tempat asalmu, tapi setiap hari aku melihat dan berbincang denganmu, lalu kalau kau pergi, apakah aku bisa hidup tanpamu?" lebih tepatnya seperti itu. Dan beberapa hari terlewati masalah-masalah itu pun muncul seiring tak terhentikan oleh waktu, seakan-akan terus masuk ke dalam hidup ini, aku tidak tahu kenapa itu terjadi, tapi percayalah di saat-saat seperti itu I need someone someone who can accept my problem story, saat itu kebetulan sudah tidak ada notif tentang kamu, dan benar-benar rasanya beda. Dulu setiap kali aku sedikit saja mengalami kesulitan kamu langsung membahas itu lalu memberi solusi walaupun terkadang aku egois tidak mau menerima saran-saranmu itu, mungkin orang yang paling bisa mengerti di saat aku dalam lingkaran itu kamu, aku tidak akan munafik kalau harus mengakui teman-temanku yang lain lebih bisa mengerti, tapi sekarang aku sadar mereka semua tidak bisa seperti kamu yang sangat bisa memahami, bisa lebih peka di saat moodku hancur, kita punya banyak kesamaan karena itulah setiap kali aku cerita tentang hal apa pun itu aku percaya kamu pasti bisa menghargai ceritaku itu, kamu jangan minta maaf lagi karena segala hal yang kita impikan tidak akan menjadi nyata untuk sekarang, tapi percayalah Allah akan selalu memberi pertoolongan kepada orang baik seperti kamu.
Kamu pernah bilang kalau setiap kata-kata yang kita tulis atau posted pasti selalu mewakili isi hati, tapi dengan bohongnya aku berkata kalau tidak semua kata-kata bisa mewakili isi hati. Dan sekarang aku akan jujur, kamu benar memang semua kata-kata selalu mewakili isi hati,. Dan dengan jujurnya sekarang aku mengakui bahwa saat kamu sudah tidak ada, salah satu unsur itu juga hilang, iya senyawa kebahagiaan yang aku punya sekarang kehilangan salah satu unsurnya. Dengan jujurnya sekarang aku sekarang mengakui bahwa unsur yang selalu mendengarkan keluh kesah, unsur yang selalu memberikan petuah-petuahnya yang panjang lebar bahkan kisah hidupnya yang tidak banyak orang ketahui pun serasa bermakna untukku, karena tidak semua orang bisa mengerti jalan pikiranmu dan hidupmu, dan sekarang unsur itu lepas entah kemana. Aku terkadang berfikir apakah kamu di sana sudah hidup lebih baik atau sama saja atau bahkan lebih buruk dari itu, atau mungkin kamu sudah benar-benar lupa dengan apa yang pernah terjadi? aku hanya ingin unsur itu kembali, aku tidak peduli apakah kamu yang tetap akan kembali menjadi unsur itu atau akan ada orang lain yang akan menggantikan posisi itu, sejauh ini belum ada yang bisa menggantikan posisi itu, walaupun banyak yang hinggap tapi mereka tidak bisa mengerti apa yang sedang aku alami, mereka yang hinggap hanya tahu aku baiknya saja tapi tidak buruknya.
Terserah kamu apakah kamu akan kembali dengan menjadi unsur yang sama ataukah memang unsurmu itu tidak bisa lagi menyatu denganku, kamu orang baik, otak encer, walaupun bukan dari keluarga berada tapi kamu punya skill yang menurutku itu sangat membantu dan bisa menjadi peluang kamu untuk sukses, ingatlah kalau tidak semua hal bisa dikerjakan dengan uang, aku juga merasakan betapa susahnya posisi kita di saat uang menjadi penghambat mimpi-mimpi itu, tapi percayalah untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu bukan uang yang menjadi faktor utama, tapi tekad dalam diri, kalau kamu memang bertekad menjadi orang sukses, uang satu perak pun akan bisa menjadi satu triliun. Trust me.
Aku berharap kepada Allah agar Dia mengirim seseorang yang bisa menjadi unsur itu, unsur yang bisa membuatku lebih bahagia, aku ingin itu menjadi kado untukku dariNya.

19 Juni 2018
Salam dari pengagum bunga mawar
untuk juragan kimia.

Partner bendaharamu,

Vanadium Astatin


***


Err.. sorry, i am so speechless. I'm talking with Mrs. Chemistry, right? Maaflah neng, baru bisa bertukar kabar hari ini, terlambatkah aku? Hmm.. Intimu, kamu ingin unsur itu kembali? Sepertinya kamu sedang mengalami sesuatu yang pernah aku lalui. Bicaralah, Tuhan dan aku akan mendengar. Selebihnya aku jawab setahuku, coba 'tuk sekedar mengurai gundah di hatimu.
Iya aku lupa, kan gurunya udah lama gak ngajarin bahasa ko eR, artinya "halo" kan? Aku bersyukur kau memberitahu kabarmu dan terbuka atas sepotong masalahmu. Sejujurnya aku tak tahu harus bilang apa, secara tak sengaja aku menemukan kau menulis sesuatu di blogmu dan kau menghapus post di akun instagrammu. Awalnya aku fikir kau telah menemukan kebahagiaan, namun nyatanya Tuhan membuatku kembali berpapasan denganmu di gurun kehidupan ini. Kamu memang hebat dalam hal melepaskan, tapi rupanya aku yang lebih dulu sampai di satu kota bernama Keikhlashan. Mungkin akan ku bahas lain waktu.

At least, everything will be okay.. Hanya saja sering kita temui sesuatu yang menoreh luka di hati pada awalnya. Dan kabarmu? mungkin tak perlu ku tanyakan lagi karena ku baca coretan jiwamu melukiskan hati yang cacat kebahagiaan, jeritan yang persis sama dengan apa yang pernah ku keluhkan pada Tuhan dahulu. Jika begitu adanya, mengapa tidak kau telfon saja aku? atau.. Tidakkah kau ingin bertemu denganku? Nasib baikmu, sekarang kau pun tahu aku bukan Tuhan yang selalu ada untukmu. Dialah sebaik-baik cinta dari segala cinta sejati, Sesuatu yang selalu menemanimu menempuh perjalanan hidup. Nah, sekarang satu harap kecilmu dikabulkanNya. Kita berpapasan lagi di kota yang berbeda setelah jauh berpisah di kota-kota sebelumnya. Pantaskah aku menjadi kado untukmu dariNya? entah, yang jelas adalah Tuhan tak pernah menghapusmu dari hatiku. Meski segala fitrah telah ku lepas kembali padaNya namun rupanya keyakinan itu masih tumbuh, sampai detik ini. Malah Dia mengantarku sekali lagi untuk mengetahui-dan peduli-sesuatu tentangmu. Tentang mimpi-mimpi itu, biarlah Tuhan himpunkan segalanya tanpa sisa! Imanku, setiap kenyataan selalu berawal dari sebuah keyakinan yang nyata.

Tahukah kau siapa itu kebahagiaan? bagiku kebahagiaan sejati adalah ketenangan hati. Dan untuk itu aku harus pergi, melepaskan jiwa dari jerat-jerat nafsu duniawi hingga lepas sudah ketergantunganku pada zat-zat yang fana. Sekarang, saat aku benar-benar rela dan berhasil menyembuhkan diri, Tuhan kembali menaruh amanah-amanah yang pernah ku genggam dulu dengan tanganku. Termasuk amanah untuk menjadi salah satu unsur kebahagiaanmu.Aku tak tahu, aku sangat takut, mampukah aku mengemban semua ini? Kau pun tahu aku tak pernah percaya diri untuk ini. Semoga Allah berikan kekuatanNya padaku dan padamu.Seperti biasa, aku tak bisa mengajukan diri. Aku tak sebaik mereka yang hinggap pada mawar secantik dirimu. Terserah kamu apakah aku layak untuk kembali padamu sebagai unsur yang sama atau sudah kau temu satu pengganti? Aku mohon, temukanlah ruang spiritualmu, ruang dimana hanya ada kau dan Tuhan agar kita sentiasa terus beriringan tanpa harus melanggar duri-duri Illahi. Kala kau merasa berat atas beban yang kau tanggung, pulangkan hatimu pada Allah! Just let it go away! i know it's hard but believe and keep trying, and it will be okay.. Peluklah kerinduanku di setiap ujung tasbih lima waktu, pesanmu akan sampai padaku seperti semua ini. Percayalah bahwa saat kau menghadapkan wajahmu pada wajahNya, aku pun seringkali menghadap qiblat yang sama dalam shalatku, dalam gundahku, dalam suka dan dukaku, dalam dluha ataupun dalam tahajjudku karena aku pun percaya, padaNya doa berujung dan pada cintaNya sejoli hati bertemu.

Hakmu menentukan siapa yang 'kan jadi unsur itu, sesuatu yang menjadi labuhan hatimu. Tapi ingatlah, jika satu masa nanti kau lelah dan tak tahu lagi harus kemana, tengoklah ke belakang! Selalu ada ruang di hatiku untuk mawar terakhirku.



Sabtu, 9 Syawal 1439 Hijriah
salam dari Tuan Cinta
untuk Nona Kimia


Tutor seksibidangmu,

Delima Istimewa 





 PS. May Allah save you in His love, wish you good health always, wish you have a long life with a bless deeds, and may Allah grant all your prayers and goals..

Label: